Lebaran tahun ini tidak ada acara mudik, tidak juga pulang kampung, walaupun tempat tujuanya sama, tapi belakangan ini pengertianya sempat jadi perdebatan, dan saya tidak mau terlibat dalam perdebatan itu, karena saya memang tidak mudik.
Sebenarnya tiap tahun saya mudik sekaligus tidak mudik, kalau dimaknai sebagai bepergian mengunjungi kampung halaman. Karena saya mempunyai hubungan emosianal yang sangat spesial dengan beberapa tempat yang pernah saya tinggali, tempat tempat tersebut adalah jember, pulau rimau, lamongan dan palembang, yang semuanya saya anggap sebagai kampung halaman.
Ini bukan klaim sepihak, tapi benar benar pengakuan dua belah pihak.
Saya lahir di jember, dan nenek moyang saya juga orang jember, jadi tidak salah kalau saya menganggapnya sebagai kampung halaman, walaupun umur 6 tahun diajak hijrah ke pulau rimau, tapi SMP saya kembali sekolah di jember.
Kampung halaman kedua saya adalah pulau rimau, saya menghabiskan masa kecil di sana, juga kedua orang tua saya alhamdulillah masih sugeng dan tinggal di sana, jadi tiap tahun saya usahakan untuk sowan kesana, sungkem sama beliau.
Tempat berikutnya adalah lamongan, sebenarnya masa tinggal di lamongan tidak lama, hanya 3 tahun waktu sekolah aliyah, tapi kenangan dan hubungan emosionalnya luar biasa, karena disanalah saya belajar jadi orang, hingga tiap tahun para kerabat dan sahabat menanyakan tahun ini mudik gak (maksudnya mudik ke lamongan), dan tiap tahun pula saya membuat kami kecewa.
Kampung halaman terahir adalah palembang, karena rumah saya di palembang, kenapa pulang ke palembang saya anggap mudik, karena sehari hari saya tinggal di rumah kebun.
Tapi sebenarnya ritual tahunan pulang kampung itu juga kurang tepat kalau disebut mudik, jika dilihat dari asal kata yang adalah lawan dari kata hilir, yang juga persamaan kata dari kata hulu, hulu berarti daerah awal aliran sungai, atau daerah dataran tinggi, sementara hilir adalah daerah tujuan aliran sungai atau pesisir. Karena mungkin dulu daerah peaisir lebih maju maka ketika menyebut orang kampung yang dianggap masih terbelakang, disebut dengan sebutan "orang udik", padahal bisa jadi kampungnya adalah daerah hilir, daerah pesisir.
Teringat pertanyaan konyol pada ibu yang mengurus mess tempat kami bekerja setiap kali menjelang liburan,
" Ibu tidak mudik ?"
" Mudik kemana pak, kan rumah saya di hilir."
Jawaban ibu mess tadi sukses membuat saya terlihat bodoh, konyolnya lagi lidah saya masih suka latah mengulang pertanyaan yang sama saat menjelang liburan berikutnya lagi.
Di sepanjang aliran sungai musi dan anak anak sungai yang bermuara di sungai musi, pada saat saat tertentu terutama pada saat air tinggi, biasanya ada rombongan ribuan anak ikan yang berenang melawan arus ke arah hulu, yang membuat banyak orang berjejer memasang tangkul sepanjang pinggiran sungai untuk menangkap ikan, pada saat itulah mereka panen, panen "ikan mudik".
Jadi kalau mau disebut betul betul mudik, saya harus melakukan safari dari mulai pulau rimau, jember, lamongan kemudian kembali lagi ke palembang, bisa bisa jebol bandar saya. Tepi andaikan sudah begitu tidak bisa juga disebut mudik, karena daerah daerah itu ternyata adalah daerah pesisir, daerah hilir, bukan daerah udik.
Ternyata mudikku tidak bisa benar benar menjadi mudik yang "kaffah".
" Liburan nanti mudik gak pak? "
" Tidak, karena saya pulang ke hilir".
Ini baru benar.

Wow senakin asyeek, sawit blum jd cerpen, tapi Wis jd puusi
BalasHapusTulisane emha, gunawan mohamad layak sbg referensi ungkapan
BalasHapusSuwun mas, saya juga pengagum emha
BalasHapusAsyek, kurvanya naik, puncaknya lama ini. Dan tdk akan melandai sebab bukan kurva covid. Kalau disebut muhajirin, hijrah sampean bercanang cabang.😁
BalasHapusAamiin..
BalasHapus