Adek Bita "Sang Bidadari"


"Ayah kan adek bita",  protesnya sambil merengut menangis berlari ke arah kamar menumpahkan kesalnya.

Umurnya belum genap tiga tahun, tapi perbendaharaan katanya sudah lumayan lengkap, hanya kadang kadang cara menyusun kalimatnya yang masih amburadul sering terbalik balik.

Dia protes ketika ditegur mbaknya karena mencoba ikut ikutan memanjat meja menemani ayahnya yang sedang merapikan plesteran di dinding sebelum di cat ulang.

Dia protes karena merasa dihalangi untuk membantu dan berdekatan dengan ayahnya, karena menurutnya ayah yang akan dibantunya adalah miliknya juga, bukan hanya monopoli milik mbak, hanya karena caranya menyusun kalimat belum sempurna sehingga yang keluar dari mulutnya jadi berbeda.

Kami memanggilnya "Adek Bita" karena dia anak paling kecil, nama lengkapnya adalah Alima Tsabita, nama tersebut kami berikan dengan harapan dia menjadi wanita yang alim, berilmu, punya pendirian, dan bisa menjaga integritas, nama yang kami ambil dari bahasa arab dengan sedikit modifikasi, "aalimah tsaabitah".

Dalam usia segitu, kemampuanya untuk meniru apa yang ia lihat sangat cepat, kegemaranya akan film kartun upin dan ipin betul betul mempengaruhi gaya bahasa dan tingkah lakunya.

"Ayah, pinjam HP boleh?", suatu ketika ia minta izin untuk dipinjamkan HP, selalu dengan bahasa yang sama yang sebenarnya lebih mirip permohonan dengan pemaksaan.

"Boleh lah, boleh lah, boleh lah", selalu seperti itu jika permohonanya tidak kunjung dikabulkan, dengan wajah dibuat memelas, yang sebenarnya malah terlihat lucu.

Kata kata "maaf" dan "terima kasih" ringan sekali diucapkanya, kata kata yang kadang terasa berat bagi orang orang dewasa, walaupun sebenarnya ucapan terima kasih itu untuk hal hal yang kecil, hanya sekedar mengambilkan minum atau membantunya mengganti baju,

"terima kasih ayah, adek bita sayang ayah",  ucapnya sambil memberikan pelukan.

Sore tadi ketahuan ibunya,
"Celana adek kok basah?"

"Maaf, adek bita salah, tadi pipis di tangga", dengan senyum malu malu minta pemakluman.

"Ibu tidak marah?", lanjutnya untuk memastikan.

Pantas saja dia tadi mendahului turun dari lantai dua lebih cepat, rupanya karena sudah tidak tahan ingin buru buru ke kamar mandi, ruangan di lantai dua kami manfaatkan sebagai mushola keluarga untuk sholat berjamaah, dan posisi kamar mandinya memanfaatkan ruang kosong dibawah tangga.

Mungkin sesuai namanya, adek bita mempunyai pendirian yang kuat, siapapun akan didebatnya jika tidak sesuai dengan pendapatnya, termasuk ayah dan ibunya, di rumah adek bita menjadi dominan, semua ingin diaturnya.

Satu hal yang paling bikin dia marah adalah ketika ayahnya tertawa, ketika ayahnya tertawa dengan alasan yang tidak diketahuinya, mungkin takut malu kalau dianggap konyol di depan ayahnya.

Menjadi ayah "rapelan" kadang memang perlu perjuangan, menciptakan quality time satu hari untuk menggantikan ketidakhadiran selama dua minggu juga tidak gampang, tapi momen ini dimanfaatkan betul oleh adek bita, mumpung ayah ada di rumah, mulai dari mandi, ganti baju, makan, bikin susu, semua minta sama ayah, belum lagi menemani main bola dan kuda kudaan. Di sisi lain secara bersamaan juga harus berperan sebagai ayah "rapelan" untuk mbak dan kakak, juga berperan sebagai suami "rapelan" dan kepala keluarga "rapelan".

Tapi semua terbayar lunas ketika melihat lesung pipit adek bita, ketika senyumnya merekah bahagia bisa bercengkerama dengan ayah, penatnya seharian sabtu yang padat nyaris tanpa istirahat seolah tidak terasa lagi, suasana hangatnya mengatasi dinginya berkendara senin dini hari.


"Besok ayah kerja lagi ya".

"Iya".

Selalu itu jawabanya walaupun dari sorot matanya terlihat jelas rasa tidak rela yang ia sebunyikan dibalik jawaban kata "iya". Sedikit saja ayahnya keluar rumah selalu ditanya "ayah mau kerja?", seolah mau memastikan ayahnya tidak berangkat kerja saat itu juga. Pernah sekali berangkat kerja tanpa pamitan, paginya ketika terbangun adek bita marah karena ayah sudah tidak ada di rumah, sudah berangkat kerja, seharian itu adek bita menjadi sensitif.

Karena menjalankan peran yang padat secara bersamaan, kadang lambat menyadari dan memahami akan perubahan sikap mbak yang menjelang remaja, sesekali tergoda untuk berbicara dengan nada yang lebih tinggi, 
Seolah tidak ingin merusak suasana langka yang hanya terjadi selama dua minggu sekali, cepat cepat adek bita menggoda ayahnya, bermanja mendinginkan suasana, mengalihkan perhatian ayahnya dari kemarahan terhadap mbak.

Jadi berpikir, kadang kadang adek bita yang belum genap tiga tahun itu lebih dewasa dari ayahnya.

Komentar

  1. Kalau dua minggu jadi ayah rapelan
    Kalau sampai 7 bulan ayah apaan ya?
    Bang Toyib juga bukan
    Jadi yang bukan bukan
    πŸ˜€πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  2. Jangan sampek nanti pas pulang anaknya lupa lo pakπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

    BalasHapus
  3. Gus Glory kalah disek iki
    Alhamdulillah
    Mugi tetap pinaringan segewaras terus pak luk biar jadi ayah rapelan terus
    Ati2 nek jadi suami rapelan.kakean rapelane gak sido brgkt kerjo ups....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gus Glory sengojo ngalah pak, memberi semangat yg juniorπŸ˜‰πŸ˜‰

      Hapus

Posting Komentar