Adek Bita Memahami Romadhon



Bulan romadhon tahun ini sudah berlalu, dan kepergianya meninggalkan kesan yang membekas bagi banyak orang, tidak terkecuali bagi Adek Bita, anak bungsu kami yang berusia empat tahun.


Dua hari yang lalu, tepatnya di hari raya yang ke tiga, Adek Bita marah marah sama Mbak nya, setelah saya dekati dan saya bujuk akhirnya mau juga bercerita tentang duduk persoalanya. Ternyata Adek Bita marah setelah diberitahu oleh Mbak nya bahwa bulan romadhon sudah habis.


"Adek kan mau buka puasa, tapi kata Mbak tidak bisa, karena romadhonya sudah habis".


"Ya sudah tidak apa apa, hari ini kita buka puasa lagi", jawab saya menenangkan.


Dan Adek Bita tetap melanjutkan merajuknya karena merasa tidak mendapatkan pembelaan seperti yang ia inginkan.


Memang setiap kali menjelang waktunya buka puasa, Adek Bita selalu menjadi yang paling heboh, sibuk meneriaki kakak sama mbak nya untuk segera standby di meja makan, walaupun setelah berkumpul di meja makan, justru kakak sama mbak nya yang sukses dibuat heboh karena dengan santainya Adek Bita menikmati es sirupnya sebelum waktunya bedug maghrib tiba.


Lebaran hari pertama dan hari kedua sengaja kami habiskan di pulau rimau, mumpung Mbah nya anak anak masih lengkap semua, kebetulan tempat tinggal kami yang di perbatasan kota palembang dengan pulau rimau masih dalam satu kabupaten yang sama, jadi tidak terhalang oleh penyekatan karena pandemi.


Lebaran ketiga baru kami pulang ke palembang dan bersiap menerima tamu para tetangga di seputaran kompleks. Di saat kami sedang sibuk menyusun kue lebaran di atas meja, tiba tiba Adek Bita datang dengan membawa bungkus teh kotak sambil berteriak:


"Ayah ini minuman khusus romadhon".


"Kok Adek Bita tau ?"


"Iya, ini kan ada gambar ngajinya",

Sambil menunjukkan logo stempel halal yang bertuliskan dengan huruf arab.


Ternyata romadhon yang dipahami oleh Adek Bita adalah saatnya untuk makan bersama di saat maghrib dengan menu yang lebih istimewa dari biasanya yang ia sebut dengan buka puasa, juga saatnya untuk memperbanyak ngaji.


Lebaran hari keempat ayah dan ibunya sudah tepar karena padatnya kegiatan selama libur lebaran, sehingga tedak bisa menyediakan menu sarapan sesuai yang biasanya ia selerakan,


"Adek kok tidak makan ?"


"Adek puasa", jawabnya.


Ternyata satu lagi yang dipahami oleh Adek Bita tentang romadhon, yaitu saatnya untuk berpuasa, walaupun motivasinya hanya karena tidak selera dengan menu sarapan.


Semoga di tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan romadhon, dan semoga seiring dengan bertambahnya usia, pemahaman Adek Bita tentang romadhon menjadi lebih baik lagi.


Taqobbalallohu minna waminkum washiamana washiamakum, semoga kita semua termasuk golongan orang minal aaidin juga golongan orang yang mendapatkan faaiziin.

Komentar