Ki Juru Taman (Kepala Suku)


Ada sisi positif ketika kita terlihat lebih tua dari usia kita yang sebenarnya, salah satunya adalah kharisma kita akan lebih cepat muncul dari yg seharusnya, karena salah satu faktor yang membuat orang berkharisma adalah kematangan usia.

Dalam struktur Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dibawah Kepala Pabrik sebagai pimpinan puncak, ada posisi Asisten Kepala (Askep) yang adalah orang nomor dua dibawah Kepala Pabrik dan bertugas msngkoordinir semua Asisten dibawahnya (setiap Asisten masing masing membawahi sebuah divisi).

Tetapi ada juga PKS yang mungkin dalam rangka efisiensi meniadakan posisi Asisten Kepala, tetapi menunjuk salah seorang Asistenya  sebagai "kepala suku" yang secara de facto fungsi dan tugasnya mirip mirip dengan Asisten Kepala tetapi tetap setara dalam struktur dan pendapatan dengan Asisten lainya dan tetap membawahi satu divisi.

Penunjukan kepala suku bisa jadi karena alasan kecakapan, senioritar (usia/masa kerja), atau karena beban di divisinya sdh lebih longgar, jadi punya waktu yang lebih banyak untuk bisa nyambi intervensi ke divisi lainya.

Mungkin karena dua alasan terahir inilah "ditunjuk" sebagai kepala suku, karena kalau alasan kecakapan, masih banyak kekurangan dibandingkan yang lain, mungkin juga karena divisi yang ditangani adalah divisi quality control yang sudah terbiasa untuk komplain, jadi dianggap tidak akan sungkan sungkan untuk intervensi sana sini.

Menjadi kepala suku itu harus multi talenta, dimana ada yang tidak tertangani kepala suku harus cawe cawe, mulai dari hal hal yang teknis sampai yang sepele, salah satunya urusan taman, ya taman.

Masuk usia yang ke 3 tahun beroperasi, karena dibangun di atas rawa gambut yg lumayan tebal, lingkungan sekeliling pabrik dan kantor masih jauh dari kata asri, disana sini masih banyak air tergenang, masih jauh untuk bisa ditumbuhi kembang.

Dasarnya tidak punya ilmu tentang landscape, jadi nyusun tamanya juga tidak pakai konsep, apa yang muncul di pikiran dilaksanakan. apalagi kondisi sedang lesu, imbas ekonomi global, juga karena kampanye negatif tentang sawit yang entah apa motifnya bisa jadi sebagianya adalah kampanye palsu, akhirnya maksimalkan sumber daya yang ada, yang penting ada yang berbeda, tidak lagi berantakan seperti diabaikan.

Mau ditimbun terlalu dalam, sekalian saja digali dibuat kolam, lebar dan dalamnya asimetris suka suka, yang penting sekelilingnya bisa rata tidak lagi rawa, biar enak dipandang ditanam kembang, cari yang murah dan mudah.

Turnera, biasa ditanam di kebun, untuk induk semang kumbang predator hama, mudah tumbuh dan tidak harus beli.

Muncul ide lagi untuk dibuatkan kura kura ninja, dari besi bekas dibentuk sedemikian rupa, hasilnya melebihi expektasi, kembang sekelilingnya yang jadi kurang serasi, ya sudah diganti saja dengan kembang yang lebih bergengsi, tidak apa apa walau harus beli.

"lo pak, kok kembangnya dicabuti lagi"?

"sudah gak usah banyak tanya, kerjakan saja nanti kuwalat"!


Kepala suku kok dilawan.

Komentar

  1. Tulisannya mulai rileks, lentur dan jenaka

    BalasHapus
  2. Masih belum tau, apakah itu bentuk aslinya, atau karena ikut2an penulis lainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rapopo semuanya dari meniru, nanti lama karakter tulisan terbentuk sendiri

      Hapus
  3. Detail pembukaan sampai menjelang akhir cukup menarik, tapi Sayang goyang dengan ending yg aneh, yang muncul dengan alasan Dan goyangan yang gak jelas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mas aris, suwun tanggapanya, pinginya membuat ending yg berbeda, ternyata malah blunder, bisa jadi bahan evaluasi.

      Hapus
    2. Ending berbeda bisa jadi menarik, yang penting bisa terjadi ledakan Dan menguatkan keseluruhan tulisan

      Hapus
    3. Bimbingane suhu dan empu, mas Aris keyen

      Hapus
    4. Mohon digepuki ditempa dengan keras biar cepat jadi gaman

      Hapus

Posting Komentar