Ayammu, Ayamku, Ayam Kita Bersama


Tinggal di kompleks perumahan staf kebun itu agak unik, namanya juga kebun, jauh dari keramain, tidak seperti di kampung, apalagi di kota.

Kompleksnya tidak besar, hanya ada 3 blok/lorong, tiap blok ada 8 rumah, kecuali blok kedua, hanya ada 3 rumah dengan ukuran yang lebih besar, 2 rumah  untuk para petinggi, 1 yang tengah untuk mess tamu, yang juga kami fungsikan sebagai semacam dapur umum bagi staf yang lajang atau tidak bawa istri.

Tidak bisa bawa istri ke kebun itu sesuatu banget, bayangkan, sepi. Ditambah lagi "teror diskriminasi" dari para petinggi, mungkin maksudnya dengan bawa istri kerjanya bisa lebih konsentrasi.

Yang tidak bawa istri tidak difasilitasi perlengkapan rumah tangga, padahal sekedar malam malam pingin ngopi, atau ngrebus mie kan tidak harus menunggu ada istri, tapi ya sudahlah diterima saja, salah sendiri tidak bawa istri.

Yang bikin anyel itu, yang tidak bawa istri juga tidak difasilitasi tivi, mungkin maksudnya biar suaminya fokus kerja, hanya istri yang boleh nonton tivi.

Sudah sepi, gak ada istri, gak ada tivi lagi.

Hiburan yang memungkinkan untuk mengisi waktu luang paling mancing cari ikan atau pelihara ayam, sayang keduanya aku tidak hobi, pilihan lainya adalah bercocok tanam, memanfaatkan halaman dan pekarangan.

Karena lokasinya luas, atau karena bergaul dengan ayam hutan, ayam jadi lebih liar ogah masuk kandang, lebih suka tidur di ranting pohon mangga dan akasia, atau di sudut dibawah pertemuan seng atap rumah tetangga.

Sebagai seorang staf sudah lazim untuk dirotasi dipindahtugaskan antar kebun, sudah tentu tidak semua ayam ayamnya bisa  turut serta, maklum liar, akhirnya diikhlaskan saja untuk pemilik berikutnya, akhirnya kepemilikan ayam jadi tidak jelas, bercampur baur jadi milik bersama.

Tiga hari ini dapat telur di samping rumah, rupanya dari ayam yang kebelet yang biasa nongkrong di bawah sudut atap rumah, menggelinding jatuh kebawah melintasi seng teras samping, kok tidak pecah, ternyata telur yang baru keluar, cangkangnya masih elastis belum kaku, ini berkah, bisa untuk jamu bekal pulang hari sabtu ahir pekan setiap dua minggu.


Sekali waktu jalan jalan keliling lahan bersama rekan, terlihat ada jaring bergerak gerak, entah siapa yang punya, yang terpasang di pinggir kanal, sepertinya sudah ada ikan yang terperangkap.

" Lho pak, kok diambil ikanya "
" Tdak apa apa pak, yang tidak boleh itu mengambil jaringnya pak ", jawabnya.

Aturan apa lagi ini.

Sebagai staf sebenarnya bisa saja sedikit nggaya, tinggal menyuruh karyawan kalau sekedar untuk bersihkan rumput di halaman, atau nanam sayur, nanas atau pisang. Tapi badan kan juga butuh digerakkan, biar sehat keluar keringat.

Mengandalkan karyawan kadang juga bikin kesal, disuruh nyemprot rumput, sayuran dan nanas ikut mati, begitu ada hasilnya mereka duluan yang menikmati.


Itulah di kebun, awalnya sih agak terkejut, lama lama bisa adaptasi, dan sedikit menikmati.

Jadi ingat lagunya naif

Milikmu, milikku, milik kita bersama...
Ayammu, ayamku, ayam kita bersama...
Ikanmu, ikanku, ikan  kita bersama...
Nanasmu, nanasku, nanas kita bersama...
Istri mu, istr..

Woy.. Jangan bawa bawa istri 👊

Maaf maaf, lagi sensi🙏🙏

Komentar

  1. Awas pak kri protes
    Sekarang punya kesibukan sambil mancing
    Mancing keributan😀😀😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keadaan yang mengajari😄😄😄

      Hapus
  2. Hebat, tiap moment jadi spesial

    BalasHapus
    Balasan
    1. Njenengan salah satu inspirasinya🙏🙏

      Hapus
  3. Rasa ingin tahu yg besar Dan luar biasa Masa kecil Kita, jngan sampai tergerus usia

    BalasHapus

Posting Komentar