Malam ini prei, libur istirahat dulu tidak menulis, lagian tidak ada tema yang ingin dibahas.
Halah nggaya, mbahas tema, biasanya cuma nglantur saja kok sok sok an mbahas tema, referensinya dari mana, bacaanya cuma berita bola saja kok mbahas tema, mau jadi penulis itu harus banyak baca, bukan cuma gojlogan saja.
Siang tadi didawuhi Gus Glory disuruh nulis 50 judul lagi, yang benar saja beliau ini, kalau satu judul saja menghabiskan 2 gelas kopi, 50 judul bisa mlembung perutku nanti, lagian inspirasinya mau dari mana?
Besok sore mau ke palembang cuti, pulang kerja langsung meluncur berkendara 3 jam, mudah mudahan sebelum isya' sudah di rumah. Besok paginya lagi mau ke pulau rimau, ditimbali bapak karena adek ragil mau menikah, katanya calonya juga orang kebun, katanya lagi rekan rekan kerjanya turut hadir sebagai pengiring mempelai pria, jadi biar penyambutanya lebih nyambung karena sama sama orang kebun, juga karena sebagai anak tertua, aku didapuk sebagai juru bicara keluarga.
Mudah mudahan di sana ada "pohan inspirasi" yang buahnya bisa dipakai untuk mengisi kuota yang ditetapkan oleh Gus Glory.
Tapi apa yang bisa ditulis dari pulau rimau, daerahnya terpencil, dibilang pulau tapi ada jalur darat yang bisa langsung ke lokasi, walaupun jalanya lebih mirip sawah yang baru dibajak daripada jalur transportasi.
Mungkin karena diapit oleh sungai calik dan sungai banyuasin yang luasnya seperti segoro anakan, yang jika ada orang di seberang tidak terlihat sosoknya, hanya lamat lamat terlihat warna bajunya saja, itupun jika warnanya terang. Diantara keduanya dihubungkan sungai tanah kering yang lebih kecil. Semantara ujungnya adalah pesisir yang menghadap selat bangka.
Mungkin karena itulah dinamakan pulau rimau.
Karena medanya berat orang lebih suka memilih jalur sungai daripada jalur darat, dari palembang kearah pelabuhan Tanjung Api Api, turun di dermaga PU kemudian naik speedboat menyusuri kanal PU, menyeberangi sungai banyu asin kemudian masuk kanal selat kuningan pulau rimau, dan berhenti di jembatan primer dua, disitulah tempatku menghabiskan masa kecil dulu, desa sumber agung pulau rimau.
Karena jalur sungai, sepanjang perjalanan yang terlihat hanya nipah, tumbuhan pasang surut sebangsa palm yang daunya biasa dipakai untuk atap rumah, juga pohon bedado yang daunya berkelap kelip kalau malam seperti dirubung ratusan kunang kunang, tapi kalau siang tidak kelihatan.
Menurut cerita tutur, dinamakan pulau rimau karena dulu jaman belanda memang tempat pengasingan harimau, setiap ada harimau yang tertangkap warga biar tidak meresahkan diungsikan ke pulau rimau, karena lokasinya terisolir dan tidak berpenghuni. Pak Harto lah yang sukses membuat pulau rimau berpenghuni pada tahun 80 an dengan mengirim kami melalui program transmigrasi.
Di pulau rimau banyak kanal tapi kami lebih suka menyebutnya sungai, sengaja digali agar sirkulasi air lancar, sekaligus difungsikan sebagai jalur transportasi, 2 kanal paling besar disebut navigasi, lebarnya sekitar 25 meter, yang stu diberi nama sungai juaro, satunya lagi selat kuningan. Ada juga kanal primer lebarnya setengah dari kanal navigasi, dulu sebelum terbentuk desa cari alamat di pulau rimau itu berdasarkan primer, contohnya kami, tinggal di jalur 23 primer 1 unit 2 sungai juaro, kemudian pindah ke jalur 15 primer 2 unit 4 selat kuningan, jalur itu semacam blok kalau di kompleks perumahan, masing masing jalur dipisahkan oleh kanal kecil yang diberi nama sekunder.
Karena daerah pasang surut, airnya payau tidak dapat dikonsumsi, kelat campur asin, mungkin seperti perasan salak mentah digarami, atau mungkin seperti nano nano gak pakai gula.
Dulu waktu waktu kanal masih lancar jenis ikanya ganti ganti, tergantung musim, musim hujan cenderung ikan air tawar, sepat, betok, lembat dan kocolan, menjelang kemarau airnya mulai asin, ikanya keting, juaro, sama baung, puncak kemarau ada udang, sesekali cumi cumi, sekali waktu pernah juga diserbu ubur ubur.
Untuk kebutuhan konsumsi kami mengandalkan air hujan, jadi tiap rumah harus memiliki tandon besar untuk penampungan air hujan, kalau kemarau harus dihemat sampai bertermu musim hujan tahun depan.
Pulau rimau itu tanahnya para pejuang, bukan pejuang kemerdekaan, tapi pejuang kehidupan melawan kemiskinan, diantara seluruh daerah tujuan transmigrasi, mungkin pulau rimau lah yang paling lambat berkembang, awalnya diprogramkan sebagai daerah pertanian, tapi karena perawatan kanal yang tidak maksimal, akhirnya gagal total.
Pada titik terendahnya pernah pulau rimau hanya dihuni para perempuan, kalaupun ada laki laki hanyalah para lansia dan anak anak, selebihnya bertebaran mencari nafkah di luar daerah, karena di pulau rimau tidak ada penghasilan.
Sawitlah yang menyelamatkan kami, yang kami budidayakan secara mandiri, tanaman bandel yang bisa tumbuh tanpa memilih kesuburan tanah, jadi kalau ada propaganda negatif tentang sawit, akan kami lawan sepenuh hati.
Alhamdulillah kondisi sekarang sudah berubah, mencari nafkah tidak lagi susah, sudah bisa buat sumur bor untuk mendapatkan air tawar, bahkan konon kabarnya penyumbang pendapatan asli daerah terbesar dibandingkan kecamatan lain, melalui pajak, karena orang pulau rimau adalah orang orang yang taat, walaupun dulu pernah "sekarat", layaknya ditanam tapi tidak dirawat.
*Kecuali terlanjur, yang ini tidak usah dibaca, karena ini tidak dihitung tulisan.


Sukses berhasil memelihara ritme menulis, tetap stabil. Naik turun kualitas hal yang biasa. Penting jangan menyerah.
BalasHapusJustru jurnalisme adventure, bravo bro
BalasHapusMencoba cara yang berbeda mas, biar polanya tdk monoton, untung untungan sambil terus evaluasi
BalasHapus