Filosofi Limbah


Sebagai seorang yang bertugas di bagian laboratorium dan quality control, salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab saya adalah pengelolaan limbah, karena tidak banyak yang berminat mendalami masalah limbah, maka orang yang faham tentang pengelolaan limbah menjadi barang langka.

Mengapa demikian, karena limbah tidak menarik dan tidak bergengsi, bahkan ada yang menganggap limbah itu seperti hantu, menakutkan, menjijikkan, sebutan sebagai "limbah" itulah yang membuat orang takut, padahal tanpa kita sadari dalam keseharian kita, kita sering bersentuhan amat mesra dengan limbah, hampir semua produk plastik yang ada di rumah kita ada produk hasil daur ulang yang ke sekian kalinya, artinya sudah ke sekian kalinya ia berstatus sebagai limbah, termasuk keset kaki, kemoceng, jaket kulit, juga boneka yang suka kita peluk peluk, padahal mereka semua pernah berstatus sebagai limbah, limbah rumah tangga, limbah pabrik garmen, limbah pemotongan hewan dan lain sebagainya.

Mengapa kita tidak takut lagi dengan barang barang tersebut, karena namanya sudah berubah, sudah bukan lagi limbah, tapi sudah menjadi produk sampingan yang juga bermanfaat disamping produk utama, oleh karena itu saya kurang sreg menganggap limbah itu sebagai "limbah", tapi saya lebih suka menganggapnya sebagai "produk" yang belum termanfaatkan.

Hampir tidak ada proses produksi yang secara efisien mampu mengubah 100% bahan baku menjadi produk, pasti ada bagian bagian yang tidak termanfaatkan, dan itulah yang biasa disebut limbah.

Banyak industri yang masih menganggap limbahnya sebagai beban, sehingga memperlakukanya secara semena mena dan tidak bertanggung jawab, padahal sudah banyak kasus yang mencontohkan, dengan berkembangnya zaman dan inovasi, bisa mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan keuntungan.

Seperti halnya di indrusti pengolahan kelapa sawit, sebagian besar limbahnya adalah limbah cair, dari hasil pemisahan antara minyak dan daging buahnya yang pada prosesnya ditambahkan dengan air. Jadi bukan jenis limbah yang berbahaya, malah banyak mengandung protein, tapi kok ikan bisa mati?, betul, karena konsentrasinya masih tinggi, BOD nya masih tinggi, hubunganya dengan kebutuhan oksigen di dalamnya, ikan kalau dimasukkan kedalam adonan pelet makanan ikan dengan konsentrasi tinggi, pasti juga akan mati glagepan tidak bisa bernafas.

Makanya dalam pengelolaanya, ditambahkan bakteri pengurai agar konsentrasinya tidak lagi pekat, BOD nya bisa turun, setelah itu diaerasi, dimasukkan oksigen kedalamnya sampai BOD sesuai dengan baku mutu yang diharapkan, bisa juga dimanfaatkan, dalam kondisi lahan tertentu, setelah diurai oleh bakteri, dimanfaatkan sebagai limbah cair yang dialirkan ke parit parit yang dibuat di sela sela tanaman sawit, atau dimanfaatkan sebagai biogas, yang gas nya bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Kalau diibaratkan sebuah keluarga, limbah itu juga anak kandung dari sebuah proses produksi, bersama saudaranya yang lain yang bernama produk utama dan produk sampingan, hanya dia adalah anak yang berkebutuhan khusus, jadi harus mendapat perlakuan khusus agar potensinya bisa tergali, dan kemudian bisa berbakti, karena kalau diperlakukan dengan semena mena, dia akan malati (membawa petaka).

Pagi tadi karyawan yang bertugas merawat kolam lapor,

" Pak, tadi ada orang yang mancing ikan di kolam ".

" Dapat ?".

" Dapat pak, ikan gabus besar ".

Bibit bibit ikan itu sengaja kami masukkan ke kolam terahir, setelah melihat banyak berudu berenang, pertanda katak bisa hidup dan berkembang biak.

Komentar

  1. Pagi pagi sarapan berudu, eh cebong, eh bukan gabus๐Ÿ˜๐Ÿฌ๐ŸŸ๐Ÿณ

    BalasHapus
  2. Menyebutnya sebagai berudu sepertinya lebih nyaman di telinga๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    BalasHapus

Posting Komentar