Gembeng


Saya ini "gembeng" (huruf e yang kedua dieja seperti mengeja kata ember), nangisan, saya tetap pakai kata "gembeng" karena susah mencari padanyanya ke dalam bahasa indonesia, ada yang hampir mendekati maknanya dengan kata "gembeng", yaitu kata cengeng, tapi kalau menggunakan kata cengeng kok kesanya rapuh, aleman dan tidak kuat menghadapi beban/cobaan, padahal saya tidak rapuh, saya tidak pernah/jarang nangis karena tidak tahan menghadapi cobaan, setidaknya setelah saya dewasa, air mata saya sering bandel tidak bisa ditahan ketika saya terharu, melihat orang lain sedih, mononton film india, atau ketika terbawa suasana, melihat tayangan di tivi lagu indonesia raya dinyanyikan orang seisi stadion saja saya nangis, juga ketika sholawat nabi dikumandangkan dengan mendayu dayu, kontan mata saya langsung berkaca kaca, betul betul bikin malu, saya ini laki laki lo, bertampang seram pula, masak gembeng?

Mungkin gembeng saya itu karena keberatan nama, nama itu diberikan oleh Almarhum Mbah Munshorif, beliau itu orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bapa, beliau guru sekaligus mentor ketika bapak masih dalam usia dan masa masa mencari jati diri, wajar saja, dimasa itu beliau sudah menjadi seorang sarjana, ditambah mondoknya yang lama, betul betul perpaduan yang sempurna antara ilmu dunia dan ilmu agama, bapak sangat mengidolakan beliau, dan menjadi pengikut setianya, wajar saja kalau bapak bercita cita ingin punya anak seperti beliau. Ketika bapak bertanya tentang maksud dari nama tersebut, beliau menjelaskan biar nanti menjadi anak yang anteng dan lembut, mungkin maksudnya adalah biar saya menjadi anak yang mudah menerima nasehat, dan tidak menjadi anak yang begajulan, karena nama adalah doa.

Tapi sepertinya alam bawah sadar saya menafsirkan doa beliau itu dengan agak berlebihan, jadilah saya anak yang pemalu, penakut, minderan, dan satu lagi gembeng.

Kami memanggil beliau Mbah, bukan semata mata karena  usia, karena usia beliau hanya terpaut beberapa tahun saja dari bapak, kami memanggil beliau mbah karena hirarki keluarga, karena Mbah Munshorif adalak paklek/paman dari ibu, jadi beliau itu adalah guru sekaligus paman ipar dari bapak.

Jadi wajar kalau beliau sangat perhatian sama bapak dan ibu, bahkan ketika baru menikah belum punya rumah, bapak dan ibu ditempatkan di rumah besar, rumah kosong milik Mbah Kaji Mad kakak ipar beliau, dulu ketika ibu mengandung saya, dipesani sama beliau, ketika mau melahirkan orang yang pertama kali dikabari harus beliau, beliau yang mencarikan bidannya, termasuk memberikan nama untuk saya, jadi saya ini orang miskin yang dilahirkan di dalam "istana".

Keterikatan saya dengan Mbah Munshorif berlanjut ketika saya sekolah MTs di jember, beliau guru di sekolah sekaligus guru di langgar, langgarnya lumayan besar, disamping ruang utama untuk sholat, sayap kirinya dua lantai, sayap kananya juga ada rungan, juga berandanya lumayan lebar yang semuanya digunakan untuk ruang belajar yang dibedakan menjadi beberapa kelas.

Yang masih anak anak/junior, ngajinya habis maghrib, memanfaatkan ruang sayap kiri dan sayap kanan, juga lantai dua, dan yang sudah senior ngajinya di beranda, sehabis isya'.

Saya termasuk anak yang mengaji di dua kelas yang berbeda, sehabis maghrib saya ngaji, sehabis isya' juga disuruh ngaji, bergabung bersama murid murid yang sudah senior, padahah materinya, otak saya belum nyandak, pernah suatu ketika beliau memberikan pertanyan, karena memang tidak faham, saya jawab sekenanya, beliau hanya tersenyum saja.

Saya pernah membuat beliau kecewa, ketika itu kalau tidak salah baru kelas dua, beliau meminta untuk membantu mengajar hidayatus sibyan, kitab tajwid tingkat dasar, tentu saja saya tidak siap, di samping karena kurang ilmu, juga jiwa minder saya berontak, juga karena santri santri yang lebih senior masih banyak.

Di sekolah, beliau adalah guru yang sangat dihormati, kharisma beliau sangat tinggi, kalau sedang berbicara tidak ada yang berani menatap wajah beliau karena segan, termasuk guru guru yang lain, suasana belajar jadi tegang, suatu ketika beliau membuat pertanyaan untuk seisi kelas, semua diam tidak ada yang menjawab, hanya saya yang menjawab, dengan suara minder saya tentunya, mungkin karena tidak mendengar beliau mengulangi pertanyaanya, merasa jawaban pertama tidak ditanggapi, saya mengulangi jawaban dengan suara yang lebih pelan dan ragu, sekali lagi pertanyaan diulang, dan saya pun diam, beliau pun mendekat dengan membawa segepok buku, ditimpakan buku buku itu ke ubun ubun saya sambil berkata "anak tidak punya pendirian, hanya klular klurur seperti cacing", saat itu juga badan saya seperti disiram seember air es, mungkin waktu itu beliau menyesal memberikan nama yang terlalu berat untuk saya.

Mbah Munshorif meninggalkan kesan yang mendalam dalam hidup saya, suatu ketika saya bermimpi sowan dan mencium tangan beliau sedangkan tangan yang lainya mengelus bagian belakang kepala, seketika gembeng saya kumat dan ketika terbangun saya tersadar, telah banyak saya melalaikan kewajiban.

Jum'at kemarin untuk pertama kalinya saya sholat di masjid semenjak makhluk sakti bernama corona itu datang, sengaja datang agar akhir, biar dapat shof belakang dan bisa jaga jarak, begitu masuk pintu masjid, bilal selesai membaca sholawat waktunya khotib naik mimbar, tengok kiri tengok kanan tidak ada yang bergerak, kasihan bilalnya menunggu, saya pun naik ke mimbar.

Selesai khutbah langsung jamaah jum'ah,  rokaat pertama berjalan dengan lancar, rokaat kedua baca sural al wail, mulai terbawa perasaan mendekati ujung surat, gembeng nya mulai kumat, sehabis salam sudah tidak kuat, baca doa paling singkat, sampai jamaah bubar tidak berani balik badan, karena takut konangan.

Di ujung do'a teringat kembali Mbah Munshorif, terlalu banyak kuwajiban terabaikan.

Khususon Mbah Monshorif Lahul faatihan.

Komentar

  1. Manusiawi Pak Luk, sisi lain kita sebagai mahluk. Bukan aib apalagi dosa. Namanya hati yg lembut. Saya sering menyaksikan orang orang alim yg demikian. Apalagi kalau alimnya jalur wali, lebih unik lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar