Suasana kelam karena mati lampu malam itu membawanya pada kenangan sebelum memutuskan untuk merantau, 25 tahun yang lalu, meninggalkan kampung halamanya, tempat yang seolah ditinggalkan oleh sejarah, tetap berada di jaman pra kemerdekaan sementara di tempat lain sedang beruforia menikmati cemerlangnya perubahan.
Langkahnya mantap berjalan dalan gelap, hanya mengandalkan sulak remang cahaya bintang, tak ada ragu akan terperosok lobang atau tersandung akar kayu yang terikut saat penimbunan jalan yang diambil dari galian sungai buatan di sampingnya yang tanahnya bercampur gambut yang di dalamnya banyak potongan akar yang tertanam, karena setiap malam ia lalui hingga hampir setiap jengkal jalan sepanjang satu setengah kilo itu ia hafal.
Semakin mendekati parit sekunder ia sengaja agak menyeret langkangnya agar suara gesekan sandalnya yang sebelah jepitnya sudah disambung tali rafia karena termakan usia, agar lebih terdengar sebagai isyarat jangan sampai mendadak terjebak berpapasan dengan orang yang sedang buang hajat malam malam di bibir jembatan, walaupun biasanya dari jauh sudah terlihat dari kelipan api rokok tembakau sebagai teman jongkok sekaligus pengusir lusinan nyamuk yang mengerubuti bagian belakang pinggulnya yang terbuka.
Melewati dua parit sekunder langkahnya mulai waspada, karena memasuki jalur 19 dan jalur 20 yang ditinggal seluruh penghuninya setelah tiga kali berturut turut gagal panen semenjak tanahnya mengandung karat, bukan takut pada makhluk halus atau sebangsanya, tapi takut membuat terkejut kawanan babi hutan yang menggusur tanah mencari cacing di balik belukar yang semakin rimbun sepanjang kanan jalan, tapi itu jarang terjadi, karena mungkin kawanan babi hutan itu sudah hafal bahwa tiap jam 11 malam ada anak muda yang melintas jalan kaki setelah pulang dari rumah budhenya di jalur 15 untuk numpang nonton tivi.
Sebenarnya ada sepeda jengki, tapi ia enggan menggunakan karena piringan dan rantainya sudah tidak bertutup lagi, hingga sering nyrimpet dan mengotori kain sarung yang ia kenakan setiap hari, juga rantainya sering lepas di tengah jalan karena sudah terlalu lama tidak diganti, juga dengan berjalan kaki ia lebih bisa menikmati khayalanya tentang apa yang akan ia lakukan di masa depan.
Sesuai hasil musyawarah keluarga, dengan berat hati harus menerima bahwa ia tetap tinggal di rumah menemani ibu dan adik adiknya, sementara ayahnya sebagaimana umumnya laki laki dewasa di kampungnya harus pergi ke lain wilayah untuk mencari nafkah, karena dikampungnya tidak menjanjikan apa apa untuk mendapatkan hasil usaha, lagian anak anak sedang semangat semangatnya dengan cara baru yang ia ajarkan, belajar membaca tinggal "a ba, a ba" tanpa harus mengingat rumitnya cara mengeja, juga masjid tidak boleh kosong harus ada yang mengisi agar orang yang jariah tidak sia sia.
Sore itu minyak tanah yang tersisa di gelok lampu teplok yang ia nyalakan tinggal seperempatnya, berharap sumbunya masih bisa menjangkau sampai selesai sholat isya' selepas anak anak belajar mengaji, berharap besok ada rizki untuk membeli satu jerigen minyak tanah dua literan.
Sudah hampir empat bulan lamanya lampu petromak tidak dinyalakan, karena kondisi sedang laip seperti ini rasanya tidak tega membebani anak anak dengan menarik urunan, juga karena kaosnya sudah berlobang belum sempat diganti, sehingga lidah apinya mulai melelehkan kaca samping sebelahnya. Seingatnya, terahir dinyalakan justru dalam mimpi, dalam tidurnya yang sekejap selepas istikhoroh ketika mendapat tawaran mengajar ngaji di masjid di kampung pinggiran sungai, dalam mimpinya ia dinasehati, " sudahlah, urus saja lampumu sendiri, walaupun usang tapi lebih mudah dinyalakan".
Selepas salam salaman anak anak berlarian berebut duluan keluar pintu masjid, suara gedabrukan kaki anak anak menginjak lantai beradu keras dengan teriakanya mengingatkan agar berhati hati jangan sampai terperosok ke lobang yang ditinggalkan oleh lantai papan yang lapuk di sana sini. Sambil memegang lampu teplok yang hampir mati kehabisan isi, dipandanginya sekeliling ruangan masjid yang sudah sepi, di beberapa sisi dinding papanya terdapat lobang, tempat bersarang kumbang kayu, yang bekas keratanya berhamburan di sudut pertemuan dinding dengan lantai, juga ke empat tiang penyangganya yang mulai keropos dimakan nonor, dalam hatinya ia menyimpan janji, untuk terus mempertahankan masjid ini.
Siang itu, saat kondisi tidak lagi memberikan pilihah, bersama temanya yang baru pulang merantau, datang seorang agen tenaga kerja memberikan tawaran, kerja jadi buruh di sebuah perusahaan perkebunan.
Sekilas dipandangnya wajah ibunya yang tidak sepenuhnya ikhlas, melepas anak laki lakinya, setelah tiga tahun merawat rindu, setelah enam tahum sebelumnya lepas dari pangkuan, menuntut ilmu di tanah leluhurnya di pulau seberang.
Dipandanginya pintu masjid itu, terdengar suara dehemnya sangat pelan, seolah pita suaranya sedang terendam oleh air mata yang tertahan.
" Aku akan kembali, aku akan kembali, suatu saat nanti, setelah situasi tidak lagi seperti ini ".
Mendadak ia terbangun oleh suara hp nya yang menandakan bateray nya akan segera habis, lampu masih padam, dengan sedikit meraba ia berjalan kearah kamar mandi untuk buang air kecil, tiba tiba kakinya tersandung kusen pintu menuju dapur.
" Astaghfirullahal adzim "
Janji itu, bergegas ia mengambil wudhu.

Detilmu membuatku ngilu sebab menyeret memoriku tertatih memutar ulang tiap bait dan kosakata peristiwa masa kecilku.
BalasHapusKeren cak..
BalasHapusSuwun Gus, menyelesaikan 3 bait terakhirnya membuatku tidak bisa menahan air mata
HapusSerasa membaca 'Robohnya Surau Kami'.
BalasHapusInsyaallah orisinil terinspirasi kisah riil,sebagian detailnya adalah bumbu
HapusPean kirim sebagai cerpen dg 5-8 Hal halaman kertas A4 atauminimal 2000 karakter
BalasHapusBerlatih dulu mas, untuk membuatnya lebih mengembang
HapusSejarah masa masa sulit di suatu tempat yang bernama pulau rimau
BalasHapusHanyut rasanya terbawa alur kisah teringat masa kala itu.
Tetap semangat ya saudaraku..
Sekarang menjadi sangat masing saat dikenang, walaupun masa itu pahit dirasakan.
HapusSangat manis
Hapus