Melawan Kemustahilan


Pada tahun 1981 beliau memberanikan diri untuk menghadap minta izin kepada keluarga besar istrinya untuk ikut program transmigrasi, membangun lembaran hidup yang baru, ingin mempunyai lahan sebagai sarana mencari penghidupan, jawa sudah terlalu sesak, konon lagi dimasa anak anakku kelak, begitu beliau menjelaskan.

Izin tidak kunjung diberikan, bagaimana mungkin membiarkan anak perempuanya yang hidupnya paling ketulo tulo dibandingkan saudaranya yang lain dibawa pergi, rasa iba dan rasa sesal mencegahnya untuk melepaskan, sampai datang dukungan dari sang kakak ipar yang sekaligus adalah sahabat sedari lajang.

Menjadi yatim menjelang baligh, dengan 4 orang adik dan 1 mbakyu membuat beliau meninggalkan sekolah yang baru jalan kelas 5, untuk membantu sang ibu menjadi tulang punggung keluarga, anak dari seorang guru tarekat yang lebih mengutamakan zuhud dari mengejar dunia, membuat tidak banyak yang bisa ditinggalkan untuk melanjutkan penghidupan, hanya sepetak tegalan yang ditanami pohon kelapa dan rumpun bambu,  yang kadang harus ditebang setiap tahun dengan menjual bambu atau glugu untuk bayar fitrah dan sekedar berlebaran.

Tidak sekolah, tidak juga mondok, tapi tidak menyurutkan hasrat beliau akan pengetahuan, semangat mudanya disalurkan dengan bergaul dengan orang orang yang berilmu, yang berpendidikan, tidak masalah selalu menjadi anak bawang, yang penting bisa ikut kesabapan, berbekal lanyah baca Qu'ran, buah dari didikan disiplin ngaji dirumah sendiri, barzanji, diba', manaqib, khataman, pengajian, ke seluruh penjuru kampung rutin diikuti, untuk melepaskan dahaga akan "asupan rohani", juga terutama "asupan jasmani".

Berpartisipasi bikin madrasah, tidak  kompeten sumbang pikiran, tidak mampu sumbang dana, masih bisa sumbang tenaga, cetak batu bata, minimal bisa kurangi anggaran biaya, tak dinyana diminta ikut mengajar juga, sebisanya, khusus kelas pemula, belajar tulis baca.

Madrasah membawa berkah, selain honor bulanan juga kemampuan semakin terasah, terpikat oleh salah seorang guru, satu atap tapi beda beda sekolah, sekolah TK, dalam satu yayasan yang sama. Selalu hidup susah dan juga didikan keluarga membuat perkembangan jiwa sedikit berbeda, menjadi lebih perasa, rendah diri dan pemalu, apalagi sang pujaan hati dari keluarga yang berbeda, keluarga terpelajar dan dan terpandang, penggerak berdirinya madrasah dan yayasan.

Tak disangka mendapat restu, dari para sahabat dan rekan guru, yang juga calon kakak dan calon paman.

Ketika anak ketiga lahir, perekonomian sudah mulai berubah, sudah bisa menyewa sawah garapan, rumah gedek diganti batu bata, memang honor guru tidak seberapa tapi ditopang dengan hasil dari sawah, juga ketrampilan menjahit pakaian.

Memang sedikit terlalu berani, ketika perekonomian mulai berubah, malah tergoda untuk hijrah, tapi juga menginspirasi, tetangga dan kawan kawan, sampai dua gelombang berangkat transmigrasi. Menjadi ketua rombongan menuju tanah seberang, berbekal semangat memperbaiki masa depan.

Setelah perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya sampai juga ke tujuan, lokasi pemukiman transmigrasi adalah lahan terbuka yang diisi dengan barisan rumah rumah mini dengan bentuk yang seragam, disusun dengan jarak yang sama dengan membentuk blok atau jalur, masing masing jalur terdiri dari 16 rumah dengan posisi yang saling berhadapan, terpisah di belakang masing masing rumah ada bangunan kecil yang difungsikan sebagai jamban.

Minggu minggu pertama masih diselimuti uforia, disela sela membuka lahan , setiap hari dengan semangat bergotong royong membuat selokan, menimbun jalan, juga mendirikan masjid, karena fasilitas ibadah yang disediakan lokasinya cukup jauh dari blok yang mereka tempati.

Selama 16 bulan mendapat subsidi mulai dari sembako, bibit, juga alat pertanian, masuk bulan ke 4 mulai produksi, hasil panen cabe dan kacang tanah cukup melimpah, berkat tanah yang subur kaya akan hara dari humus lahan yang baru dibuka, kacang tanah bisa disimpan, tapi cabe harus segera dijual, masalah baru timbul, semua masih buta lokasi, tidak tahu kemana harus menjual hasil. Sebagai ketua rombongan beliau terpanggil, berbekal keterangan orang orang bugis yang berhuma di sekitar sumur belanda, didapatlah rute menuju  ke kota, menyusuri sungai tanah kering, lanjut ke sungai banyuasin, dan berlabuh di dermaga boom barlian kemudian menempuh jalur darat menuju kota palembang.

Masuk ke kota ciri ciri sebagai orang baru sangat kentara, dengan bahasa dan logat yang berbeda, jadi sasaran empuk dikadali jadi bulan bulanan barang habis tapi uang yang terkumpul tidak seberapa.

Setelah habis masa subsidi beberapa mulai kelihatan aslinya, yang pemalas mengeluh tidak betah menyalahkan keadaan atas kegagalanya mengurus lahan, rumah kadang  seperti persidangan, keributan rumah tangga atau antar tetangga, sebagian hanya kedok saja agar dapat empati dan tambahan sangu untuk pulang.

Masuk tahun kedua memisahkan diri dari rombongan pindah ke primer 2 tempat pemukiman rombongan gelombang kedua, sekalian mendekati keluarga, mbakyunya ikut rombongan tinggal disana.

Berawal dari memelihara beberapa ekor ayam, dengan menahan diri untuk tidak dikonsumsi, akhirnya beranak pinak menjadi banyak, kemudian dijual semua untuk modal berdagang kecil kecilan.

Lama lama usaha makin lancar, sudah bisa belanja sendiri ke palembang, untuk diecer sendiri dan sebagian disalurkan ke warung warung sekitar.

Merasa mampu kemudian mengirim anak anaknya sekolah, ke jawa, agar mendapatkan pendidilan yang selayaknya, agar tidak bernasib sama seperti bapaknya.

Pindah lagi ke jalur ujung, sekalian sama sama mendirikan masjid, karena disana fasilitas itu belum ada.

Ternyata gambut pasang surut tidak bisa ditangani setengah hati, pendangkalan sungai tidak segera direhabilitasi, akhirnya airnya tertahan sirkulasi tidak lancar, ph tanah turun kandungan besi tinggi, padi dan tanaman lainya mengering sebelum berbuah, kalaupun ada yang bertahan tumbuh kerdil tidak sempurna.

Dua kali tiga kali gagal panen warga mulai resah, sebagian memilih pindah mencari tanah yang lebih ramah, terutama jalur jalur ujung yang kondisinya lebih parah.

Termasuk beliau, beberapa orang tetap bertahan, modal usaha ludes tertanam jadi tanah, ditukar ongkos pindah orang orang yang tidak betah.

Miris memang, punya tanah belasan hektar tapi kesulitan untuk sekedar makan, tapi tetap bertahan, ibarat puasa akhirnya ada lebaran, mungkin puasa kita lebih panjang, tapi selesaikan agar bisa menikmati lebaran, begitu beliau selalu meyakinkan, juga masjidnya harus tetap ada jamaahnya, agar yang jariyah tidak sia sia.

Karena tidak terurus lahan lahan itu berubah jadi hutan gelam, salah satu tumbuhan sejenis kayu putih yang masih bisa bertahan.


Sore itu selepas magrib sambil menunggu waktu isya', di dalam masjid dekat rumah mertua, yang berada di lingkungan pasar kota kecamatan, sedang ngobrol dengan salah seorang tetangga, lalu mendatangi kami seorang pedagang  yang sengaja menginap agar besok paginya bisa langsuk buka lapak ketika pasar baru buka.

" Dari mana Pak ".

" Pulau rimau ".

" Saya pulau rimau juga, sumber agung ujung dekat masjid ".

" Dekat rumah pak Haji Khumaidy ?"

" Saya putranya ".

" Saya sering sholat di sana, kalau pas kemaghriban keliling jualan ".

Obrolan pun berkembang kemana mana, di akhir obrolan pedagang itu berkata:

" Bapak sampean itu orang yang teguh, tetap menunggui masjid walaupun sudah ditinggal jamaahnya, saya kira dulu bapak sampean bisa kenyang hanya dengan makan "alhamdulillah", ternyata sedang "menganyam" masa depan, hutan gelam itu sekarang menjadi kebun sawit ".

Seketika itu saya bangga menjadi anak beliau.

Komentar

  1. Bisa dipotong2 menjadi beberapa tulisan yg semuanya menarik. Sayang kalo cm jd Satu tulisan, terlalu berjejalan tema

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendadak tumpul mas, tidak bisa mengeksplore mengirisnya lebih tipis

      Hapus
  2. Membacanya seperti saya mengaca pada cermin yang terbuka. Cermin masa lalu dan masa kini. Alur cerita dan narasinya elegan.

    Cermin dari masa lalu

    Di lingkungan saya masa lalu cerita tentang transmigrasi dan transmigran adalah cerita yang tersaji setiap hari. Banyak yang berhasil, ada pula yang gagal. Keluarga saya terpencar di hampir seluruh wilayah kalimantan timur, karena transmigrasi mandiri.

    Tante terangkut sampai ke Jambi juga karena transmigrasi.
    Membaca cerita ini perasaan saya terlarut. Ingatan terpisah dengan kawan sepermainan di sekolah dasar membayang kembali. Dan sampai kini pun tak tahu bagaimana kabar teman kecil dari masa lampau.

    Ada insiden kecil, saat keluarga besar ibu saya terpecah. Kakek dengan 5 putranya transmigrasi mandiri ke kalimantan, satu putri dan menantunya transmigrasi ke Jambi. Ibu dan keluarganya satu satunya yang tertinggal di Jawa.

    Kakek Nenek menjual beberapa petak tambak, sawah, puluhan kerbau, perahu, rumah dan semua yang dia punya untuk menyongsong hidup yang lebih baik di tanah rantau. Cerita selanjutnya beraneka rupa, sebagiannya ada yang serupa dengan cerita di atas.

    Cermin masa kini

    Sekarang di Ternate, saya banyak berjumpa dengan jejak jejak transmigran. Masyarakat Jawa di Maluku Utara adalah kisah transmigran yang sukses. Yang gagal ceritanya terlipat di balik yang berhasil. Beberapa wilayah adalah asal komunitas Jawa seperti Subaim kabupaten Halmahera Timur, Wairoro kabupaten Halmahera Tengah dan kabupaten Pulau Morotai.

    Anak anak dari transmigran sekarang hampir memenuhi kampus kampus di Ternate, sebagian sudah menduduki pos pos penting di eksekutif, yudikatif dan legislatif pemerintah daerah. Ada guyonan dari lingkungan sosial baru mereka. Seorang anggota dewan menolak duduk di pesawat kelas eksekutif. Alasannya dia anggota legislatif, bukan eksekutif. Mana ada pesawat kelas legislatif apalagi yudikatif. Yang tersisa kelas bisnis dan ekonomi😀

    Maluku Utara sepertinya menjadi negeri para perantau, kampung baru para muhajirin. Spirit hijrah sangat terasa karena mayoritas penduduknya adalah pendatang, perantau dari seluruh penjuru nusantara. Etos migran, budaya perantau membentuk subkultur baru, meski tradisi ini sudah setua tradisi manusia. Kitab suci mengabadikan kisah diaspora bangsa Yahudi dan hijrah kaum muslimin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini komentarnya lebih greng daripada tulisanya, jadi malu saya😷😷

      Hapus
    2. Cerita sampean menyentuh, membuka memoriku. Narasi sampean enak cak

      Hapus
  3. Mekawan kemustahilan dsngan kebaharuan

    BalasHapus
  4. Mantap... Ini bisa di jadikan contoh. Wong tuwo gak ngerumansani nuwoni tapi ngayomi. Semoga sehat selalu dan bs tebar kebaikan mas...

    BalasHapus
  5. Suwun sudah berkenan mampir🙏🙏

    BalasHapus

Posting Komentar