Beberapa hari yang lalu kami kedatangan tamu, tamu teknisi sekaligus sales sparepart mesin mesin PKS (Pabrik Kelapa Sawit), memang sudah lazim teknisi teknisi itu secara berkala mendatangi PKS PKS untuk menawarkan produknya sekaligus melakukan pelayanan purna jual. Kerena mereka selalu berkeliling dari satu PKS ke PKS lainya, secara tidak langsung mereka juga difungsikan sebagai kurir informasi, informasi tentang lowongan pekerjaan, informasi tentang kondisi PKS di suatu daerah, juga informasi tentang inovasi dan teknologi terbaru di dunia persawitan.
Sebagaimana kita ketahui, industri pengolahan kelapa sawit ini bukanlah industri yang sudah baku, tapi industri yang baru booming di tahun 90 an sehingga masih terbuka luas ruang untuk inovasi dan penyempurnaan, sehingga hampir tidak ada PKS yang betul betul sama persis teknologinya.
Setelah sesi mempromosikan produk yang mereka tawarkan, pembicaraan berlanjut tentang cerita cerita perkembangan terkini, beliau menceritakan tentang kunjunganya ke sebuah pabrik mini yang hanya mengolah brondolan (buah sawit yang sudah terpipil), tapi tidak seperti pabrik brondolan pada umumnya masih menggunakan teknologi odong odong, pabrik brondolan ini sudah menggunakan teknologi standar PKS, sehingga ectraction efficiency nya cukup bagus, artinya hampir semua minyaknya bisa diambil, karena loosesnya atau minyak yang terlewatkan sangat rendah, itu terlihat dari kolam limbahnya yang tidak ada minyaknya sama sekali.
Beliau menjelaskan investasi yang ditanamkan untuk membuat pabrik itu sebesar Rp 9 M, dengan produksi CPO 50 ton per bulan bisa menghasilkan laba per tahunya sekitar Rp 2 M. Beliau mendapat keterangan itu langsung dari orang yang mendesain dan mengoperasikan pabrik tersebut.
Sebagai seorang yang juga bekerja di PKS, saya tergoda untuk ikut menghitungnya, bukan hitungan dari sisi ekonomi, tapi hitungan dari sisi produksi, untuk menghasilkan produksi CPO 50 ton per bulan dengan asumsi rendemenya 25%, maka dibutuhkan bahan baku berupa brondolan buah sawit sebanyak 200 ton brondolan, kalau dibagi dengan 25 hari kerja selama satu bulan maka per hari hanya membutuhkan bahan baku sebanyak 8 ton saja per hari.
Saya jadi kepikiran dan berhayal seandainya pabrik mini itu dibangun di pulau rimau, produksi sawit masyarakat pulau rimau lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan bahan baku pabrik mini tersebut, bahkan mungkin bisa dibangun 2 atau 3 pabrik.
Hal hal yang harus dipertimbangkan jika seandainya ide itu akan diralisasikan:
1. Ketersediaan Air
Pabrik kelapa sawit adalah pabrik yang dalam prosesnya membutuhkan air yang sangat banyak, biasanya rasionya adalah 1.5 kali bahan baku, biasanya sumber air yang dimanfaatkan adalah air permukaan yang lebih mudah untuk didapatkan yans berasal dari air sungai atau air waduk yang kemudian di olah/treatment sampai mendapatkan air dengan mutu yang sesuai dengan kebutuhan PKS, kendalanya, air permukaan di daerah pulau rimau adalah air payau yang proses pengolahanya membutuhkan biaya yang lebih tinggi, itulah yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa investor berpikir ulang untuk membuat PKS dengan kapasitas yang lebih besar di daerah pasang surut.
Berbeda kasusnya dengan pabrik mini, yang kebutuhan airnya juga menjadi "mini", ini bisa diatasi dengan memanfaatkan sumber air bawah tanah, dengan menggunakan sumur bor, berdasarkan peta sebaran air bawah tanah, dibawah tanah pulau rimau tersimpan cadangan air yang melimpah, walaupun kedalamanya cukup lumayan, sebagai contoh di sumber agung, untuk mendapatkan air tawar kami harus mengebor sedalam 120 meter.
2. Lokasi Pabrik
Ini sangat erat kaitanya dengan tersedianya jalur transportasi sebagai sarana keluar masuknya bahan baku dan hasil produksi, karena tanah di pulau rimau relatif labil, maka tidak bisa hanya mengandalkan jalan darat saja, posisi pabrik harus dekat sungai, agar juga bisa memanfaatkan transportasi air, lokasi yang ideal menurut saya adalah di sepanjang kanal selat kuningan, sepanjang kanal sungai juaro, atau sepanjang kanal perbatasan antara selat kuningan dan sungai juaro.
Nilai tambah yang bisa didapatkan masyarakat pulau rimau seandainya ide itu terealisasi:
1. Nilai tambah yang paling diharapkan sudah tentu adalah laba Rp 2 M per tahun tadi, seandainya investornya adalah pengusaha lokal pulau atau kelompok tani atau koperasi yang sudah berbadan hukum yang bisa mengajukan bantuan pembiayaan dari pihak bank.
2. Memangkas biaya transportasi, dengan adanya pabrik di pulau rimau maka jarak tempuhnya menjadi semakin dekat dan biaya transportasinya akan semakin murah, disadari atau tidak selisih harga TBS di tingkat petani di pulau rimau sangat jauh di bawah harga pabrik, dan salah satu penyebabnya adalah lokasinya yang jauh dari pabrik sehingga biaya transportasinya menjadi tinggi.
3. Masyarakat bisa menjual langsung produksinya ke pabrik dengan harga pabrik, tanpa harus dikurangi oleh keuntungan yang biasa diambil oleh tengkulak.
Sekali lagi ini hanya pikiran dan khayalan saya saja, tentu dibutuhkan tekad yang kuat dan kajian yang lebih dalam lagi untuk merealisasikanya, tapi kalau ada dulur dulur yang berminat untuk mengkajinya lebih dalam, dan mempunyai tekad yang kuat untuk merealisasikanya, karena bukan suatu yang mustahil karena sudah ada desain dan contohnya. Dan untuk itu, demi kemajuan pulau rimau saya siap menjadi partner diskusinya.
Penting memelihara optimisme. Sebarkan saja informasinya, insyaAllah akan ketemu tutupnya. Tumbu oleh tutup.
BalasHapusMakasih dukunganya pak
BalasHapusTumbu ole tutup tambah kresek e ringgal nyangking gowo mole
BalasHapusLanjut pak������
Alhamdulillah boloku wes metuπππππ
HapusJane pingin komen, nek seng nulis pak Kri
Hapus