Menjadi Tua


Belakangan saya agak terkejut dengan peran yang harus saya mainkan, peran peran sebagai orang tua, sebegitu tua kah saya sehingga harus mengambil peran itu?, terus terang saya sangat tidak siap.

Dengan usia yang "baru" memasuki 45 tahun, memang wajah saya terlihat lebih tua dari yang seharusnya, terutama kalau melihat rambut, sudah hampir 45 persenya mulai meninggalkan dunia hitam, berangsur tobat mengasingkan diri dibalik peci, madek pandito mejadi uban, bisa jadi lebih dari 45 persen, karena belum pernah keluar hasil resmi sensus populasi dari pasukan kutu penghuninya.

Pas acara akad nikah adek bungsu kemarin, saya ditugaskan mewakili keluarga menyampaikan sambutan penerimaan dari penyerahan yang disampaikan oleh wakil dari keluarga mempelai pria, ini bukan tugas sembarangan, ini tugas para orang tua yang sudah kenyang pengalaman, yang sudah lanyah memberikan nasehat dan doa doa untuk orang yang baru membina rumah tangga, la saya ini siapa? Tapi karena itu tugas dari bapak maka saya tidak berani menolak, untung wakil dari mempelai pria adalah orang yang sarat pengalaman, yang menyampaikan penyerahan dengan bahasa yang santai tapi elegan, jadi saya tinggal menerima dan menanggapi dengan lebih ringan, walaupun sebelumnya lumayan deg degan.

Satu lagi yang membuat saya ketakutan jadi orang tua, bukan takut tidak bisa lagi tebar pesona, karena itu memang sudah jadi kelemahan saya sejak dari sananya, yang saya takutkan orang orang muda itu suka cium tangan, ini musim corona, kalau salaman biasa efek kontaknya bisa diatasi dengan menyemprotkan hand sanitizer ke telapak tangan, la kalau cium tangan, masak mereka harus menyemprotkan hand sanitizer ke hidung?, bisa pingsan mereka semua, betapa berdosanya saya jika si corona itu yang sekedar mampir di telapak tangan saya tiba tiba pindah ke hidung kemudian merongrong paru paru mereka.

Peran tua yang membuat saya lumayan tersiksa adalah peran pembaca doa, la wong hafalan doa saya ya cuma itu itu saja, yang selalu saya baca setiap habis sholat, makanya setiap ada selamatan atau yasinan saya usahakan datang belakangan, minimal setelah selesai pembawa acara menyampaikan susunan petugas, tapi ya itu, pas tiba giliran waktunya tetap saja ketodongan, semuanya sepakat untuk melanggar pengaturan yang disusun sang pembawa acara, kadang kadang mereka juga usil, sengaja menunda acara sampai yang "tua" datang.

Dalam hati saya suka berdoa, jangan sampai ada yang bertanya:

" Pak, doa untuk acara ulang tahun kelahiran kucing saya itu gimana ya ? "

Bisa modyar saya jawabnya.

Komentar

  1. Balasan
    1. Terimakasih sdh meninggalkan jejak

      Hapus
  2. Wis cocok dadi sesepuh. Singkat cocok untuk pak Kri. Lucunya buat saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah pingine nom terus lo pak😷😷

      Hapus

Posting Komentar