Menjaga Harga TBS di Tingkat Petani Tetap Tinggi



Seringkali kita mengeluh mengapa harga TBS di tingkat petani selisihnya terlalu
jauh dibandingkan dengan harga yang diterima di PKS.

Harga resmi TBS yang dikeluarkan Dinas Perkebunan dihitung  berdasarkan harga jual CPO dan Palm Kernel di pasaran, dengan perhutungan:

H = (( HCPO x OER ) + ( HPK x KER ) - K )) x 85%

Dimana 
H         = Harga TBS per kg
HCPO = Harga CPO per kg
OER    = Rendemen CPO  ( CPO yang dihasilkan per kg TBS )
HPK    = Harga PK
KER    = Rendemen PK ( PK yang dihasilkan per kg TBS )
K          = Konstanta ( biaya olah per kg TBS )

Kalau kita lihat tabel harga yang dikeluarkan Disbun maka akan muncul tingkatan harga berdasarkan umur tanaman, hal ini berkaitan dengan potensi rendemen CPO nya, semakin tinggi umur tanaman maka akan semakin tinggi rendemennya dan baru akan mengalami anomali menjelang umur replanting.

Tapi pada prakteknya karena bervariasinya varietas/clone dan umur tanam, untuk menentukan harga beli TBS dari petani, PKS tidak lagi berdasarkan daftar harga yang dikeluarkan Disbun, tapi berdasarkan analisa potensi rendemenya.


Hal hal yang mempengaruhi harga TBS di tingkat petani.

1. Pengumpul / tengkulak.

Untuk kepentingan efisiensi administrasi dan jaminan ketersediaan bahan baku biasanya PKS hanya melayani suplayer/penjual yang bisa memberi jaminan untuk bisa menyediakan TBS dalam jumlah yang besar, karena produksi petani masing masing jumlahnya tidak cukup banyak maka biasanya petani menjual TBS nya ke pengumpul, atas jasanya inilah pengumpul mengambil keuntungan dengan menurunkan harga beli di petani.

2. Jarak tempuh dari PKS

Semakin jauh dari PKS sudah pasti biaya transportasi akan semakin tinggi, juga waktu tempuh menjadi semakin lama, yang mengakibatkan  penyusutan karena penguapan, karena kandungan air dalam TBS cukup tinggi dan mudah menguap, juga waktu tempuh akan meningkatkan resiko kerusakan pada mutu TBS yang juga akan mempengaruhi harga.

3.  Varietas/clone bibit

Semua bibit yang dikeluarkan oleh produsen resmi apapun mereknya adalah bibit unggul tenera yang mempunyai potensi rendemen yang tinggi yang merupakan hasil persilangan antara induk dura dan pisifera, tetapi sebagaimana lazimnya bibit bibit hasil persilangan, generasi berikutnya akan cenderung kembali ke sifat induknya, untuk tanaman sawit biasanya kembali ke induk dura yang potensi rendemenya sangat rendah.

Biasanya petani di awal awal karena keterbatasan modal tidak terjangkau untuk membeli bibit resmi, dan beralih ke bibit abal abal yang sering disebut sebagai "mariles" (plesetan dari marihat leles) yang bisa jadi adalah bibit generasi kedua atau ketiga dari bibit resmi yang sifatnya cenderung kembali ke induk dura.

4. Kualitas panen

Kualitas panen sangat menentukan tinggi rendahnya rendemen, sekali lagi rendemen adalah salah satu penentu harga TBS.

Berdasarkan hasil analisa laboratorium, rendemen tertinggi dihasilkan ketika TBS dipanen saat fraksi 2, artinya dalam setiap kg berat tandan terdapat 2 butir brondolan yang lepas alami, jadi jika misalnya berat per 1 tandan adalah 10 kg, maka minimal harus ada 20 butir brondolan yang lepas alami.


Dari hal hal yang mempengaruhi harga TBS di atas ada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan dan yang bisa kita kendalikan. Hal yang tidak bisa kita kendalikan misalnya harga pasar CPO, jarak tempuh ke PKS, Varietas bibit yang sudah terlanjur ditanam, jumlah produksi yang erat kaitanya dengan luasan lahan.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar harga TBS di tingkat petani tetap tinggi?

1. Menanam dengan bibit varietas unggul.

Untuk petani baru akan menanam sawit, walaupun lebih mahal, usahakan menanam bibit dengan varietas unggul, karena itu investasi pertama dan utama dalam usaha kita berkebun kelapa sawit, yang akan menjadi salah satu penentu dari harga TBS kita sampai 25 tahun ke depan, sebagai mana kita ketahui, sawit adalah tanaman yang berumur cukup panjang.

2. Jaga kualitas panen

Ada 4 kondisi TBS yang PKS sangat alergi karena dapat mengganggu rendemen, yaitu buah dura, buah belum masak, tandan kosong dan buah busuk.

Selain buah dura yang hubungannya dengan varietas bibit, selebihnya adalah akibat kualitas panen yang buruk, memang menjadi dilema ketika petani harus memanen fraksi 2, karena harus menyediakan tenaga/biaya extra untuk mengumpulkan brondolan yang lepas, juga jika waktu tempuh ke PKS memakan waktu yang lama, begitu tiba di PKS TBS nya sebagian besar sudah menjadi tandan kosong dan kemungkinan besar akan ditolak.

Resiko berikutnya ketika memanen fraksi 2,  buah yang belum dipanen karena belum cukup fraksi, pada interval panen berikutnya sudah menjadi buah busuk, karena rata rata interval panen yang dilakukan petani cukup panjang ( 15 hari ).

Jadi agar lebih aman, buah dipanen pada fraksi 1 atau minimal mendekati fraksi 1, sehingga begitu tiba di PKS sudah berkamuflase menjadi fraksi 2, minimal fraksi 1 dan tidak akan ditolak (harga tetap aman)

3. Membentuk koperasi/kelompok tani

Dengan membentuk kelompok tani maka produksi petani akan terkumpul menjadi banyak, dengan demikian akan punya akses menjual langsung ke PKS, sehingga nilai tambah yang sebelumnya dinikmati oleh pengumpul, bisa dinikmati anggota kelompok secara bersama sama.

Demikian mudah mudahan bermanfaat dan terimakasih

Tabik🙏🙏

Komentar

  1. Banyak istilah2 partai😀
    Ada fraksi, ada pks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi semua tetap damai kok pak😷😷😷

      Hapus

Posting Komentar