MENULIS MENJEMPUT KEAJAIBAN


Dua hari ini lagi semangat2nya belajar menulis, berawal dari obrolan di WAG alumni sekolah, dipicu oleh anjuran salah seorang teman untuk membuat tulisan, "untuk kenang2an anak putu" katanya.

Tanggapan teman2 juga termasuk aku agak keberatan, karena kami rata rata punya latar belakang profesi yang tidak ada hubunganya dengan tulis menulis, kecuali beberapa teman yang sudah profesional atau semi pro dalam membuat tulisan, dengan beberapa buku yang pernah mereka terbitkan.

Bagiku, menulis sudah menjadi momok mulai dari jaman sekolah dulu, ingat dulu waktu masih kelas 2 aliyah pernah diusir guru bahasa indonesia gegara tidak bisa menyelesaikan tugas membuat tulisan yang hanya beberapa paragraf saja, juga ketika menjelang lulus sekolah, tugas membuat paper yang hanya beberapa halaman saja, yang merupakan syarat untuk kelulusan, aku baru bisa mengumpulkanya dihari terahir itupun tidak sempurna, jangankan sudah terjilid rapi, sampulnyapun belum ada, bisa diterima semata mata karena kemurahan hati para guru.

Berlanjut ketika memasuki dunia kerja, ditugaskan untuk membuat laporan tentang pengelolaan lingkungan hidup di area perusahaan tempat bekerja, yang merupakan persyaratan penilaian Badan Lingkunga Hidup terhadap kenerja perusahaan, semua data pendukungnya sudah ada tinggal menyusun menjadi sebuah laporan yang hanya belasan lembar saja, tinggal membuat narasinya sudah membuatku stress luar biasa.

Dasarnya memang seorang pendidik, dengan cerdik beliau melontarkan rangkaian pertanyaan yang belakangan baru kusadari ternyata pertanyaan pertanyaan itu adalah kerangka sebuah tulisan, beliau adalah pengajar di salah satu negeri dan beberapa perguruan tinggi lainya.

Pertanyaan pertama kutanggapi dengan kalimat kalimat yang ringan saja, mengalir seperti biasanya hanya bermaksud untuk menghidupkan suasana sebagaimana obrolan obrolan sebelumnya, karena temanya juga ringan saja, tentang kenangan masa masa di sekolah.

Bagus katanya, " ternyata menulis itu mudah kan?", kalau sekedar nulis ngelantur memang mudah, tapi kalau menulis betulan bisa stress aku.

Menulis bagus dimulai dari menulis ngelantur, atau free writing. Lakukan saja, nanti akan sampean temukan keajaiban. Kita sering menilai rendah diri sendiri. Kita sendiri yg menghakimi tulisan sendiri, dan lebih kejam dari orang lain. Di kepala kita banyak tulisan, hanya blm dikeluarkan. Ahirnya kita lebih bangga mengagumi tulisan orang lain, sebagai kompensasi pengerdilan diri, begitu beliau menjelaskan.

Paragraf  paragraf berikutnya meluncur dengan lancar, dengan cara menulis yang sama, cara menulis yang nglantur. Berikutnya obrolan di grup menjadi ramai dengan tulisan tulisan dari teman teman lainya, dengan cara bercerita yang berbeda beda walaupun sebagian masih malu malu dan ragu ragu.

"Dari kualitas narasi, bobot isi, runtut, prosoku setara  tulisane lulusan S2 ku pak, malah masih banyak yg dibawah ini. Teruske pak. Enak dibaca dan perlu". Begitu komentar beliau yang sengaja "mbombong" membesarkan hatiku.

Tidak cukup sampai di situ, beliau juga menyarankan untuk membuat blog untuk menampung tulisan tulisanku, dan memberikan contoh orang orang yang lebih dulu sukses untun menjadi inspirasiku.

Nasehat beliau "Jangan terjebak tulisan harus bagus cak. Lancar. Bendino aplod. Walau selembar. Nanti setelah 30 kali, keajaiban muncul. Yg gampang, yg sederhana, yg amat kita kuasai", dan berawal dari tulisan pertama ini akan kujemput "keajaiban" itu,  karena aku ingin "mundak pangkat" dari pangkat pembaca, menjadi pangkat pembaca dan penulis, minimal untuk kubaca sendiri sukur sukur bisa menjadi kenang kenangan untuk anak putu.

Tabik.

Komentar

  1. Keren pak. Menukis dilakukan. Bukan diangan angankan. Perjalanan ribuan kilo, dimulai dari langkah pertama.

    BalasHapus
  2. Matur suwun cak,njenengan inspirasinya

    BalasHapus
  3. Istiqomah nulise Gus, mosok gak iso koyo GusMul?😁

    BalasHapus

Posting Komentar