Pasang Surut



Saya ini termasuk penggemar acara kompetisi standup comedy di tivi, karena menurut saya untuk menjadi seorang standup comedian itu harus mempunyai kecerdasan ganda, pertama harus cerdas dalam memahami  suatu masalah dengan cara yang benar, kedua setelah paham secara benar juga bisa melihat sisi jenaka dari masalah itu, atau memplesetkan kebenaran itu menjadi hal yang jenaka, tanpa merubahnya menjadi ketidakbenaran.

Disamping penampilan comedianya, yang saya suka dari acara itu adalah komentatornya, para komentatornya tidak jarang memberikan panduan dalam membuat naskah agar menarik, disamping panduan dalam mengeksekusi naskah tersebut diatas panggung.

Panduan dalam menulis naskah standup comedy itulah yang saya adopsi dalam membuat sebuah tulisan walaupun saya banyak lupa dengan istilah istilah teknisnya, biasanya diawali dengan  "pancingan" atau pembukaan yang menarik yang membuat calon pembaca tertarik untuk melanjutkan bacaanya, kemudian diikuti dengan narasi narasi penghubung yang menggiring pembaca menuju puncaknya, atau kalau dalam bahasa standup comedy adalah punchline nya, tantanganya narasi penghubung ini tidak boleh membuat pembaca bosan menunggu punchline, untuk itu perlu ditambahkan bumbu bumbu biar menarik, baru kemudian sampai ke puchline nya, punchline nya harus sesuatu yang mengejutkan, menyegarkan, ibarat orang ngantuk disuguhi kopi, langsung byar hilang ngantuknya.

Bahan yang mau saya tulis yang saya kebingungan mencari pancinganya adalah pengalaman saya sebagai pengemudi ketek (perahu bermesin) di pulau rimau yang merupakan salah satu sarana transportasi pengangkutan barang.

Tentang ketek kami yang adalah hasil kolaborasi, dimana perahunya dibuat dari papan lantai rumah kami yang terbuat dari kayu meranti yang ukuran panjang, lebar dan tebalnya lebih dari biasanya, yang sepertinya sudah direncanakan lama oleh bapak saya sebagai investasi ketika masih jaya dan sementara waktu dipergunakan untuk lantai, baru sekarang bisa terealisasi, sedangkan mesinya punya budhe (mbakyu dari bapak) yang perahunya sudah tidak bisa lagi dipakai.

Untuk operasionalnya, saya sebagai pengemudinya, sementara pemanfaatanya dimanfaatkan oleh budhe untuk berdagang antar sungai antara pulau rimau dan karang agung tengah.

Ketek kami ketek terbuka yang tidak dilengkapi dengan kajang (dinding samping dan atap), hanya ada atap bongkar pasang yang hanya bisa melindungi kami dari  sengatan matahari tapi tidak sanggup melindungi dari hujan yang bercampur dengan angin, panjangnya 12 meter dan bisa membawa muatan 4 sampai 5 ton, pertimbanganya tidak dipasang kajang adalah karenan jembatan, semenjak jembatan kayu yang disediakan pemerintah tidak bisa dipakai lagi karena lapuk, masyarakat secara swadaya membangun jembatan pengganti yang lebih flat yang biayanya lebih murah,  sehingga kolong bawahnya menjadi lebih rendah dan tidak bisa dilewati oleh perahu berkajang, kecuali di sungai navigasi yang merupakan jalur utama transportasi, jembatanya masih tinggi tinggi.

Menjadi pengemudi ketek di daerah pasang surut itu harus jeli, disamping jeli memilih alur agar ketek agar tidak tiba tiba mogok nangkring diatas onggokan tanah, atau di atas tonggak kayu bekas tiang jembatan yang tidak terlihat dari permukaan, juga jeli memprediksi jadwal air pasang dan air surut setiap hari, karena kalau tidak, ketek bisa terjebak kandas di tengah perjalanan karena air sudah surut, dan harus menunggu air pasang keesokan harinya.

Jadwal air pasang setiap hari terus berubah, bergeser mengikuti siklusnya, pada bulan bulan musim hujan, biasanya pasangnya siang hari, dan pada bulan bulan musim kemarau pasangnya malam hari. Pasang tertinggi terjadi pada saat bulan purnama dan pada saat bulan mati (tanggal 30 - tanggal 1 di penanggalan lunar), sedangkan pasang terendah atau pasang anak, terjadi pada tanggal pertengahan antara purnama dan bulan mati.

Lazimnya kalau kita di daerah daratan, air sungai mengali dari hulu menuju hilir, berbeda  di daerah pasang surut, pada saat air pasang permukaan air laut menjadi lebih tinggi dari  air sungai, sehingga mendorong air sungai mengalir kembali kearah hulu, baru normal kembali mengalir ke arah hilir setelah surut, begitu terus setiap hari. Sehingga kalau ada yang mengirim surat dalam botol yang dihanyutkan di sungai seperti seperti di film film, suratnya hanya akan terkatung katung mondar mandir ke hilir kembai ke hulu, ke hilir kembali ke hulu seperti setrika dan tidak pernah sampai, dan seandainya itu surat cinta untuk kekasihnya yang ada di muara, kasihan kekasihnya merana menunggu lama sampai tua.

Untuk daerah daerah di pinggiran sungai besar atau daerah yang kanal kanal nya masih lancar, air pasang bisa sampai menggenangi lahan pertanian, dan langsung kering setelah air surut kembali, ini berkah, pada saat pergantian dari pasang menjadi surut, air menjadi tenang, dan lumpur yang terbawa air jadi mengendap tertinggal di lahan pertanian, lumpur yang kaya akan hara tadi menjadi pupuk alami yang datang sendiri, tanpa harus antri menunggu distribusi jatah subsidi. Tapi juga bisa menjadi awal petaka, karena pengendapan tidak hanya terjadi di lahan pertanian, tapi juga di kanal kanal, sehingga cepat menjadi dangkal, ditambah lagi pohon bedado dan tumbuh tumbuhan yang tumbuh di sepanjang bibir sungai yang semakin merajalela.

Karena kanalnya tidak lagi lancar, begitu musim hujan air tergenang berhari hari, tanahnya menjadi asam, ph nya turun, yang muncul karat besi, tanah yang tadinya ramah jadi marah, tidak mau lagi ditumbuhi tanaman sawah, kalau sudah begini rehabilitasinya harus menunggu tangan tangan alat berat pemerintah, karena tidak terjangkau lagi oleh cangkul cangkul kecil para petani.

Seminggu sekali kami berangkat ke karang agung, sebagai daerah trans yang lebih baru tanahnya masih subur, membeli hasil bumi, singkong, jagung, ubi rambat, sayuran untuk dijual di pulau rimau yang mulai sulit didapatkan, perjalananya menyuri kanal selat kuningan, menyeberangi dan menyusuri sungai calik, baru masuk ke kanal karang agung, yang memakan waktu hampir setengah hari.

Pada saat musim kemarau keteknya baru bisa berjalan malam hari, pada saat itulah kami berubah menjadi makhluk nocturnal seperti kelelawar, malam keluyuran cari makan siangnya tidur, tapi ada hiburanya tersendiri, karena air lautnya lebih pekat daripada air sungai, jutaan planktonya juga ikut ikutan masuk sungai, riak air karena dilewati ketek jadi bercahaya, seperti ada ratusan kunang kunang berenang di dalamnya.


Dan rencananya, yang mau dijadikan punchline tulisanya adalah pengalaman yang sangat berkesan, ketika waktu itu pulang dari karang agung habis magrib menyeberangi sungai calik, muatan ketek lumayan sarat, tiba tiba hujan lebat dengan angin kencang, hati mulai was was karena berani jadi pengemudi ketek tapi tidak bisa berenang, alhamdulillah memasuki muara selat kuningan hujan sudah reda dan air mulai tenang, tapi badan sudah basah kuyup semua, terdorong oleh rasa kasih sayang pada ponakanya yang kedinginan, budhe meletakkan lampu minyak di belakang tempat duduk kemudi saya, saya sangat terbawa perasaan, badan saya terasa hangat, dan kesan itu sangat membekas, melekat pada lobang di bagian punggung jaket yang saya kenakan karena terbakar.

Ternyata ide dan imajinasi juga ada pasang surutnya, mudah mudahan kisah ini nanti bisa terealisasi menjadi tulisan yang cukup menarik.

Salam 🙏🙏

Komentar

  1. Paragrap pertama gak usah ditampilkan

    BalasHapus
  2. Boleh nggak mengemudi ketek bawa jas hujan dan helm. Jaga2 bekne hujan. Aku pernah cak bawa perahu mesin, dari sungai menuju laut lepas. Kalau sebaliknya, gak berani. Takut kandas di tunggak kayu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo klakepan kepanasan pak😄😄

      Hapus

Posting Komentar