Pisangku Tidak Hilang



Nanasku hilang, memang sudah kuduga sebelumnya selama kutinggal 3 hari nanas itu akan hilang, wajar saja sebelum kutinggalkan manas itu sudah tua, tinggal menunggu ranumnya saja, cita citaku untuk menikmati nanas tanamanku sendiri yang masak di batang kali ini sia sia, tapi tidak apa apa masih banyak buah nanas lainya yang tinggal menunggu waktu untuk tua, lagian nanas bukan buah favoritku, hanya suka merawatnya, karena buah favoritku adalah pisang, pisang lokal, bukan sok nasionalis, tapi memang begitulah adanya.

Ingatanku tentang pisang paling awal adalah ketika masih di jember sekitar 40 an tahun yang lalu, sama bapakku ditanam pisang morosebo di depan halaman disamping kiri dan kanan gawangan menuju rumah, pisangnya cebol, batangnya pendek tapi buahnya besar dan tandannya landung hampir menyentuh tanah, karena bentuknya yang eksotik, lebih kami fungsikan sebagai konsumsi mata daripada konsumsi mulut, sayangnya waktu itu belum ada kamera hp, kalau ada pasti sudah menjadi spot favorit untuk swafoto.

Karena kesukaanku sama pisang sangat tinggi, di pekarangan rumah dinasku di kebun, di samping kutanami nanas juga kutanami pisang, sementara ini baru ada tiga jenis, pisang udang/kidang, pisang kapas/kapuk, dan pisang barangan, pinginya mau kutambah lagi koleksi jenisnya.

Waktu masih kecil dulu di pulau rimau sepanjang pinggiran pekarangan kami yang panjangnya 100 m ditanami pisang, pisang bugis kami menyebutnya, karena bibit pisang itulah yang paling mudah kami dapatkan waktu pertama kali datang trans, dari orang orang bugis yang berhuma di sepanjang tepian aliran sungai calik dan sungai tanah kering, belakangan baru kami tahu kalau nama pisang itu adalah pisang kedah, kami baru tahu karena jenis pisang itu belum pernah kami temui sebelumnya di tempat asal kami di jember.

Sebagai penggemar pisang, pengetahuanku tentang perpisangan cukup lumayan, contohnya ya pisang kedah tadi, jenis pisang yang lezat untuk dimakan dalam versi yang masih original maupun versi olahan, contohnya dibuat kripik, nogosari, pisang goreng/godo, ongol ongol, dicampurkan dalam ketan untuk dibuat lemang, atau diawetkan dibuat salai ketika sudah terlalu masak karena tidak habis untuk langsung dimakan. Jenis jenis pisang ini biasanya mempunyai keistimewaan, yaitu daunya lebih lentur dan tidak mudah koyak sehingga cocok untuk dibuat takir, pincuk, atau pembungkus makanan lainya, keistimewaan lainya adalah jantungnya bisa diolah jadi makanan, dibakar kemudian disantan rasanya mantab, pisang lainya yang sejenis adalah pisang kepok/kripik, pisang gablok, satu lagi pisang klutuk/pisang batu, khusus pisang klutuk ini tidak dianjurkan buahnya untuk dikonsumsi, karena dalamnya penuh biji, kecuali anda cukup punya waktu untuk nyisili.

Ada juga jenis pisang kembang meja, yang cocok untuk makanan penutup atau cuci mulut sehabis makanan utama, contoh jenis pisang ini adalah pisang ambon, pisang gadis/pisang putri/pisang barlin, pisang mas, pisang susu, pisang raja dan pisang barangan, tapi yang paling favorit diantara pisang pisang itu adalah pisang ambon, kecuali bagi orang medan, popularitas pisang ambon kalah jika dibandingkan dengan pisang barangang, mungkin karena kesal atau dendam, karena ternyata oleh oleh khas medan ternyata juga dinamai sebagai bika ambon.

Ada bebera jenis pisang dari bentuknya sudah unik, seperti pisang udang/kidang yang pelepah dan kulit buahnya berwarna merah keunguan, juga pisang raja seribu yang buahnya tidak habis habis itu, juga pisang morosebo yang sudah diceritakan tadi.

Ada juga jenis pisang yang agak aleman, harus menunggu betul betul matang baru enak dimakan, contohnya ya seperti pisang kapas/kapuk dan pisang susu tadi, tapi begitu cukup matang rasanya ngangeni.

Karena tidak dianggap sebagai buah yang berkelas, masalah perpisangan  ini tidak banyak dibahas, baru di era digital ini belakangan ada yang sempat viral, katanya di amerika gedebog pisang dijual dengan harga yang bikin geleng kepala. Yang bikin emosi itu dalam iklan iklan obat kuat, gambar pisang dijadikan ilustrasi lambang kejantanan, ini sangat melecehkan para penggemar pisang, mudah mudahan itu bukan pisang ambon atau barangan, tapi pisang cavendis yang impor itu, yang walaupun besar dan panjang tapi rasanya sepo.

Kembali ke pekaranganku, alhamdulillah pisangku tidak ikut hilang, bukan pisang cavendis, tapi pisang kapas yang ukuranya sedang, yang rasanya legit saat digigit, yang ngangeni apalagi kalau dikonsumsi dua minggu sekali.

Komentar

  1. Balasan
    1. Arep mbahas lainya lagi buntu utek ku mas😄😄😄

      Hapus
  2. Pengalaman sampean dg tanaman jadi mengingatkanku pada banyak tanaman dan ayam yg selalu di panen orang. Pisang, mangga, nanas, pepaya, limau. Manenya tdk tanggung2, bawa gerobak.😀

    BalasHapus
  3. Itu ngrampok namanya pak😀😀😀

    BalasHapus

Posting Komentar