Pulau Rimau KW




Salah satu kelemahanku yang paling akut adalah sangat susah mengingat nama dan wajah orang, dan itu sering membuatku sangat menderita, karena gara gara itu aku merasa sering tertuduh sebagai orang yang sombong, entah siapa yang pertama kali membuat definisi bahwa kesombongan itu dikaitkan dengan ketidakmampuan mengingat wajah dan nama, dendam sekali aku sama dia.

Ada yang minta berteman facebook, dan permintaan pertemananya kuterima, kemudia dia mengirim pesan:

" Apa kabar mas? "

" Alhamdulillah baik ".

" Lupa ya sama saya ".

" Mohon maaf siapa ya ".

" Coba diingat ingat lagi ". 

" Mohon maaf saya benar benar lupa ". (mulai emisi)

" Sombong ya, mentang mentang sudah sukses ".

Dan percakapan pun kuakhiri.

Bagaimana bisa aku mengenalnya, foto profilnya foto anaknya, sementara akunnya pakai nama samaran yang susah dieja itu, pakai foto dan nama aslinya sendiri saja belum tentu aku ingat, apalagi pakai foto anaknya dengan nama samaran, benar benar gila.

Mungkin karena terlalu sering pindah pindah tempat dan terlalu banyak wajah dan nama yang harus kuingat membuat memori di otakku jadi overload dan akhirnya ngeheng, malah jadi tidak ingat sama sekali.

Contohnya di pulau rimau, masa tinggalku terbagi menjadi dua fase, fase anak anak dan fase dewasa, fase anak anak ku di pulau rimau hanya 5 tahun, dari kelas dua sampai tamat SD, itupun terbagi menjadi 2 tempat, satu setengah tahun di dana mulya, tiga setengah tahun di sumber agung, jadi kalau disuruh mengingat teman sekelas waktu SD saja, maka mesin pencari di otakku harus bekerja dua kali lipat, mempeoses data teman waktu di dana mulya sekaligus teman waktu di sumber agung,  belum lagi kalau dikembangkan menjadi teman kakak kelas, teman adik kelas, teman ngaji, teman jumpritan, teman macing, teman sodor, teman.... Sudah, sudah, mulai budrek aku..

Selepas SD aku sekolah MTS di jember yang juga berati tidak ada satupun kawanku waktu SD  sekaligus menjadi kawanku di MTS, yang artinya lagi berarti otakku harus mengenal dan mengingat kawan kawan baru lagi.

Selepas MTS aku melanjutkan sekolah aliyah di lamongan yang secara geografis lumayan jauh dari jember, yang berarti tidak satupun kawan yang sudah kukenal di jember menjadi kawanku di lamongan, jadi terulang lagi urusan kawan mengawan ini meneror memori di otakku.

Selepas aliyah pulang ke pulau rimau, dan masuklah ke fase kedua masa tinggal di pulau rimau, yaitu fase dewasa, harapanku mudah mudahan fase ini berjalan lebih mudah karena otakku tinggal  mengorek sedikit memori  tentang kawan kawan kecil ku dahulu, tapi ada sedikit masalah, walaupun sama sama di sumber agung tapi tidak pulang ke jalur 15 tempat masa kecilku dulu, tapi pindah ke jalur 23 yang tentu orang orang yang ditemuai juga berbeda, tapi itu juga bukan terlalu jadi masalah karena jaraknya dekat saja, karena yang jadi masalah sebenarnya adalah ternyata teman teman kecilku dulu sudah pada bubar semua pergi merantau ke tempat lain untuk mencari penghasilan, yang belum tentu setahun sekali bisa ketemu lagi, tiga tahun berikutnya giliran aku yang merantau, maka lengkaplah sudah beban penderitaan memori di otakku untuk mengingat teman teman ku.

Karena tidak banyak yang bisa kuingat dari orang orang pulau rimau, maka sempat terfikir olehku bahwa sebenarnya aku ini bukan benar benar orang pulau rimau, alias orang pulau rimau KW, walaupun KTP masih KTP pulau rimau, belum mengurus surat pindah walaupun sudah tidak lagi tinggal di pulau rimau.

Celakanya lagi ternyata wilayah pulau rimau yang pernah kutempati, masuk ke wilayah kecamatan baru hasil pemekaran, yaitu kecamatan selat penuguan, bukan lagi wilayah kecamata pulau rimau, maka lengkaplah sudah ke KW anku sebagai orang pulau rimau.

Alhamdulillah setiap kali pulang lebaran, ternyata masih ada juga yang mengenaliku di pulau rimau, dan agar tidak dianggap sombong maka setiap bertemu orang kuusahakan untuk selalu tersenyum, siapa tau kenal, walaupun kadang kadang senyumanku bertepuk sebelah bibir, senyumanku melayang sia karena ternyata mereka tidak kenal.

Teringat lebaran beberapa tahun lalu, ada datang kerumah, anak anak muda bertamu, setelah mempersilahkan duduk kemudian kutanyai " adik adik ini dari mana ?", kompak mereka tersenyum, ternyata mereka adalah anak anak yang dulu setiap sore kuajari ngaji.

Malu sekali aku.

Jangan jangan aku ini ternyata belum pikun tapi sudah mulai tua.

Komentar

  1. Pikun itu nasib, tua itu takdir. Jadi begitulah nasib takdir sampean.πŸ˜€ Mbarep belum bali pondok pak?. Atiku dedel duwel, seng neng pondok, durung ketemu mulene wis ditinggal bali. Kakange yo ngono, kadane wayahe seneng2e ngobrol mbek anak joko, wis arep lungo adoh neh. Kadang rasane atiku nasibku mbek sampean 11 12.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung sudah jaman internet ya pakπŸ˜„πŸ˜„

      Hapus
  2. Di km 14 mas, tetapi jiwa dan raga saya tetap di pulau rimauπŸ˜„πŸ˜„ lebay

    BalasHapus

Posting Komentar