Pada era tahun 80 an ketika belum ada jalur transportasi darat yang bisa tembus ke pulau rimau, jalur transportasi yang bisa diandalkan hanyalah jalur transportasi laut/sungai.
Pada saat itu jika ingin bepergian ke palembang wajib membawa bekal makanan, karena perjalananya bisa memakan waktu belasan jam, disamping karena rutenya yang memang sangat jauh, menyusuri sungai calik sampai ke muaranya di tanjung sere, menyusuri pesisir timur pulau sumatra yang berhadapan langsung dengan selat bangka, masuk ke sungai banyuasin, melintasi kanal PU sampai ke sungai gasing, masuk sungai musi mengarah ke hulu, baru sampai palembag, juga karena moda transportasinya adalah perahu motor atau ketek, yang kecepatanya hanya seperti kalau kita berjalan kaki dengan agak tergesa gesa, memang ada alternatif lainya dengan menggunakan speedboat yang lebih cepat, tapi ongkosnya mahalnya selangit.
Karena untuk rute jarak jauh, ketek yang digunakan adalah yang berukuran besar, yang bisa mengangkut muatan lebih dari 40 ton, dan bisa membawa penumpang puluhan orang.
Ketek biasanya berangkat dari jembatan primer dua jam enam pagi, setelah sebelumnya menjemput penumpang di primer tiga, dan akan berhenti lagi jika ada penumpang di primer satu.
Ketika matahari sedang terik, naik ketek betul betul membosankan dan menyiksa, disamping karena gerah, juga ruang gerak yang terbatas karena ketek tidak hanya berisi penumpang, tetapi juga barang, ditambah lagi geremengan suara bising mesin yang tak pernah berhenti mendominasi lobang dan gendang telinga. Panas yang begitu menyengat itu tidak hanya berasal pancaran langsung sinar matahari, tapi juga ditambah dengan panas sinar matahari yang dipantulkan oleh pemukaan air, seperti cahaya yang dipantulkan oleh kaca.
Tapi begitu hari mulai senja, semua gerah dan rasa bosan seperti terbayar lunas, gerahnya seketika hilang disapu oleh semilirnya angin pasang, apa lagi kalau duduk di atas atap, panorama langit senja terlihat dengan lepas dari atas permukaan sungai banyuasin yang terbentang luas, dan ketika terlihat kawanan lumba lumba air payau yang melompat lompat di permukaan air seperti menari nari memamerkan aksi, juga daun daun nipah yang melambai lambai digoyang semilir angin sepanjang pinggir sungai.
Ketika ketek melintas agak ke pinggir, riak anak gelombangnya segera mengusik kawanan kadal laut, sejenis ikan yang ukuranya sebesar jempol kaki orang dewasa, yang mencari makan diatas permukaan lumpur dengan merayap berseluncur menggunakan badan dan kedua siripnya, diantara akar akar pohon bedado yang muncul ke permukaan, yang sebelumnya meraya didalam lumpur seperti tentakel tentakel gurita.
Ketika malam menjelang keindahanya tidak serta merta ikut menghilang, berbaring menghadap langit terbuka, dengan kerlap kerlip benda langit yang bercahaya, juga menghadirkan sensasi yang luar biasa, ditambah lagi sayup jauh cahaya lampu petromak di depan sana, yang digantung diujung tiang barisan jaring tuguk sebagai penanda, seperti berjalan mendekat dengan lambat, juga menggoda mata untuk memperhatikanya.
Tiba di palembang biasanya menjelang subuh, ketek bersandar di dermaga pasar 16 ilir yang tidak terlalu jauh dari samping jembatan ampera, sehingga megahnya jembatan ampera terlihat dengan jelas, juga kendaraan yang melintasinya, terlihat masih jarang karena hari masih remang.
Tidak jarang muda mudi mendapat pasangan selaman perjalanan, berpisah sementara karena tempat kerja dan majikan yang berbeda, saling berjanji untuk bertemu lagi nanti di kampung halaman.
Oh ya, hampir lupa, ketek yang setia mengantar kami dari pulau rimau ke palembang setiap minggunya itu, dibagian depan dan atasnya tertulis nama "Jasa Mesra".

Jebakan Jasa Mesranya kena deh. Bagaimana Palembang cem mana kabarnya?ππ
BalasHapusAlhamdulillah sehat galo
BalasHapusJebakan batman.
BalasHapusNarasinya suka pak. Di tambahin lagi spy pembaca bs berandai2 ttg indahnya alam rimau
Terima kasih masukanya, untuk evaluasi kedepanya, masih terus belajarππ
Hapus