Suara dentuman senapan polisi hutan itu terus terngiang menghantui dua orang anak dan bapak itu, rasa was was terus saja berdesir hadir mana kala sayup terdengan samar suara mesin speedboat dari kejauhan, seolah olah itulah speedboat satu satunya di dunia, milik polisi hutan yang menyatroni pondok mereka di tepi sungai keladi sore tadi, masih belum teratur degub jantung yang memburu sejak mereka lari terbirit birit meringkuk masuk ke semak belukar ketika pertama kali mendengar suara senapan ditembakkan disertai teriakan "keluar!!", lutut mereka bergetar, mata dan telinga terbuka waspada sampai akhirnya suara speedboat itu bergerak menjauh setelah meninggalkan dua suara tembakan berikutnya.
Tidak ada perlengkapan di dalamnya yang hilang atau rusak, juga dengan pondoknya, rupanya kunjungan tadi hanya peringatan saja, tapi itu sudah cukup membuat nyali mereka runtuh, nasi plus sambal teri yang beberapa hari ini selalu lahap mereka santap sebagai satu satunya menu buka puasa di dalam hutan setelah lapar dan penat seharian menebang dan menguliti kayu mahang, terasa hambar melewati tenggorokan tak ada rasa, juga sembahyang magrib dan isya' yang malam ini tanpa disertai tarawih tidak juga membuat hati mereka menjadi tenang, reputasi yang selama ini dijaga sebagai orang baik ternodai oleh suara bentakan polisi, diputuskan subuh nanti pulang, tidak usah diteruskan lagi, dengan mendayung sampan menyamar sebagai nelayan yang mencari ikan sepanjang sungai dengan sesekali menebar jala.
Itulah pertama ia kerja, mbalok, menebang kayu dihutan, untuk dikirim ke sawmill yang banyak berdiri di perkampunyan sepanjang pinggiran sungai, berbekal parang besar dan bahan makanan untuk jatah makan sebulan selama di hutan, selain beras, minyak goreng, garam, juga lauk yang bisa tahan lama, biasanya ikan asin atau teri, tidak lupa cabe yang sudah dikaringkan, jika ingin sayuran segar bisa mengambil umbut palas yang tumbuh liar yang rasanya sedikit pahit, atau menunggu kangkung yang hanyut terbawa arus sungai sungai keladi, juga kelambu, karena di hutan banyak sekali nyamuk, apalagi kalau ada babi hutan yang mendekat, yang biasanya diiringi oleh pasukan nyamuk yang mengerubutinya.
Waktu itu dua hari menjelang puasa, kondisi sedang sulit, jangankan untuk merencanakan aneka menu untuk berbuka, untuk makan besok pagi saja belum terpikirkan, belum lagi memikirkan kedua adiknya yang masih sekolah di jawa yang waktunya mendapatkan kiriman, mungkin itulah kondisi tersulit semenjak ia pulang dua bulan yang lalu, lalu ada yang datang menawarkan uang 300 ribu, sebagai uang perskot untuk dua orang, untuk berangkat mbalok ke hutan.
Berawal dari balasan surat yang ia terima dari ibunya ketika ia meminta izin untuk melanjutkan sekolan menjelang tamat dari aliyah, merasa tidak terlalu kesulitan dalam menyerap setiap pelajaran, juga terbawa oleh riuhnya pembicaraan dari teman temanya yang mulai merencanakan selepas aliyah melanjutkan kemana, membuatnya menganyam cita cita ingin menjadi insinyur pertanian.
" Pulang dulu nak, ibu sudah rindu, sudah 6 tahun kamu tidak pulang ke rumah, sekolahnya bisa dilanjutkan setelah kamu pulang ".
Sejenak ia termangu sebelum melangkan menuju pintu potong dua yang daun atasnya setengah terbuka, "benarkah ini rumahku?", dua rumah yang dijadikan satu, yang sebelah sepertinya untuk jualan, terlihat dari bagian depanya yang bukan jendela, tapi deretan papan vertikal yang tersusun satu meter di atas lantai yang setiap papanya ditulis angka berurutan, terasa asing baginya, karena 6 tahun yang lalu ketika ia berangkat ke jawa mereka masih tinggal di jalur 15, belum pindah ke jalur 23.
" Assalamualaikum ", agak ragu ia mengucap salam sambil mendorong pintu bagian bawah yang agak kesat karena bergesekan dengan lantai tanah.
" Waalaikum salam, loh, le.. Wes teko..", dilihatnya senyum ibunya mengembang, datang menyambut setelah seketika menghentikan kegiatanya menumbuk jagung di pojok ruangan bersama seorang wanita yang belakang baru tahu bernama bek hami tetangga satu satunya yang rumahnya persis di belakang masjid. Terlihat rona bahagia dan haru di wajah ibunya, ada butiran butiran ampok menempel didahi yang terikut ketika menyusut anak rambut yang jatuh karena ayunan badan ketika menjatuhkan alu ke lobang lumpang, sedikit menutup garis garis samar di tepi dahi.
Sekilas diedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan, ruanganya kosong tidak ada lagi barang yang dipajang sebagai dagangan, hanya ada timbanyan dacin yang teronggok diatas meja kosong yang kusam dan berdebu, juga timbangan gantung yang bersandar di sudut meja yang garis garis angkanya mulai pudar tertutup daki,
" Bapak pundi ?"
" Bapakmu sore nanti baru pulang".
Ternyapa bapak sedang buruh matun di jalur depan, yang pulangnya bukan membawa uang, tapi satu setengah kilo beras dan sedikit belanjaan.
Dihampiri dua adik laki lakinya yang sedang bermain sambil menunggui adik bungsu yang masih bayi, terlihat masih malu malu saat menerima dua bungkus roti dari kakak sulungnya baru sekali ia lihat saat dua tahun lalu sekeluarga mereka kunjungi.
Setelah masuk kamar dan meletakkan tas pakaian, lama ia terpaku duduk di bibir dipan, terpaku menahan air matanya agar tidak keluar karena sesal, menyesal karena terus sekolah sementara orang tuanya sedang sangat susah, terbayang dua lagi adik yang masih sekolah di jawa dan butuh biaya.
Seketika ia tidak lagi menyesal karena tidak jadi kuliah, karena dia mulai sadar, sudah mendapatkan mata pelajaran pertama dari " kuliahnya " yang akan sangat panjang, pelajaran tentang perjuangan orang tua untuk pendidikan anak anaknya

Nek Wis bar proyekku, bbrp tulisan pean takeksplore lan exploitasi, nyuwun ijin
BalasHapusDpermonggo mas, dengan senang hati
BalasHapusLanjutkaaaan.. jadi kembali ke masa tutur tinular..
BalasHapusPangestune Gus🙏🙏🙏
Hapus����
BalasHapus👍👍👍
HapusLayange ngangge pegon nopo latin pak Luk?
BalasHapusBagi Generasi kita, kuliah merupakan barang mewah. Banyak yang berusaha tapi tak sempat meraihnya. Tetapi tak mematikan semangat utk terus belajar.
BalasHapus