Beberapa hari lalu diingatkan oleh Bulek dalam grup WA keluarga tentang momen yang bertepatan dengan haulnya almarhumah Nyai, tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap orang orang lainya yang banyak berjasa dan menjadi inspirasi dalam perkembangan hidup saya, tapi Nyai memang menempati posisi yang istimewa, beliau adalah teladan yang nyata di depan mata.
Nyai itu nenek kami (ibunya bapak), entah kenapa kami cucu cucunya diajarkan untuk memanggil beliau Nyai, padalal lazimnya di masyarakat lingkungan kami panggilan untuk nenek adalah Mbah, panggilan Nyai biasanya diberikan kepada istrinya kyai, orang yang alim, guru atau pengasuh pondok pesantren.
Mungkin karena Nyai adalah istrinya Yai (kakek kami), Yai bukanlah Kyai pengasuh pondok pesantren, Yai hanya guru tarekat, di samping rumah Yai hanya ada langgar kecil dari bambu, disamping untuk sholat, juga untuk menerima tamu, orang orang dewasa untuk berdiskusi atau belajar ngaji, sempat direncanakan untuk direhab dan dibesarkan tapi belum terealisasi karena keburu beliau wafat, meninggalkan Nyai dan anak anaknya yang belum lagi menginjak remaja.
Nyai bertemu Yai ketika mondok di curah kates, Yai meninggalkan kampung halamanya di pedalaman di kaki gunung di wilayah kabupaten jombang, memisahkan diri dari saudara saudaranya yang terkenal dengan reputasi sebagai bromocorah, memilih jalan yang berbeda nyantri di pondok di wilayah kabupaten jember, karena tidak pulang pulang dan hampir menjadi santri abadi sampai memasuki usia yang lebih dari matang, akhirnya dinikahkan dengan keponakan dari Bu nyai, itulah awal perjumpaan Yai dan Nyai.
Semenjak menikah dengan Yai, hanya sekali Nyai diajak mengunjungi kampung halaman suaminya, yaitu ketika dikenalkan dengan keluarganya setelah pernikahan, setelah itu tidak pernah lagi sampai Yai wafat, dan akhirnya kepaten obor.
Sebagai orang tua tunggal dari enam orang anak yang masih kecil kecil, kehidupan Nyai sangat kekurangan, hanya mengandalkan unduhan kelapa dan pisang yang ditanam di tegalan yang luasnya tidak seberapa, hasilnya masih sangat jauh untuk mencukupi kebutuhan sehari hari, tidak ada jalan lain, harus mengetatkan ikat pinggang dalam arti yang sebenarnya, makan ditakar sekedar untuk menghibur perut dari rasa lapar, tidak jarang sebagai anak laki laki paling tua, tidak tega melihat adik adiknya masih lapar setelah makan, dengan sembunyi sembunyi di belakang Nyai, bapak memanjat pohon kelapa memetik barang sebutir buahnya yang sedang menunggu tua, untuk dijadikan makanan tambahan.
Walaupun sangat kekurangan Nyai tidak sembarangan, sangat disiplin berhati hati dalam mendapatkan rizki, setiap kali bapak pulang membawa hasil dari jerih payahnya membantu orang mengolah sawah, terlebih dulu diintrogasi sebelum masuk rumah, dari mana rizki itu didapatkan, benarkah imbalan dari keringat yang dikeluarkan, bukan sekedar mengharap belas kasihan, atau mendapatkan dengan cara yang tidak dibenarkan.
Walaupun bebannya sangat berat, Nyai tetap setia kepada Yai, pernah ada seorang kyai mungkin karena simpati, berkenan meminang Nyai untuk diperistri tapi Nyai tidak berkenan, bertahan membesarkan anak anaknya sendirian.
Sebagai pengikut tarekat yang taat, beliau sangat ketat menjaga akhlak, beliau orang yang murah senyum, tapi tidak pernah/jarang sekali tertawa, bicaranya halus, sekedar lawan bicara bisa mendengar, walaupun susah tidak pernah berkeluh kesah, tidak pernah terlihat bergunjing, rasan rasan membahas kejelekan orang.
Setelah tamat SD di pulau rimau, saya sekolah di jember, tinggal dan diasuh di rumah Nyai, beliau sudah sepuh, tapi masih bisa beraktivitas, dan sebagian besar aktivitasnya dihabiskan untuk ibadah, sesekali masih menyempatkan diri mencabut rumput di halaman, mengambil daun daun pisang untuk dijual ke tukang sayur langganan beliau, atau merawat tanaman koro putih yang dirambatkan di anjang anjang samping rumah, selepas beliau melaksanakan sholat dhuha.
Lazimnya seorang nenek biasanya sangat menyayangi cucu cucunya, dengan memanjakanya dan menjadi permisif ketika cucunya melakukan kesalahan, tapi tidak dengan Nyai, beliau menunjukkan kasih sayangnya kepada cucu cucunya dengan melatih untuk menjadi pribadi yang disiplin, jangankan untuk bangun kesiangan, tertinggal jamaah sholat subuh pun pasti beliau akan duko/marah.
Nyai juga sangat peduli dengan pendidikan, beliau selalu akan mengingatkan kapan waktunya ngaji dan kapan waktunya sekolah, pernah ketika menjelang ujian, kami dibangunkan jam tiga malam disuruh belajar, karena belum terbiasa terjaga di tengah malah, saya tertidur lagi di kursi dengan wajah tertelungkup di meja berbantal buku, dengan sabar dibangunkan lagi oleh Nyai dan disuruh belajar lagi.
Walaupun sangat disiplin tapi Nyai sangat pintar membuat cucu cucunya merasa istimewa, sering ketika sedang sendirian, beliau datang ke kamar menyerahkan pisang atau lainya sambil setengah berbisik " jangan kasih tau yang lain, ini khusus buat kamu ", padahal belakangan baru tau, kalau semua cucunya diperlakukan sama seperti itu.
Sunggu pengalaman melayani Nyai, menimba air penuhkan bak untuk beliau mandi, membonceng dengan sepeda mengantar beliau ke tempat pengajian suwelasan, merapikan anjang anjang tanaman koro kesayangan beliau, adalah pengalaman yang sangat membahagiakan.
Semoga walaupun di dunia Nyai dan Yai sempat terpisah, dipersatukan lagi abadi di dalam jannah.
Teruntuk Nyai dan Yai, lahumal faatihah.

Saya sudah pernah baca tentang nama Bapak sampean, Mbah Yai ancen sufi tenan. Tapi ada dzuriyat Jombang baru tahu sekarang. Jombang biasane sambung Gresik, nDersemo, Lasem, Rembang lan sakpinunggale. Bab Penting niki.π
BalasHapusDzuriat jombang dari jalur hitamπππ
HapusNek Jalur sutra, rute dagang pak
Hapusπππ
Hapus