Ini thema yang sangat berat menurut saya, karena ibarat meludah kelangit, ludahnya akan jatuh ke muka sendiri, juga karena takut kualat karena sudah diwanti wanti dalam kitab suci, " Kenapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan".
Tapi karena ini adalah amanat dari sahabat sekaligus guru, Gus Glory, maka nawaitu saya berniat insyaallah sekuat tenaga akan saya ikhtiari.
Dalam banyak kesempatan saya ini termasuk korban sekaligus pelaku dari niat yang "kurang niat", niatnya masih setengah hati, niatnya masih basa basi, belum sepenuhnya dilaksanakan, ibarat mau berjalah tapi kaki belum juga dilangkahkan.
Pinginya mengajak, menghimpun dulur dulur petani membentuk kelompok atau semacam koperasi, untuk menaikkan nilai tawar agar produksinya bernilai lebih tinggi, tapi selalu ragu ragu untuk melangkah, malah mengkeret bersembunyi dibalik profesi.
Maunya ingin istighna' melepaskan diri dari mengharap gaji, tapi selalu dihantui bayang bayang, ketakutan melepaskan zona nyaman.
Tapi belakangan ini berkat nasihat dari sahabat, saya bisa menikmati bahwa niat yang "niat" itu ternyata dahsyat, kuncinya adalah "lakukan" saja, gak usah kebanyakan mikir, jangan membebani diri sendiri dengan ekspektasi terlalu tinggi yang membuat kaki menjadi berat, lakukan dengan kesungguhan, selebihnya akan muncul keajaiban, semua akan baik baik saja.
Sahabat saya itu adalah Cak Syaifuddin, maaf Cak, gelar njenengan yang panjang itu tidak saya sebutkan, karena njenengan sahabat saya.
Inilah hikmahnya bersahabat dengan orang orang hebat, ada yang menguatkan, jadi ikut kesabapan "wanginya", mudah mudahan dengan bersahabat dengan saya beliau beliau itu tidak sampai terkontaminasi dengan "aroma sangit pandai besi".
Waktu madrasah dulu diajarkan bahwa niat letaknya di awal perbuatan, kerena disitulah titik terberatnya, ibarat mesin olinya belum menyebar rata melumasi gigi gigi transmisi, jadi memang berat, setelah 3 atau 4 putaran baru terasa nyaman.
Juga ingat waktu aliyah diajari ilmu fisika oleh Bu Masfufah, benda yang diam akan tetap diam sampai ada gaya yang menggerakkanya, begitu juga benda yang bergerak akan terus bergerak sampai ada gaya yang menghambatnya.
Jadi lakukan dengan niat dan effort yang kuat sebagai gaya penggerak langkah pertama, selebihnya tinggal mengendalikan hambatanya.
Beberapa hari ini dengan suka cita saya mengurangi jadwal istirahat saya, bagaimana bisa, ide ide itu meronta ronta di kepala ingin segera dilepaskan dalam tulisan, ini gila, sensasinya luar biasa. Ini bermula setelah lahir tulisan pertama, dibidani oleh niat yang kuat dan effort yang juga kuat tentunya. Padahal sebelumnya menulis lebih menakutkanku dari genderuwo jin demit pocong dan sebangsanya.
Mudah mudahan pengalaman ini bisa sedikit menjelaskan dan bisa diamalkan untuk keinginan keinginan baik lainya.
Pripun Gus, apakah amanat sudah tertunaikan? atau masih seperti penjaja jimat di pinggir jalan.
Nyadong duko 🙏🙏🙏

Saya suka tulisannya, semakin mengalir, makin menthes. Jadilah salah satu dari orang yang dianggap melawan mustahil
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusMatur nuwun cak njenengan selalu mbombong saya
HapusPrestasi dan kualitas harus diapresiasi. Mau menulis saja sudah luar biasa. Kritik ada tempatnya, sekarang belum. Anak sampean pas belajar mlaku, trus sampean salah2no. Kiro2 mlayu opo tambah leren?😁👍
HapusNyante bro, tulisan pean ora enjoy, soale mungkin terlalu digandoli beban, jadikan beban sebagai geraj pendorong bro,biar nlunyur, bercakap dengan rilex
BalasHapusMasih demam panggung mas, suwun bimbinganya.
Hapus