Di rumah kebun tempat saya kerja, saya tinggal sendiri, sudah jadi resiko karena sudah memutuskan tidak membawa serta istri, rumahnya tidak besar, rumah tipe 36 dengan tambahan dapur dan kamar mandi di belakangnya, dengan desain hanya ada satu kamar tidur, ruanganya cukup terasa lega untuk hidup sendirian.
Rumahnya rumah pangung berbahan kayu yang ketinggian lantainya satu meter diatas permukaan tanah, sebenarnya bukan diatas permukaan tanah, tapi diatas permukaan gambut, karena tanah yang sebenarnya adalah empat meteran dibawah permukaan gambut itu sendiri, jadi bisa dibayangkan ketebalan gambutnya.
Gambut itu sendiri adalah timbunan daun daunan dan akar akar pohon dan rumput yang sudah membusuk selama ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun, mungkin dulunya tempat yang kami tempati sekarang ini adalah hutan belantara dataran rendah yang tidak pernah dijamah selama ribuan tahun sehingga akumulasi guguran daun daunan dan akar akar tanaman yang mati karena termakan usia membentuk lapisan yang tebal diatas permukaan tanah, yang saking tebalnya sehingga tumbuhan tumbuhan generasi berikutnya tidak bisa lagi menjamah permukaan tanah, tapi tumbuh diatas permukaan "sampah" dari daun daunan dan akar yang mebusuk selama ribuan tahun yang disebut gambut itu.
Karena dibagun diatas gambut yang labil, maka dibutuhkan biaya yang sangat mahal jika membuat bangunan permanen, karena harus menancapkan pacang beton untuk sampai menembus ke lapisan tanah, maka pilihan yang lebih ekonomis adalah dengan membuat bangunan berbahan kayu yang lebih ringan, juga karena bahanya masih mudah untuk didapatkan.
Tinggal di rumah papan yang berdiri diatas gambut ternyata tidak bisa betul betul sendirian, selalu ada saja yang tanpa diminta dengan suka rela siap menemani, berbagi kamar yang sama, berbagi tempat tidur yang sama, berbagi selimut yang sama, dan sebagai bentuk kekraban kadang berbagi makanan dari piring yang sama, hanya saja tidak sampai suap suapan.
Sebenarnya saya orang yang sangat toleran, murah hati dan tidak pelit ditambah lagi penakut dan tidak tegaan, minggu kemarin waktu pulang, dibontoti sekantong pempek sama istri, rencananya langsung untuk sarapan begitu sampai di rumah kebun, tapi karena waktunya sudah mepet dan harus segera ikut apel pagi, terpaksa acara sarapan sambil ngirup cuko pempeknya saya tunda, saya tunda sampai nanti setelah istirahat siang, tapi dasar teman serumah saya itu tidak tau unggah ungguh, atau mungkin karena sudah merasa akrab, tanpa permisi dan basa basi disikatnya duluan pempek itu, buyar sudah harapan saya untuk menikmati pempek yang maknyus buatan istri, yang dibuat dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang itu. Sabar, sabar, harus ikhlas biar bisa menjadi amal.
Tabiat buruk lain dari teman serumah itu adalah kalau makan hanya di titili, tidak sampai habis, bukan hanya satu, tapi semua makanan dicicipi, yang membuat saya kadang tidak kolu untuk nimbrung menemaninya makan, padahal itu sebenarnya juga makanan saya.
Kemarin saya betul betul emosi dan tidak bisa lagi untuk menahan diri, gen "bromocorah" yang selama ini saya tekan habis habisan di dalam hati, mendadak berontak ingin menunjukkan eksistensi, saya kejar habis habisan dia, bagaimana bisa, berani beraninya dia mengusik pakaian dalam saya, ini properti yang sangat pribadi, ini menyangkut harga diri, walaupun sudah berteman tidak bisa sembarangan.
Cukup, sudah habis kesabaran saya, segera saya carikan baygon dan kapur ajaib, biar mampus dia.

Ono gaya Gusmul e iki😀👍
BalasHapusBaru rampung pak, rencana mau diposting malam tadi, tapi mata tidak bisa diajak kompromi😀😀
HapusGaya epok2 e yo ono pak dhin
BalasHapusJare bu nurul tiwas nggethu sambil nggeruthu karo koncoh e pak luk tibakno....
Ben gak spaneng pak😄😄😄
Hapus