Bersin Kami Mendahului Pandemi



Entah mungkin karena faktor genetik, atau karena ada masalah dengan imun tubuh, atau bisa juga kerena over sensitif  terhadap dingin dan debu, kami sekeluarga mudah sekali terserang flu karena alergi.

Memang tidak semua anggota keluarga, kalau diurut dari jalur keturunan, flu kami ini sepertinya turunan dari ibu, nurun ke saya dan satu orang adik perempuan, adik yang lain tidak, mungkin nurun dari bapak. Kebawahnya lagi nurun ke anak saya yang paling tua, juga ke keponakan, anak dari adik perempuan saya.

Flu karena alergi itu unik, dalam hitungan menit bisa sembuh sendiri, atau ketika kondisi yang menyebabkan alergi sudah berubah, tapi juga mudah kambuh lagi, kadang kadang waktunya malah sudah terbentuk pola.

Salah satu ciri lainya adalah, kalau flu karena virus, biasanya setelah dua atau tiga hari disetai dengan radang tenggorokan, dan lendirnya semakin lama akan mengental dan kadang kadang juga disertai dengan batuk. Tapi kalau flu karena alergi, terganggunya hanya karena bersin bersin, hidung tersumbat atau hidung meler saja, tanpa disertai pusing, pegal pegal atau radang tenggorokan.

Bahkan bersin saya itu melegenda, karena suaranya yang tidak biasa, juga karena waktunya yang hampir sama, setiap kali habis mandi menjelang subuh, jadi semacam alarm untuk warga kompleks, bahwa sudah waktunya untuk bangun, mungkin juga alarm bagi para ayam untuk waktunya berkokok.

Tapi belakangan gara gara makhluk mini yang sakti itu, saya jadi tidak enak hati dengan kebiasaan yang tidak pernah dibiasakan itu, mending kalau yang mendengar orang orang yang sudah kenal dan sudah terbiasa, tapi kalau yang mendengar orang lain, bisa bisa langsung disuruh karantina saya.

Sore tadi karena penasaran, kemudian berinisiaf untuk nelpon ke pondok, kok sampek hari ini belum ada pemberitahuan kapan santri mulai masuk, kasihan anak lanang kelamaan bengong di rumah, walah, ternyata sudah telat, ternyata pemberitahuanya melalui WA grup wali santri, dan ndilalahnya nomer saya kok ketlisut tidak pernah dimasukkan dalam grup, akhirnya diputuskan untuk segera masuk secepatnya kapan bisa, dengan sarat membawa surat keterangan sehat dan surat keterangan dari desa bahwa desanya masuk zona aman.

Karena itu, rencananya besok secepatnya ibunya datang ke kelurahan, untuk mengurus surat keterangan bahwa kelurahan kami masih masuk ke wilayah yang dalam katagori aman, selanjutnya mengantar anak lanang ke puskesmas untuk tes kesehatan.

Masalahnya adalah anak lanang kami termasuk yang mewarisi kebiasaan yang tidak biasa ini, bahkan waktu masih bayi pernah dirawat beberapa hari karena gangguan pernafasan, sempat juga khawatir karena pertumbuhan badanya tidak seperti teman temanya, tetapi setelah diperiksa secara intensif, dokter menyimpulkan tidak ada masalah, semuanya normal saja.

Jangan sampek pada saat tes kesehatan besok, gangguan bawaan ini memprovokasi petugas medis untuk memberikan diagnosa yang bukan bukan, padahal anaknya tidak apa apa.

Karena kami sudah terbiasa seperti ini sebelum pandemi ini ada.

Komentar

  1. Jare pak kaji ghusna apa yg kita pikirkan adalah doa
    Ayo mikir seng apik2 ae pak wabilkhusus kangge putra putri kita
    Mugi pinaringan segerwaras sedoyo
    Nggolek ilmune ben lancar kyk pak e

    BalasHapus
  2. Nggih pak, alhamdulillah persaratan sudah lengkap, tinggal mengatur izin untuk berangkat

    BalasHapus

Posting Komentar