Hujan Pagi di Ujung Juli

Hujan pagi adalah puncaknya hujan, hujan yang turun dari awan yang tidak hitam, hujan yang tenang tanpa disertai amukan angin dan kilatan petir, betul betul hujan yang melenakan, terlena akan sejauh mana matahari beredar, terlena akan bencana yang siap menyambar.

Hujan pagi adalah hujanya para petani, saatnya melepas lelah setelah dua bulan mengolah sawah, menunggu batang rumpun padi mulai berisi, saatnya "nggayemi" minum kopi pagi pagi, sambil menikmati hasil panen palawija, dan menunggu panen padi musim berikutnya.

Hujan pagi dan burung burung sriti sepertinya memang berjodoh, di saat bangsa unggas lainya sedang berteduh menahan diri dari beraktifitas, burung sriti asik menari nari bersuka ria melayang kesana kemari, sudah pasti bukan untuk mencari makan, karena tidak ada serangga yang nekat terbang dengan sayap yang berat yang siap untuk di santap.

Tapi ini hujan pagi di ujung juli, bulan yang biasanya kering bedengking, yang terbangnya burung sriti biasanya berkerumun tinggi, mentertawakan teriakan elang yang melengking kehausan.

Hujan pagi di ujung juli adalah anomali, para ahli perkebunan dengan bangga memberikan prediksi, musim kemarau yang basah adalah berkah, saatnya untuk menyongsong panen yang melimpah, di saat yang sama pabrik pabrik sawit saling jarah berebut buah, agar mesin mesin tetap berputar tidak kehabisan bahan, agar tidak menjadi berdosa dengan merumahkan karyawan.

Entah isyarat apa yang tersembunyi dibalik hujan pagi di ujung juli, mungkin penanda akan punahnya pekikan elang yang terbang tinggi, melengking memanggil awan.

Atau penanda akan datangnya berkah atau juga bencana yang datang sama tak terduganya, atau untuk membasuh jiwa jiwa yang resah oleh anomali anomali.

Komentar