"Mana Doni", tanya Mandor Dino begitu menyadari anggotanya yang jumlahnya enam belas orang itu kurang satu, pada saat berkumpul kembali setelah istirahat siang.
"Tadi masih makan di pondok hujan pak", jawab Dina, salah seorang anggota di kemandoran perawatan tanaman yang dipimpin oleh Mandor Dino, pondok hujan adalah yang dibangun di tiap tiap blok, untuk tempat karyawan berkumpul dan beristirahat, juga tempat berteduh kerika turun hujan.
Belakangan memang Dina dan Doni terlihat lebih akrab, dari bisik bisik sesama karyawan, terdengar kabar kalau antara mereka berdua mulai menjajaki untuk saling menyatukan hati, walaupun keduanya belum saling mengakui.
Dina adalah ibu muda, statusnya sebagai orang tua tunggal bagi anaknya yang masih balita memaksanya untuk bekerja sebagai karyawan bagian perawatan di sebuah perusahaan perkebunan, pembawaanya yang agak tertutup membuat tidak banyak orang yang betul betul mengenal sosok Dina, juga bedak tebal dari tepung beras yang lebih berfungsi sebagai masker wajah untuk melindungi dari sengatan sinar matahari itu, yang selalu ia kenakan setiap habis sholat subuh sebelum berangkat kerja, sedikit menyamarkan wajahnya yang sebenarnya masih terlihat muda, juga menyamarkan gurat gurat trauma atas kegagalanya membina rumah tangga dengan mantan suaminya.
Tapi semenjak tiga bulan yang lalu sejak masuknya karyawan baru, Doni, yang pembawaanya agak berbeda, tidak sekasar seperti karyawan laki laki lainya, membuat Dina mulai membuka diri, berawal dari tegur sapa biasa, ketika Doni memperkenalkan diri sebagai karyawan baru, berlanjut ketika Doni mengingatkan Dina akan akan bontotnya yang hampir tertinggal setelah selesai apel pagi, setelah itu keakraban mereka terus berlanjut dengan saling menceritakan pengalaman dan pekerjaan mereka sebelumnya.
"Kenapa masih di sini, belum mulai kerja lagi?" Tanya Mandor Dino.
"Baru selesai makan Pak", jawab Doni.
"Tadi kemana saja, kan sudah dikasih waktu istirahat satu jam?"
"Tadi ketiduran Pak, waktu istirahat".
"Satu jam istirahat itu bukan untuk tidur saja, tapi untuk makan, sholat dzuhur, dan tidur bila memungkinkan, bukan untuk tidur semua", rutuk Mandor Dino sambil menahan kesal sekaligus geli, sama seperti Doni yang juga merutuki kecerobohanya sendiri.
Doni baru tiga bulan bekerja, setelah memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai guru honor di sebuah SMP swasta di kampungnya, pendapatanya sebagai guru honor yang tidak seberapa, ditambah lagi pembayaranya yang sering tertunda, tidak bisa mengikuti tuntutan kebutuhan yang terus menagih untuk dipenuhi setiap hari.
Sebenarnya Doni ingin melamar untuk posisi yang lebih bergengsi, minimal untuk tenaga administrasi, biar tidak terlalu jauh melenceng dari bekal ijasahnya yang lulusan perguruan tinggi, tapi karena lowongan belum ada, terpaksa ia menerima ditempatkan di bagian perawatan, dengan harapan jika suatu saat ada lowongan, perusahaan akan memprioritaskan untuk merekrut tenaga yang sudah ada di dalam yang dianggap berpotensi, toh sebagai tenaga perawatan, gajinya yang sesuai UMR Itu, masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan honor mengajan di SMP swasta di kampung.
Mengubah kebiasaan ternyata lebih berat dibandingkan dengan apa yang disangkakan Doni sebelumnya, fisik dan mentalnya sering kali tidak terima, kerja yang selalu dimandori berdasarkan instruksi dan pengawasan kadang menampar egonya, berontak seolah masih terkurung di masa penjajahan, juga berat untuk membiasakan diri dengan alat kerjanya yang baru, yang tadinya berbekal laptop, pena dan buku, sekarang harus mengendalikan ayunan cangkul dan parang, kulit lengannya juga belum terbiasa dengan goresan daun daun rumput kerisan yang tajam, kadang ingin rasanya menyerah, tapi hidup memang tidak menyediakan banyak pilihan bukan?.
Untung ada Dina, teman barunya, yang selalu menasehati dan menguatkan semangatnya, "Sabar Mas, semua ada prosesnya", begitu Dina sering menasehati, kata kata Dina yang sebenarnya sederhana dan klise itu, terdengar begitu menyajukkan di hati Doni, menekan ego dan emosi yang kadang tak terkendali, mungkin karena disampaikan dengan sepenuh ketulusan dan perhatian, ternyata dibalik penampilanya yang biasa saja, tersimpan ketegaran yang luar biasa, itulah yang dilihat Doni dari Dina, ketika sesekali mencuri pandang, ketika Dina merapikan kembali bedak berasnya yang mulai lekang oleh keringat dan sinar matahari di saat sedang sama sama duduk beristirahat, dalam hati Doni mulai mengagumi Dina.
Malam ini tidak seperti biasanya bagi Dina, biasanya setelah menidurkan putri kecilnya, dia pun akan segera terlelap, lagian besok harus bangun pagi pagi sekali sebelum subuh, untuk menyiapkan bekal makanan untuk dibawa kerja, juga tinggalan makanan untuk sarapan dan makan siang untuk putri kecilnya sebelum dititipkan kepada ibunya, dan setelah sekian lama, perasaan itu hadir lagi mengganggu tidurnya, perasaan yang dia mencoba untuk menyangkalnya, bahkan sudah sangat lama, sejak dia menyimpulkan bahwa laki laki adalah makhluk yang paling egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja, ketika itu, ketika ia dan Mas Nono mantan suaminya sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka, setelah pertengkaran pertengkaran yang sangat menguras emosi, tiga tahun lalu, ketika putri mereka baru berumur empat bulan, dan entah mengapa perasaan itu sekarang hadir lagi, perasaan simpati pada seorang laki laki.
Dipandanginya kembali wajah putrinya yang terlelap, di usia yang menjelang empat tahun, dari bibir mungilnya mulai sering terlontar pertanyaan tentang keberadaan ayahnya, mengapa berbeda dengan teman temanya yang mempunyai orang tua yang lengkap, dalam hati ia mulai meragukan tekadnya untuk membesarkan anaknya seorang diri, untuk membuktikan bahwa dalam hidupnya tidak lagi membutuhkan kehadiran seorang laki laki.
Tapi laki laki yang baru tiga bulan dikenalnya itu berbeda, sangat bertolak belakang dengan Mas Nono mantan suaminya, yang terus saja bersembunyi dibalik alasan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, setiap kali mendapatkan tawaran pekerjaan, menafkahi keluarga hanya mengandalkan subsidi, subsidi dari keluarga suaminya, sampai akhirnya subsidi itu dihentikan, karena sudah tidak dianggap lagi sebagai tanggungan.
Dina melihat Doni sebagai orang yang mau berjuang, berjuang melawan egonya sendiri, ego sebagai seorang laki laki, ego sebagai seorang yang berpendidikan.
"Doni, kenapa kemarin tidak masuk kerja", tanya Mandor Dino pada saat apel pagi.
"Nenek saya meninggal Pak".
"Kenapa tidak memberi kabar"
"Tidak ingat Pak, pikiran saya kalut karena sedang berduka"
"Baiklah, alasanmu saya terima".
Dibelakangnya kawanya berbisik kepada kawan yang berada di sebelahnya sambil tersenyum "neneknya sudah meninggal lima tahun yang lalu", dan yang dibisiki pun ikut tersenyum, dalam hati Mandor Dino juga tersenyum, tersenyum dengan alasan "sakti" yang hampir bosan dia mendengarkan dan selalu ditolaknya, dari bawahan bawahanya yang terlambat bagun pagi, sehingga tidak bisa mengikuti kewajiban hadir di lokasi apel pagi, sebelum matahari menampakkan diri.
Tapi untuk Doni pagi ini, Mandor Dino sedang bermurah hati.
Komentar
Posting Komentar