Dona, Dino dan Pak Dono: Profesional vs Personal.


Dona memang mempesona, pembawaanya yang bersahaja sama sekali tidak menutupi ke elokan parasnya yang diatas rata rata, sikapnya yang tangkas dalam menyelesaikan tugas tugas membuatnya mendapatkan banyak perhatian dari para atasan, tapi tidak di dunia namanya kalau tidak ada yang menilai sebaliknya, beberapa rekan kerjanya, yang merasa bekerja lebih lama, kasak kusuk sana sini nyinyir mencibir, menuduh Dona memanfaatkan pesona fisiknya untuk melancarkan urusan pekerjaan, tapi Dona biasa saja, seolah tidak pernah mendengar dan tidak menanggapi.

Dino adalah staff teladan, selalu bisa diandalkan setiap kali ada masalah yang sulit dipecahkan, tidak ada target dari perusahaan yang tidak bisa dia lampaui, dalam usia yang cukup matang Doni masih hidup sendiri, mungkin karena terlalu fokus kerja sehingga kehidupan pribadinya menjadi sedikit terabaikan. Sebenarnya bukan tidak dipikirkan tapi karena latar belakang dan wajahnya yang biasa saja, membuatnya kurang percaya diri.

Dino juga atasan Dona, walaupun bukan atasan langsung karena tidak berada dalam satu garis struktur, tapi masih dalam satu departemen yang sama, rekan rekan staff Dino menangkap tanda tanda bahwa sebenarnya Dino adalah salah satu dari banyak pria single di perusahaan itu yang menaruh hati pada Dona, bahkan ada juga yang sudah berkeluarga yang terang terangan menyampaikan perasaan suka nya pada Dona, sudah pasti Dona tidak mau menanggapi.

Atas dukungan dan bantuan dari rekan rekanya, akhirnya tersampaikan juga perasaan Dino kepada Dona, dan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, tiga bulan berikutnya mereka sudah merencanakan untuk melangsungkan pernikahan.

Dona dan Dino adalah pasangan yang serasi dan sempurna, sama sama pekerja keras, sama sama cerdas dan sama sama berintegritas, tapi kesempurnaan itu ternyata tidak terakomodasi dengan sempurna, aturan perusahaan mensyaratkan bahwa pasangan suami istri tidak boleh bekerja dalam satu departemen yang sama, biar tidak terjadi konflik kepentingan, pilihanya hanya dua, salah satu dimutasi ke lain wilayah atau berhenti bekerja.

Dari hasil kesepakatan berdua akhirnya Dona yang mengalah, mengorbankan hubungan profesional demi hubungan personal atas nama profesionalisme, lepas sudah salah satu SDM potensial terbentur oleh aturan perusahaan.

Di perusahaan yang sama di kantor yang berbeda, jauh di pusat sana Pak Dono adalah "legenda", kerja keras dan keuletanya dalam mendampingi "Bos Tua" saat merintis dan membangun perusahaan membuatnya menempati posisi yang sangat tinggi, semua orang kagum dan segan padanya, termasuk "Bos Muda" yang sekarang mengambil alih kendali perusahaan, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya begitu Pak Dono memberikan rekomendasi.

Dengan penuh wibawa Pak Dono selalu memberikan doktrinasi untuk selalu bersikap obyektif dalam memberikan penilaian, disaat yang sama Pak Dono lebih mengutamakan orang orang yang bersedia menemaninya kongkow kongkow minum kopi selepas jam kerja untuk mendengarkan luapan rasa bangga atas reputasi dan prestasi prestasinya, atau orang orang yang selalu memberikan oleh oleh setiap kali pulang dari kunjungan ke lapangan.

Karena Pak Dono adalah setengah dari perusahaan, maka loyalitas terhadap Pak Dono lebih tinggi daripada loyalitas terhadap perusahaan.

Note:
Munculnya nama nama yang hampir sama secara bersamaan tidak mungkin suatu kebetulan, ini pasti hanyalah rekaan.

Cerita hanyalah ilustrasi untuk menjelaskan tema, jadi "jangan sensi". 😄😄🙏🙏

Komentar