Masih tentang fungsi lidah, tapi sekali ini bukan tentang fungsinya sebagai indra perasa, tapi tentang fungsinya sebagai alat untuk berkomunikasi/berbahasa.
"Kamu wong mano?" pakai bahasa palembang.
"Kowe wong ndi?" pakai bahasa jawa.
"Aku wong Indonesia". Jawabku.
"Itu jawabanya pakai bahasa jawa atau bahasa palembang?".
"Pakai dua duanya".
"Kok sama?"
Ya memang sama, dan itu mungkin saja, namanya juga serumpun, bisa jadi bahasa jawa mengadopsinya dari bahasa palembang, karena Raden Fatah yang raja jawa itu adalah keturunan palembang, bisa jadi sebaliknya, bahasa palembang yang mengadopsi dari bahasa jawa, ketika majapahit meluaskan pengaruhnya termasuk ke palembang, atau sebaliknya lagi karena sebelum majapahit, sriwijaya sudah lebih dulu menguasai nusantara, atau sebaliknya lagi, karena konon katanya Balaputra Dewa yang pendiri sriwijaya itu adalah keturunan wangsa sanjaya, pendiri candi borobudur di pulau jawa, atau entahlah, saya bukan ahli sejarah, juga bukan ahli bahasa.
"Wong" artinya dalam bahasa indonesia adalah "orang", orang minang dan orang sunda menyebutnya dengan "urang", beberapa daerah di wilayah sumatra selatan yang logatnya cenderung cedal/pelo huruf "er" nya "bederot" begitu orang palembang mengistilahkan, mengejanya menjadi "uhang", beberapa daerah lainya mengejanya menjadi "uwang" atau disingkat menjadi "wang". Di sumatra selatan walaupun dalam satu propinsi terdapat bermacam macam dialek, ada yang pakai huruf vocal terahirnya "a", ada yang pakai huruf vocal "e", ada juga yang pakai huruf vocal "o" termasuk palembang, maka "uwang" atau "wang" tadi, di lidah palembang menjadi "uwong" atau "wong". Nah, makin tidak jelas kan, siapa mempengaruhi siapa?
Itu tadi hanya atak atik saya saja, karena sekali lagi saya bukan ahli bahasa, hanya hasil pengamatan kira kira yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Banyak sekali kosa kata dalam bahasa palembang yang sama/mirip dengan bahasa jawa, terutama orang palembang jaman "bingen/biyen" (dulu), ketika berasan dengan "dulur"nya (sanak keluarga), walaupun hanya disuguhi "banyu" (air putih), tetap saja asik sampai "dalu" (malam), yang waktu itu belum ada listrik, sehingga hanya mengandalkan penerangan dengan lampu yang berbahan bakar "lenge/lengo" (minyak), sehingga "rai" (wajah) mereka terlihat samar, hanya bayangan mereka yang terlihat jelas hitam memanjang seperti "ulo" (ular).
Jadi teringat cerita seorang sahabat yang belum lama tinggal di palembang, kemudian ditugaskan untuk perjalanan dinas ke sekayu, berbekal cerita dari teman temanya, bahwa dialek sekayu huruf vocalnya menggunakan huruf "e". Setibanya di sekayu kebetulan sedang musim duku, sambil memilih milih buah duku, dengan sok akrab dia bertanya kepada ibu penjual duku dengan bermaksud menggunakan dialek sekayu,
"Bu, berape sekile"
Dengan tersenyum ibu itu menjawab:
"Dik, kalau sekilo tetap saja sekilo, tidak semuanya harus diganti dengan huruf "e".
Dan sahabat itupun menjadi malu.π£π£π£
"Kecemete mana kecemete" ππ

Ahlinya ahli. Intinya inti. Core of the coreπππ
BalasHapusMantu; semangat nutul
BalasHapusMumpung enek seng ngajariππππ
HapusMantul: semangat nutul
BalasHapus