Emha? "Wow" Semoga


Beberapa hari ini beberapa tulisan saya mendapat atensi dari mentor sekaligus senior, Mas Aris Bandeng, beliau menyarankan untuk memperbanyak membaca tulisan tulisan Emha sebagai model untuk memperbaiki kualitas tulisan saya.

Dari komentar dan masukanya, dengan penuh ke"geer"an saya menangkap ada ekspektasi yang  terlalu tinggi terhadap tulisan tulisan saya, Emha gitu lo, yang semua orang yang hobi membaca pasti tau kualitas tulisanya, bagaimana tidak jadi "geer", lazimnya kan yang belajar ke dosen itu harus sudah mahasiswa, bukan lagi anak anak TK, la saya ini siapa, ibaratnya seperti santri anyaran yang langsung disuruh ngaji ihya'.

Tapi sebenarnya saya sudah lama jadi pengagum Emha, jadi pengagum bukan karena setelah membandingkan dengan karya penulis penulis lain yang mungkin sama bagusnya,  tapi karena mungkin jodoh, di saat saya tidak punya akses untuk menikmati tulisan tulisan yang serupa, tiba tiba mendapat pinjaman buku dari sepupu, ya itu tadi, buku kumpulan esainya Emha, buku itu saya baca berulang kali sampai lanyah menjelang hafal.

Itu buku sudah lama sekali, saya baca ketika baru barunya tamat aliyah, mungkin ditulis dan diterbitkan jauh sebelum itu, ketika Emha sedang "liar liarnya", temanya tentang keengganan Emha menduduki posisi ketua dewan pakar di ICMI,  tentang persinggunganya dengan teater dynasty, tentang proyek kesenian antar negara di philipina, tentang komunitas seniman jogja dan Umbu Landu Paranggi nya.

Atas anjuran Mas Aris tersebut saya coba googling dan baca kembali tulisan tulisan Emha terkini, walaupun tetap dengan gayanya, saya merasa ada sedikit yang berbeda dengan tulisan Emha, mungkin karena belum banyak yang sempat saya baca, tapi yang pasti sebagai penulis yang sudah pada level yang "berbeda", juga penulis penulis hebat lainya termasuk guru saya Gus Glory, terlihat sekali kedalaman penguasaan akan materi, dipadu dengan luasnya referensi, betul betul menghasilkan tulisan yang bermakna.

Sebagai pembaca gratisan yang jarang sekali (mampu/mau) beli buku, sudah barang tentu khazanah bacaan saya juga tidak leluasa, pergaulan saya yang intens dengan buku justru pada masa masa remaja, ketika masih sekolah aliyah di lamongan, ketika itu hampir setiap minggu atau libur sekolah, rak rak perpustakaan umum lamongan saya petani, mencari buku yang saya minati untuk saya baca empat jam sehari sampai perpustakaan tutup, ditambah lagi nyangu satu atau dua judul buku untuk dibawa pulang ke gota'an.

Karena masih dalam usia remaja, pilihan bacaanya adalah yang bernuansa romansa, kebetulan penyedia jasanya adalah perpustakaan umum yang koleksi bukunya tidak up to date, maka pilihan bacaanya adalah roman roman lama, "siti nurbaya", "salah asuhan", "tenggelamnya kapal van der wich", "max havelar", "mencari pencuri anak perawan", "robohnya surau kami", kalau ada yang agak baru adalah karya karyanya NH Dini, atau "burung burung manyar" nya Mangun Wijaya. Sesekali juga novel novel detektif impor terjemahan, salah satu yang agak berat seingat saya adalah "anak bajang menggiring angin", yang adalah ramayana versi indonesia.

Dengan celengan bacaan yang hanya segitu segitunya, tentu sangat berat untuk mendapatkan "output" tulisan yang bermutu, maka sementara ini yang bisa saya tulis adalah apa yang saya lihat dan rasakan, walaupun kadang terasa ngambang tanpa pembahasan yang mendalam.

Terus apakah saya akan berhenti menulis untuk memperbanyak waktu untuk membaca?, tentu tidak, karena saya sudah kapok merasakan beratnya kembali menggerakkan ujung pena setelah sempat berhenti, biarlah pena saya tetap mengalir walaupun di permukaan, tentu di sela sela nya saya akan terus membaca, dengan harapan ada pelajaran yang tertangkap oleh otak yang mulai tumpul ini.

Kalau ada yang bisa saya tawarkan dari tulisan saya saat ini adalah, originalitas kedangkalan pemahaman terhadap tema, sukur sukur bisa membuat pembaca menjadi "gemas", dan bersemangan untuk mengkajinya lebih dalam lagi.

Komentar

  1. Setuju pak. Menulis terus, jangan ada jeda. Naik turun kualitas tulisan itu biasa. Karena kalau jeda panjang, spasi lebar, kita tidak pernah dapat kesempatan mengeksplore kemampuan kita mengikat makna.
    Menulis itu jalan sunyi, diperlukan keteguhan hati. Semangat dan jangan pernah berhenti, setelah dimulai.

    BalasHapus
  2. Sendiko dawuh pak🙏🙏

    BalasHapus

Posting Komentar