Hujan gerimis malam kamis selepas isya, di pondok kebun ini, hanya satu muk teh manis dan roti gabing yang menemani, juga hayalan akan semangkuk mie instan yang kau siapkan, lengkap dengan daun sawi dan irisan cabe rawit segar tipis tipis, dengan sedikit kuah panas sangat pas dengan cuaca yang dingin seperti ini, tapi gerimis malam ini terasa lebih dingin karena kau tidak ada di sini.
Dua gelas hampir kandas tapi gerimis belum juga memberi tanda akan segera berhenti, harusnya gerimis ini akan menjadi romantis jika engkau ada disini, tapi itu tidak mungkin, banyak pertimbangan yang sudah kita putuskan untuk merelakanmu tetap tinggal disana, di rumah kita, sementara aku tetap di sini, di pondok kebun ini.
Malam kamis selalu istimewa, penanda penantian datangnya akhir pekan sudah tinggal setengahnya, tidak seperti hari hari sebelumnya, selasa atau rabu, seperti langkah berat perjalanan mendaki menapaki bukit rindu, rindu yang sudah menunggu di balik bukit itu, dan malam kamis ini adalah puncaknya, kamis ke sabtu akan menjadi saat saat yang lebih memburu, menggelinding penuh nafsu.
Suara notifikasi pesan di HP berbunyi, menyela diantara ritmis suara gerimis yang jatuh diatap teras, suaranya menyusup masuk melalui ventilasi dan sela sela daun jendela, "besok mbak mulai sekolah" tulismu, "ah.. sekedar membuka cerita", batinku, kita sudah pernah membahasnya sebelumnya, harusnya jam segini kita bisa saja saling menelpon dan berbicara, tapi ketakutanmu akan bahaya menelpon di saat hujan tidak pernah tergoyahkan, walaupun aku sudah sering meyakinkan bahwa gerimis tidak sama bahayanya dengan hujan, tapi phobia mu tidak pernah berkurang. Aku yakin di sana kau sedang merutuki gerimis yang sama, terbaca dari pesanmu, walaupun gerimis tidak pernah kau tulis.
Sudah masuk tahun ke tiga, ini kita jalani, sejak mutasi kerja itu, dirimu dan anak anak lebih baik tidak mengikutiku, pondok kebun ini terlalu jauh dan sepi untuk sama sama kita tinggali, bagaimana dengan sekolah anak anak nanti, lebih baik tinggal di sana, di kota, rumah kita sendiri, yang setiap bulan kita sisihkan penghasilan untuk bayar cicilan, lagian sampai kapan rumah itu akan kita abaikan.
Mungkin ini akan kita jalani sampai waktu yang lama, menjalani malam malam sepi, merawat rindu untuk bertemu dua minggu sekali, sampai aku pensiun nanti barang kali, atau bisa jadi sebaliknya, karena bekerja di swasta sering tidak terduga, seperti tak terduganya datangnya berita waktu itu, berita tentang mutasi ke tempat ini, yang mau tidak mau harus tetap dijalani, demi harapan untuk tetap bisa menyambung penghidupan.
Sempat terpikir juga, kalau ternyata masih mau lama kenapa tergesa gesa membeli rumah, apa tidak sebaiknya tinggal di sini saja bersama sama, toh semuanya tersedia tanpa harus bayar sewa, air dan listrik juga tersedia cuma cuma, tapi mau sampai kapan kita akan terlena, jika sewaktu waktu mereka tidak lagi berkenan, kita mau pulang kemana, mumpung anak anak belum banyak membutuhkan biaya, rumah itu kita segerakan saja.
"Rumah kita belum ada kursi" katamu, "betul juga", batinku, dan itu perlu untuk menjamu sanak keluarga yang datang berkunjung untuk bertamu.
"Ada yang menawarkan, bentuknya sederhana, dan harganya tidak memaksa dompet kita", kamu melanjutkan sambil mengirimkan beberapa gambar model kursi.
"Baiklah, kita ambil saja", jawabku tanda setuju.
Mungkin di sana anak anak sudah tertidur, susana gerimis mungkin membuat mereka lebih cepat masuk kamarnya, karena tidak biasanya jam segini HP dipegang ibunya, atau mungkin mereka sedang sengaja, memberi waktu ibu bapaknya menyambung rasa.
Suara rintik gerimis tinggal satu satu, sepertinya akan segera mereda, tapi perasaan ini tidak juga reda, harusnya sudah menjadi biasa, ah.. mengapa gerimis malam ini menjadi sentimentil, suara gelak cicak di sudut atas kamar seperti menggoda mentertawakanku, mentertawakan ketidakberdayaanku, seperti suara gelak cicak yang sama ketika malam itu, ketika pertama kali kau mengikutiku, ketika kita masih malu malu, di pondok kebun juga, di tempat yang sebelumnya, mentertawakanku yang lelah terengah menyambung rindu.
Baiklah, tunggu aku di hari sabtu, berburu menyiasati waktu, sebelum kutinggalkan lagi senin pagi

Gerimis, kalimatnya ikut mengiris iris.😀💪💪💪
BalasHapusBiar kelihatan imjinatif gitu lo pak😄😄
HapusRomantis e kok sek muncul sekarang pak
BalasHapusDulu2 di simpen dmn?
Awas di guyu pak aris loooo!!!
Dulu masih malu malu pak, mugo mugo mas aris ora melok moco😀😀😀
BalasHapus