Lidah Separoh


Ibu mess di tempat kami kerja itu sangat pinter memasak, setidaknya untuk makanan makanan khas palembang juga makanan makanan khas jawa, walaupun asli orang sumatra selatan, tapi ketika masak masakan khas jawa, sangat terasa jawanya.

Secara umum masakan jawa dan masakan palembang itu mempunyai karakteristik yang berbeda, masakan jawa cenderung gurih dan manis, sedangkan masakan palembang cenderung pedas dan asam, walaupun ada beberapa jenis masakan jawa ataupun masakan palembang yang karakteristiknya hampir sama.

Sebagai orang jawa yang besar di palembang, lidah saya sudah "lumayan" palembang, baik yang berhubungan dengan selera terhadap rasa maupun yang berhubungan dengan bahasa, karena di samping berfungsi sebagai indra pengecap/perasa, lidah juga berfungsi sebagai organ terpenting dari tubuh kita untuk sarana berkomunikasi (berbahasa).

Terkait masalah rasa/selera terhadap makanan,  saya termasuk orang yang meyakini bahwa rasa enak terhadap makanan itu bersifat universal, artinya apa yang enak menurut orang lain akan enak juga menurut saya, begitu juga sebaliknya, hanya kurangnya adaptasi dan persepsi yang terlanjur terbentuk di pikiran kitalah yang kadang kadang menghalanginya, dan sebagai biang keladi dari persepsi itu adalah indra penglihatan dan indra penciuman.

Ada beberapa masakan palembang yang membuat orang non palembang harus beradaptasi terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan rasa enaknya, salah satunya adalah pindang, berbeda dengan pindang yang dipahami oleh orang jawa yang tinggal di jawa timur yang adalah ikan tongkol yang dikukus, pindang palembang adalah masakan yang berbeda bahan dan cara masaknya.

Masakan pindang palembang biasanya berbahan ikan air tawar, biasanya patin, gabus, toman atau ikan baung, ikan setelah dibersihkan dan dipotong potong kemudian direbus dengan ditambahkan rempah rempah berupa irisan jahe, kunyit, serei, asam, bawang, cabai dan terasi. Biasanya disajikan dengan banyak kuah dan dimakan selagi hangat, sama seperti penyajian soto di lamongan.

Bagi orang yang belum terbiasa makan pindang, kok kesanya seperti makan ikan yang belum dimasak ya, ikanya masih terlihat putih dan segar, tapi bagi penggemar pindang seperti saya, rasanya luar biasa.

Perkenalan saya dengan pindang justru bukan di palembang, tetapi ketika kerja di pulau bangka, terbawa oleh solidaritas sesama pendatang dari palembang yang biasa makan di tempat makan khas palembang, awalnya hanya sekedar menghargai teman, tapi tidak pakai lama sudah menjadi ketagihan.

Salah satu masakan olahan dari ikan yang khas lainya yang saya suka adalah sagururung, ini bukan lagi khas palembang, tapi lebih spesifik lagi, khas kabupaten PALI tempat saya kerja sekarang, ikan dipanggang/diasap dibumbui asam, tapi tidak sampai kering, teksturnya masih lembek, rasa sangit dan asamnya betul betul nikmat melekat di lidah.

Begitu juga dengan sambalnya, biasanya sebagai pelengkap makan pindang, sambal yang paling saya suka adalah sambal kemang atau macang, sebangsa mangga hutan yang sudah masak, diiris tipis tipis dan ditambahkan gilingan cabe beserta kawan kawanya, aroma asamnya ditambah bentuknya mengingatkan pada sesuatu yang keluar dari mulut kucing yang  sedang mungkuk mungkuk sakit perut.πŸ˜„πŸ˜„

Dari tadi kok ngrasani persepsi orang jawa terhadap makanan palembang saja ya, biar adil sekarang kita bahas sebaliknya, untuk dulur dulur yang mau jualan soto di palembang, please saya mohon jangan menyajikan soto dan nasi dalam satu mangkok sama, sajikan saja dalam wadah yang berbeda, karena kalau disajikan dalam satu mangkok yang sama, dalam bayangan kami orang palembang, soto yang nikmat itu jadi mirip seperti apa yang disajikan di kandang bebek.

Diantara sekian banyak masakan palembang, yang paling dahsyat adalah yang berbahan tempoyak, tempoyak itu daging buah durian yang saking banyaknya, sehingga tidak habis untuk langsung dimakan, kemudian dimasukkan dalam toples dan diawetkan, bisa dibayangkan kan, aromanya yang menyengat ditambah dengan bentuknya yang lembek kekuningan?😩😩

Ketidaksukaan orang jawa terhadap tempoyak mungkin berbanding lurus dengan ketidaksukaan orang palembang terhadap petis, walaupun rasanya ngangeni, tapi bentuknya yang lembek hitam itu mengingatkan kita akan lin*ung.😷😷

Tapi karena lidah saya separoh jawa separoh palembang, saya jadi suka dua duanya.

Jadi berharap tiba tiba mendapat kiriman petis dari dulur dulur lamongan, atau dulur sidoarjo, atau dulur bojonegoro, tanpa harus saya membalasnya dengan mengirimkan tempoyak, karena saya yakin beliau beliau itu tidak suka.πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ™πŸ™

Komentar

  1. Arep tak kirimi terasi teko jembret engko gak arep
    Jembret nek nok lmg iku iwak jakung seng paling cilik dewe
    Jakung iku sebangsa udang tapi air tawar

    BalasHapus
  2. Hehehe.. Gak sido nek ngunu pakπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

    BalasHapus
  3. Isun rapati selera masakan berkuahπŸ™πŸ™

    BalasHapus
  4. Pengalaman makan makanan ini di Pangkalpinang, masih banyak perlu penyesuaian dg lidah Jawa 😁πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    BalasHapus
  5. Kurang lama membiasakanya pak, minimal 20 hari seperti teori yang njenengan ajarkanπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

    BalasHapus

Posting Komentar