Menulis Diri


Sebagian besar dari tulisan tulisan saya yang belum seberapa itu adalah tulisan tentang diri sendiri, buka sok narsis ya, walaupun motif itu ada tapi bukan satu satunya, dan lebih disebabkan karena sebagai penulis pemula yang daya imajinasinya belum terlatih, apa lagi ditambah dengan minimnya pengetahuan dan referensi, maka bahan yang paling mudah untuk dieksplorasi adalah diri sendiri, karena setiap orang tentu merasa mengenal betul tentang dirinya, tinggal mencari potongan kisah perjalanan hidup yang paling menarik, kemudian dikemas dengan narasi yang dramatik, maka jadilah ia sebuah tulisan yang siap untuk disajikan.

Masalahnya adalah, seberapa banyak sih potongan kisah hidup kita yang menarik, sebagai manusia "biasa" tentu tidak banyak yang bisa disajikan, dan kalau menulis hanya mengandalkan itu, maka akan cepat sekali kehabisan amunisi.

Kita ini bukan selebritis atau public figure yang penggemarnya sudah ada di mana mana, yang dari cara megolnya saja sudah cukup untuk jadi perhatian, belum lagi bentuk alis, model poni, atau merek baju, sepatu, atau tas atau banyak lagi yang bisa dijadikan bahan untuk dibahas.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Pak Cahyadi Takariawan, dalam menulis diri dibutuhkan kejujuran, masalahnya adalah kita ini bukan orang yang sempurna, kalau kita tulis jujur apa adanya tentu tidak akan menarik, dan lagi tidak ada yang bisa dipetik dari tulisan untuk dijadikan pelajaran.

Solusinya adalah dengan melakukan "framing", dengan melihat dari sudut pandang yang paling menarik, tanpa harus terjebak dalam kebohongan, seperti yang pernah diilustrasikan oleh Emha dengan melukis dari samping orang yang sebelah matanya buta, jika dilukis dari depan maka hasil lukisanya tidak akan sempurna, lukisan orang yang buta sebelah mata, tapi kalau dilukiskan dengan wajah yang tidak buta, maka jelas dia bohong, maka solusinya adalah dengan melukisnya dari samping, dari sisi yang matanya tidak buta, maka hasil lukisanya adalah orang yang tidak buta, tanpa harus melakukan kebohongan.

Doni Madoni adalah staff administrasi produksi, penampilanya yang klimis dan wangi sangat sesuai dengan posisinya sebagai orang kantoran, juga kacamata minusnya mengesankan dia sebagai orang yang smart dan teliti, setiap kali apel pagi hanya dengan sesekali melirik ke bawah dia bisa memberikan laporan dengan hafal di luar kepala, jika laporan itu tentang kuantitas produksi, dia bisa menyampaikan dari ton sampai pecahan kilogramnya, jika laporanya tentang jam operasi, dia bisa menyebutkan dari jam, menit, sampai sepersekian detiknya.

Apel pagi ini dihadiri oleh Pak Dono Midono, boss dari kantor pusat, sebenarnya kunjungan Pak Dono sudah dijadwalkan lama, tapi gara gara pandemi kunjungan Pak Dono menjadi tertunda, hal ini membuat para bawahanya sedikit bernafas lega, Pak Dono yang tegas dan berwibawa itu juga terkenal sebagai boss yang penuntut, hampir setiap kali dia melakukan kunjungan, ada saja bawahanya yang mendapatkan sangsi, baru setelah new normal Pak Dono bisa kunjungan lagi.

Tidak seperti biasanya yang penuh percaya diri, dari dimulainya apel Doni sudah terlihat gelisah, aroma wanginya jadi memudar oleh keringat yang mulai keluar, puncaknya ketika Doni harus menyampaikan laporanya, dia jadi gelagapan seperti kesulitan untuk bicara, Dino Ben Dino yang berada di sampingnya hanya ngikik menahan tawa, melihat tulisan di telapak tangan Doni memudar tidak bisa dibaca lagi, akibat protokol kesehatan harus cuci tangan pakai sabun sebelum apel pagi.

Dalam hati Doni mengumpat, ternyata ilmu yang selalu diandalkanya dari jaman sekolah setiap kali menghadapi ulangan tidak bisa diandalkan lagi.

"Wabah memang bikin susah", batin Doni.

Komentar

  1. Wkwkwk, kasihan Doni, kena ekor covid. Menulis juga mengajarkan kita banyak akal seperti Abu Nuwas atau Nasruddin Hoja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai belajar berimajinasi pak, kalau sekedan menggali pengalaman pribadi iso kentean bahan aku๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

      Hapus
  2. Pas apel ono Dina ta pak kok gak di sebut blas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu di lain epsode pak,

      Doni madoni, orang kantoran, klimis, wangi, senengane perawatan diri, wes koyo wadon.

      Dono midono, bos besar, kereng, senengane ngukum/midono bawahane.

      Dino ben dino, staff paling disiplin, tiap hari selalu datang paling awal.

      Dini mulawati, staff hrd yang pemalu seperti sedang menutupi sesuatu (wati)

      Dina dimana, mboh sampek saiki durung ketemu๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ

      Hapus

Posting Komentar