Meranggas dan Berbakti


Pohon embam yang tumbuh di belakang kantor, yang tinggal dua batang lagi, mulai gugur daunya, dua lagi sebelumnya sudah mati. Embam itu sejenis mangga hutan, baunya labih harum daripada mangga, kulitnya tebal, kalau belum betul betul masak rasanya masam, dan getahnya sedikit gatal, tapi kalau sudah betul betul masak manisnya luar biasa, mungkin sejenis kueni kalau di jawa.

Entah siapa dulu yang menanamnya, tidak mungkin tumbuh secara liar, karena tumbuh berbaris rapi, kalau dilihat dari ukuran batangnya, sepertinya jauh lebih tua dari usia pabrik ini, karena pabrik belum genap tiga tahun beroperasi. Mungkin ditanam oleh para pekerja kontraktor yang membangun pabrik ini,  karena posisinya tumbuhnya persis di belakang  bekas lokasi barak pekerja.

Karena dibangun dimasa krisis dilokasi yang memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga proses pembangunan pabrik ini memakan waktu yang sangat lama, dari mulai pohom embam itu ditanam sampai berbuah berkali kali. Tinggal kami sekarang yang melanjutkan menikmati buahnya, untuk dibuat rujak siang hari di sela sela kesibukan kerja.

Tumbuh diatas surjanan yang dikelilingi rawa gambut membuat pertumbuhan tidak betul betul sempurna, malah cenderung kurus, mungkin karena kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan vegetatif jadi tidak seberapa, maka nutrisi yang diserap dari tanah lebih banyak di salurkan untuk pertumbuhan buah. Ya, pohon embam kami itu batangnya kurus tapi sangat rajin berbuah.

Atas nama estetika dan pengembangan bangunan, rawa rawa sekeliling embam itu sekarang ditimbun. Bukan langsung ditimbun pakai tanah tapi sebelumnya ditimbun pakai tandan kosong, baru kemudian lapisan atasnya ditimbun pakai tanah. 

Ada pertimbangan yang "cerdas" dibalik keputusan untuk memanfaatkan tandan kosong sebagai bahan timbunan, disamping karena jumlahnya yang sudah bikin pusing kepala, juga untuk meminimalkan pemakaian tanah, karena di lahan gambut, tanah timbun menjadi barang yang mewah, yang harus didatangkan dari luar wilayah.

Tandan kosong itu sebutan untuk tandah buah sawit yang sudah dipipil/dirontok dan sudah tidak ada brondolanya lagi, dalam takaran tertentu biasanya dimanfaatkan sebagai mulsa dan pupuk bagi tanaman, karena banyak mengandung nutrisi, tetapi dalam jumlah yang berlebihah justru membuat tanaman menjadi mati. Karena jumlah dan sifatnya itulah, maka tandan kosong statusnya masih abu abu, antara limbah padat, atau produk sampingan yang bermanfaat.

Mungkin itu jugalah yang dialami dan dirasakan oleh pohon embam kami, ibarat anak ayam yang mati di dalam lumbung padi, pohonya meranggas, daunya berguguran terkurung oleh tandan kosong yang kaya akan nutrisi, dan mungkin akan mati mengikuti kedua saudaranya yang sudah mendahului. 

Mungkin juga karena terlambat untuk beradaptasi, terbiasa dengan kondisi yang sedikit "puasa" untuk tetap menunjukkan "bakti", kemudian mendadak gelagapan ketita dikelilingi oleh makanan yang melimpah. Berbeda tanggapan dengan rumput rumput yang tumbuh liar di sekitarnya, dengan seolah tanpa beban, tumbuh semaki subur, menggila dan merajalela.

Sebenarnya ada perasaan iba dan tidak tega dengan nasib pohon pohon embam itu, tapi apa boleh buat, demi tujuan yang lebih "mulia", mereka terpaksa akan menjadi korban, jasa dan bakti mereka akan tetap kami kenang, dengan menyiapkan tanaman pengganti yang lebih "bergengsi".

Oh ya, pohon pisang udang yang ditanam di samping rumah sudah mulai mengeluarkan jantungnya, sudah ada tanda tanda untuk segera menunjukkan baktinya. Sebenarnya diluar ekspektasi, karena dibandingkan saudara saudaranya, proses pertumbuhanya kurang menggembirakan, ditanam di lokasi rendahan yang kurang subur, malah memacu semangatnya untuk membuktikan diri.



Beda dengan pohon embam tadi, Saya tidak terlalu risau dengan nasib pohon pohon pisang ini, sebagai tanaman "outsourching" tentu mereka menyadari bahwa kontraknya akan otomatis terhenti, ketika tugasnya untuk berbuah sudah selesai, karena memang tidak mungkin untuk berbuah lagi, harus rela hati untuk ditebang dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya lagi.

Komentar