Me"refresh" Niat Tholabul Ilmi


Sepanjang perjalan hidup manusia, selalu diisi dengan proses pembelajaran yang terus menerus. Disadari atau tidak, semua yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, dan kemudian otak kita menyimpulkan, itulah ilmu yang kita dapatkan dari proses pembelajaran itu.

Setelah tamat dari Aliyah, secara formal saya tidak lagi mengenyam pelajaran dari sebuah strata pendidikan, hanya beberapa pelatihan yang membuat otak saya bekerja sedikit lebih keras layaknya waktu sekolah dulu untuk menyerap dan memahaminya, selebihnya adalah hasil dari "endapan" apa yang saya baca, saya lihat, saya dengar, dan saya perhatikan yang melintas begitu saja di pikiran tanpa diniatkan sebagai sebuah proses pembelajaran.

Entah itu nanti akan tercatat sebagai jawaban atas perintah untuk "tholabul ilmi" (mencari ilmu) yang rentang waktunya minal "mahdi ilal lahdi" atau tidak. Kalau melihat dari "endapan"nya yang walaupun hanya tipis belaka, setidaknya saya punya bekal untuk sedikit berkilah di hari perhitungan nanti, bahwa perintah itu tidak sepenuhnya saya abaikan. 

Tapi kalau kembali lagi ke kaidah bahwa sarat diterimanya amal adalah niat, tentu detik ini juga saya harus segera bertaubat, untuk terus menerus memperbaharui niat, karena ternyata sudah sangat lama sekali perintah itu saya abaikan, dan sungguh betapa sangat meruginya, karena melewatkan begitu banyaknya kesempatan, pengalaman, dan semua yang tertangkap oleh panca indera, yang hakikatnya adalah proses panjang pembelajaran, yang seharusnya menjadi jawaban atas perintah dan bernilai sebagai ibadah yang menjadi ladang pahala, menjadi sia sia terlewat begitu saja.

Dalam memberikan pengarahan kerja, walaupun untuk kerja kerja sederhana, untuk mencangkul misalnya, seringkali disamping untuk menyampaikan obyek dan target kerja, saya juga sekalian menyampaikan teknik kerja, lho.. mencangkul juga ada tekniknya juga ya?, betul, untuk anda yang tidak berlatar belakang petani, menyangkul itu termasuk pekerjaan yang menyiksa karena tidak tau tekniknya, juga bisa jadi dengan posisi badan yang salah, mata cangkul bukanya mengarah ke tanah tapi justru menyasar ke betis. Teknik dan cara mencangkul itu juga bagian dari ilmu, ilmu mencangkul yang juga harus dipelajari ketika hendak mencangkul. 

Juga selaras dengan panduan Kanjeng Nabi, "Barang siapa menghendaki dunia, maka raihlah dengan ilmu", dan makna dari kata dunia itu bisa kita luaskan dengan semua aktifitas yang berorientasi ke kedunian termasuk mencangkul, memanen sawit, mengemudi, dan lain sebagainya. Maka agar aktifitas aktifitas berjalan dengan maksimal maka kuasai ilmunya, ilmu mencangkul, ilmu memanen sawit, ilmu mengemudi dan lain sebagainya seperti panduan dari Kanjeng Nabi tersebut.

Tentu tidak kalah pentingnya juga dengan mencari ilmu akhirat, karena lanjutan dari panduan tersebut adalah paket komplit "Dan barang siapa yang menghendaki akhirat, maka raihlah dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya (dunia dan akhirat) maka raihlah dengan ilmu".

Karena ilmu ilmu itu sebagian tanpa kita sadari kita dapat dari pengalaman dan kegiatan sehari hari, maka alangkah baiknya kalau setiap aktifitas yang kita lakukan sekalian kita niatkan untuk "tholabul ilmi", tentu tidak cukup hanya sekedar niat, tembahkan dengan perhatian, bila perlu catatan catatan, kemudian diambil pelajaran sebagai ilmu.

Dua bulan ini, atas dukungan dan supervisi dari para sahabat dan sekaligus adalah guru, saya sedang getol getolnya untuk belajar menulis dan belajar sastra, walaupun otak saya agak "keponthal ponthal" mengikutinya, tapi saya sangat antusias menjalaninya, sekaligus untuk bekal pertanggungjawaban di "yaumil hisap" nanti, setidaknya dosa saya karena malalaikan kewajiban untuk tholabul ilmi tidak menjadi lebih panjang lagi.

Komentar

  1. Rencana kumpulan tulisan, usulku, disusun secara urutan tgl penulisan, biar terasa historikalnya

    BalasHapus
  2. Tul mantul, datang yang ditunggu.

    BalasHapus
  3. Nunggu nopo pak😄😄😄

    BalasHapus

Posting Komentar