"Mogol" itu kata sifat, entah apa padananya yang betul betul pas dalam bahasa indonesia, mogol itu seperti tape kurang ragi, tidak betul betul lulus jadi tape karena tidak manis dan teksturnya kurang lembut, bagian tengahnya masih lebih pantas disebut sebagai ubi kukus.
Juga sudah melepas status sebagai ubi kukus, sebab permukaanya sudah lembek karena sudah diinapkan selama tiga hari, tapi tentu tidak sudi dituduh sebagai ubi kukus yang basi, karena aromanya sudah wangi hasil fermentasi oleh jamur ragi. Itulah "mogol", serba tanggung, tidak bisa "mrantasi gawe", tapi sudah kadung dikalungi ekspektasi.
Dalam banyak kasus saya sebenarnya juga produk "mogol", kaitanya dengan status sebagai santri, saya ini santri yang "mogol", karena waktunya yang kurang lama, juga prosesnya yang kurang "ragi", kurang niat, berkutat di bab "thoharoh" saja tidak tamat tamat, jadinya ya tidak betul betul siap setelah diterjunkan di masyarakat, konon lagi pertanggungjawabanya di akherat, masih rawan untuk tersesat, juga membuat orang ikut ikutan jadi sesat. Kadang pernah terpikir untuk macak "abangan" saja, tapi untuk menjadi sedikit lebih "binal", jelas saja jiwa santrinya tidak akan bisa terima.
Juga dalam hal memilih model untuk menulis, semuanya serba "mogol", sempat tertari untuk mengikuti jejak Agus Mulyadi yang "kenthir" itu, yang memproklamirkan diri sebagai "Gus" walaupun bukan putra kiai, tapi "kekenthiran" Agus Mulyadi yang natural dan original itu jelas tidak bisa diikuti, tanpa "kekenthiran" yang alami alurnya akan kurang rapi dan gocekanya terasa kurang seksi.
Juga untuk mengikuti jejak Emha dengan pembahasanya yang "ndakik" mbulet dan ruwet itu, tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan olah kata saja, tanpa dibarengi dengan kedalaman pemahaman akan materi dan keluasan referensi hanya akan menjadi barisan kata kata yang kurang bermakna dan tidak "bernyawa".
Apa lagi kalau mau mengikuti model tulisan Gus Glory yang banyak bersumber dari kitab suci, tentu saja saya tidak berani, karena bukan maqomnya, santri "mogol" kok ndalil, bisa salah konteks dan salah tafsir nanti, lebih baik manut saja sama yang lebih mumpuni.
Kemarin mengantar anak ke pondok lagi, pakai acara tangis tangisan lagi, pakai acara membujuk bujuk lagi, sebenarnya saya termasuk ayah yang tidak tegaan, tapi anak seusia itu, yang masih gamang menentukan pilihan, belum waktunya untuk diberikan kebebasan, akhirnya diajak bicara secara dewasa, dijanjikan kebebasan setelah dua tahun lagi, setelah pikiranya menjadi lebih terbuka, tapi dua tahun ini harus tetap dijalani.
Sebenarnya masalahnya hanyalah memperbaiki lagi adaptasinya yang terlanjur "mogol" karena kelamaan libur yang katanya tetap "belajar" dirumah gara gara wabah, jadi "feel"nya kembali berubah.
Satu tahun sebelumnya sudah sukses dijalani dengan lebih enjoy, bahkan sempat berpesan untuk tidak terlalu sering disambangi, juga kalau dilihat dari hasilnya tidak mencerminkan kalau dia dalam keadaan yang tertekan.
Sampai di pondok diterima dengan prosedur sesuai protokol kesehatan, wali santri tidak diizinkan ikut mengantar sampai ke gotha'an, setelah mengurus administrasi, berbekal basa basi dan sedikit koneksi, saya mendapat privasi untuk bisa mendampingi sampai ke gotha'an, tapi saya tidak manfaatkan, saya tidak mau ikut ikutan jadi "mogol" dengan menerapkan protokol yang setengah hati.
Wabah ini memang membuat banyak urusan jadi "mogol", mudah mudahan tidak menjadi lebih berlarut larut karena disikapi dengan cara yang "mogol" juga.

Masih berproses pak, ojo merasa mogol. Mogol ki wes nek dientas.😀 Mosok sek 30 dino dibandengne 30 tahun, yo adoh je.💪💪💪
BalasHapusBerharap mogolnya membawa berkah pak, seperti mogol yang berbuah serendipity pada proses ditemukanya roti berfermenti, atau proses ditemukanya minuman teh.
BalasHapus