"Ngungkal Gaman"


Waktunya "ngungkal gaman", "ngungkal" artinya mengasah, "gaman" artinya senjata, bukan untuk keperluan perang, karena memang bukan prajurit, tapi untuk keperluan berkurban.

Gamanya "kethul" (tumpul) jadi harus diasah biar tajam, biar mudah digunakan, gaman kethul bisa jadi karena sudah kelamaan tidak digunakan, berkarat, bisa juga karena gaman pemula belum pernah diasah sama sekali, jadi memang belum tajam.

Gaman itu piandel, sesuatu yang diandalkan, kalau prajurit biasanya gamanya panah, tombak, pedang, atau keris. Biasanya makin tinggi kedudukanya dalam keprajuritan, gamanya makin pendek atau kecil, seorang jendral piandel utamanya bukan terletak pada kerisnya, tapi pada otaknya, pada instuisinya, pada kemampuanya mengatur strategi perang. 

Setiap profesi mempunyai piandelnya sendiri sendiri, seorang juru kamera misalnya, piandelnya adalah kameranya, semakin canggih dan "tajam" kameranya akan membuat si juru kamera itu semakin percaya diri, tapi bagi juru kamera yang sudah level "jendral", hanya dengan berbekal kamera yang sederhana saja tetap bisa memproduksi gambar yang istimewa.

Dalam menulis, gamanya adalah kemampuan olah kata dan daya imajinasi, sebagai penulis pemula tentulah gaman itu masih tumpul belaka, masih harus memilih milih bahan, tapi nanti kalau gamanya sudah mumpuni, bahan apapun bisa diolah dengan mudah, untuk dihidangkan sebagai sajian yang lezat dan indah.

Ada beberapa cara agar gamanya menjadi tajam, salah satunya dengan menggosokkanya pada bahan yang lebih keras, dengan memperbanyak membaca bacaan yang berkualitas, menggosokkan dengan posisi yang bersebelahan, bukan menggosokkanya secara berhadap hadapan, apalagi membenturkanya, karena justru akan menjadi semakin tumpul atau bahkan malah goang. Sebagai penulis yang gamanya masih kethul, tentu sangat naif kalau menghadap hadapkan tulisanya dengan bahan yang lebih "keras", bukanya menjadi lebih tajam, yang ada malah semakin tumpul, minder, bahkan bisa patah arang atau goang.

Atau dengan cara menggunakanya secara terus menerus, pada bahan yang tepat, dengan cara yang benar, karena gesekan yang terus menerus pada saat "mengiris", dengan bahan yang tepat, akan terus mengikis "karat", yang membuat gaman semakin lama semakin tajam.

Beberapa hari yang lalu dikirimi Mas Aris buku puisi puisinya F Aziz Manna, saya sama sekali buta dengan tokoh tokoh sastra kekinian, tapi karena yang merekomendasikan adalah Mas Aris, maka saya yakin beliau bukan orang sembarangan.

Baru satu dua halaman saya sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa buku ini sangat cocok untuk mengasah gaman. Saya baca pelan pelan, kata demi kata tidak mau tergesa gesa seperti biasanya saya membaca, karena saya ingin mengambil pelajaran darinya.

"Manggala", bagian pertama dari buku ini, bait baitnya panjang, tidak seperti puisi yang kalimatnya pendek pendek penuh misteri seperti mantra, sebagaimana selama ini secara awam saya fahami. "Manggala" lebih seperti cerita, kata yang tersurat dan makna yang tersirat mengalir dengan sama sama kuat.

Hampir di setiap baitnya saya mengambil jeda, mencoba mencerna makna apa yang dimaksudkan oleh penulisnya, walaupun sebagian besarnya berujung sia sia, ingin sekali saya menggesekkanya lebih keras, tapi saya tetap harus hati hati, agar gaman saya tidak menjadi goang.

Mudah mudahan besok bisa berlanjut ke bagian berikutnya "Perempuan di Tepi Kolam",  akan tetap saya baca dengan pelan, walaupun agak lama, tapi akan saya baca sampai tuntas.

Waktunya ngungkal gaman, biar tidak dimakan karat, dan menjadi lebih tajam. 

Komentar