Dari beberapa tulisan sebelumnya, saya mulai khawatir akan timbul kesan bahwa saya merasa "menderita" menjalani kehidupan selama bekerja dan tinggal di kebun.
Dan jika ternyata kekhawatiran itu benarlah adanya, tentu saya sudah terjerumus dalam perbuatan yang dzolim, karena sebenarnya yang terjadi adalah saya sangat menikmatinya, hidup di kebun itu kesepian memang benar, hidup di kebun itu jauh dari fasilitas dan jauh dari keluarga memang benar, tapi di balik itu juga banyak sekali kenikmatanya.
Agar kenikmatan kenikmatan itu menjadi berkah, maka saya harus mensyukurinya, berkah dalam arti semakin bertambahnya manfaat, begitu para guru sering menjelaskan.
Karena saya khawatir, jika tidak disyukuri, "Sang Pemberi" nikmat menjadi tidak ridho kepada saya, menganggap saya sebagai hamba yang tidak tahu diri, sebagai hamba yang tidak tahu terima kasih, sebagai hamba yang "kufur binni'mah". Karena kalau sudah begitu, ancamanya tidak main main, "inna adzaabi lasyadiid, sungguh siksaKu sangat pedih", dan tidak terbabayangkan bagaimana kelak di akhirat saya akan sanggup untuk menanggungnya.
Karena itulah dalam tulisan ini, akan saya sampaikan beberapa kenikmatan tinggal di kebun, hanya beberapa saja, diantara sekian banyak kenikmatan lainya, yang karena kedhoifan saya, tidak bisa disebutkan semuanya.
Juga tuliskan ini saya niatkan sebagai "takhaddus binni'mah" sebagai salah satu manifestasi dari rasa sukur saya karena tinggal di kebun.
Berikut beberapa kenikmatan yang saya rasakan selama hidup di kebun:
1. Sebagai sumber penghasilan.
Dulu waktu baru tamat Aliyah saya sempat bingung mau kerja apa, dengan fisik yang cungkring saya merasa kurang Pede untuk melanjutkan profeai Bapak saya sebagai petani, ketrampilan tidak punya, "hanya" bermodalkan ijazah aliyah sepertinya agak ragu untuk bisa laku melamar sana sini.
Sampai akhirnya saya "tersesat" di jalan yang InsyaAllah terang, kerja di kebun. Sekolah agama kok kerja di kebun?, kenapa tidak, sekarang ini tamatan sekolah agama/pesantren sudah mengisi dan mengambil peran hampir di semua lini kehidupan dan profesi, bukan "hanya" peran sebagai pembaca doa, tapi juga peran peran yang sangat istimewa lainya.
Di perkebunan saya mendapatkan kesempatan untuk menggali kemampuan diri dan mendapatkan penghasilan dengan jumlah yang sudah sangat kurang ajar kalau saya tidak mensyukurinya, setidaknya untuk ukuran saya yang hanya berbekal skill dan kemampuan yang seadanya.
2. Terbiasa untuk disiplin.
Bekerja di kebun juga melatih diri untuk terbiasa disiplin, satu contoh saja, tidak banyak profesi atau lapangan pekerjaan yang mengharuskan jam 6 pagi, sebelum matahari terbit sudah harus berada di lokasi, dan bekerja di kebun, kita harus melakukanya setiap hari.
3. Udara dan alamnya masih segar.
Di kebun udaranya masih segar dan kaya akan oksigen, kalau benar apa yang dikampanyekan para ahli, bahwa untuk mencukupi kebutuhan satu orang manusia, dibutuhkan satu batang puhon untuk memproduksinya, la kami ini dikelilingi oleh jutaan batang pohon sawit, tentu oksigen yang diproduksi juga sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, sudah bisa diekspor ke mana mana. Ditambah lagi sebagai habitat berkembang biaknya aneka ragam jenis burung. Mendengarkan kicaun perkutut, tekukur, kutilang, ciblek, langsung dari alam sekitar, bukan dari sangkar, tentu menjadi sesuatu yang langka jika tinggal di kota.
4. Memberikan ketenangan.
Tinggal di kebun juga bisa memberikan ketenangan, karena jauh dari keramain, tidak banyak yang bisa dilihat, tentu juga bisa sedikit menekan nafsu untuk mengejar hal hal yang sifatnya konsumtif dan kurang bermanfaat.
Mengutip "teori pemandatan"nya Mas Prie GS, hubunganya dengan hobi baru saya, menulis, saya jadi berani sedikit ge er, bahwa sebenarnya memang sudah dimandatkan untuk itu, karena suasana yang tenang di kebun sangat mendukung, seandainya tinggal di kota, mungkin saya tidak akan punya cukup waktu dan inspirasi untuk menekuninya.
Jadi bagaimana, betul betul nikmat kan kerja dan tinggal di kebun?

Tak terasa sudah 46 kali menulis. Lanjutkan mengeksplorasi lapis demi lapis kedirian kita.
BalasHapusWalaupun sebagianya hanyalah sampah belaka, tetap kupelihara, sebagai bagian anak tangga.
Hapus