Dulu waktu masih kecil ada semacan kepercayaan dalam masyarakat, tentang ilmu pesugihan "omah bubrah", secara harfiah bisa dimaknai sebagai rumah dibongkar/direhab, ciri ciri penganut pesugihan ini adalah bangunan rumahnya tidak pernah selesai, ketika hampir selesai sebagian dibongkar lagi dan direhap lagi, begitu seterusnya, tapi heranya si empunya tetap makin kaya, bukan jatuh miskin karena kehabisan biaya.
Karena kurang percaya terhadap hal hal klenik seperti itu, saya jadi berpikir berbeda, mungkin saja si empunya itu memang sedang menanjak ekonominya, sehingga kondisi terbarunya sudah jauh lebih baik ketika pertama kali mengonsep rumahnya, sehingga karena memang dananya tersedia (maklum makin kaya), sementara seleranya semakin meningkat seiring dengan kekayaan, ya sudah, dirubah saja rumahnya, begitu seterusnya.
Berbeda kasus dengan rumah saya, rumah saya itu juga tidak selesai selesai, bukan karena punya ilmu pesugihan "omah bubrah", tapi lebih karena "angah angah" (kebesaran angan angan), berawal dari kesukaan saya menerima tamu, juga karena lokasinya yang cocok untuk tempat persinggahan, untuk dulur dulur yang akan keluar atau masuk pulau rimau, demi membuat tamu tamu saya merasa nyaman, maka saya bertekad untuk memperbesar rumah.
Berbekal rasa khusnudzhon yang sangat tinggi bahwa Gusti Allah Yang Maha Kaya akan melancarkan rizki, rumah saya mekarkan, rumah yang bertype mini itu saya lebarkan, memanfaatkan jatah tanah sisa di belakang dan samping kanan bangunan.
Konsepnya biar sederhana yang penting lega dan tahan lama, berwawasan masa depan, jangan nanti diubah ubah lagi, biar bikin rumah sekali saja.
Sumber daya seadanya tidak masalah, yang penting niat kuat untuk terus berusaha, dapat rizki sedikit ditempelkan sedikit, belum dapat rizki ya disambung nanti, ujung ujungnya ya itu tadi, pengerjaan rumah jadi berlarut larut tidak selesai selesai, teras depan belum sempurna, atap belakang sudah minta ganti, jadi bukan karena ilmu pesugihan "omah bubrah", tapi lebih karena "angah angah".
Ternyata membangun rumah itu memang berat, walaupun hanya sekedar menambah saja, banyak pengeluaran pengeluaran tak terduga yang luput dari perhitungan.
Kemarin pagi curi curi waktu di mess untuk nonton tivi sambil sarapan pagi, ada berita ribut ribut tentang zonasi dan pembatasan usia masuk sekolah, pikiran awam saya jadi menduga duga, mungkin dunia pendidikan kita ini memang sangat "kaya" dan pertumbuhanya sedang sangat tinggi, sehingga perlu untuk memperturutkan selera "omah bubrah", peraturan dan kurikulumnya selalu berganti, berubah ubah setiap ganti pejabat mentri.
Atau jangan jangan karena kita ini memang suka "angah angah".
Note:
• Foto hanya ilustrasi
Referensi:
• Nonton tivi pagi pagi
• Rasan rasan bocah berangkat sekolah.

Omahku wes 20 thn gak pernah tak rubah pak
BalasHapusPokok gak bocor ae
Sbb gak duwe dana ha ha ha
Tanya pak dhin yg uda pernah singgah di gubug saya
Alhamdulillah pak, aku lagek limang tahun iso nduwe omah,
HapusOjo sampek produser tim bedah rumah ngerti lo pak. Iso iso omah sampean dirampungke. Sampean wis gak iso omah bubrah ne.ππ¬ππ³πΈ
BalasHapusAlhamdulillahππππ
Hapus