Pongah Atas Nama Ibadah


Selamat berpuasa sunah tarwiah dan arofah, semoga kita yang menjalankan mendapat pahala dan keutamaan kedua puasa tersebut, sesuai dengan apa yang diterangkan dalam hadits nabi yang menjelaskan tentang keutamaan keutamaanya.

Tidak dalam kapasitas saya untuk mengupas masalah ini, kedhoifan dan kefakiran saya akan ilmu mencegah saya untuk berbicara tentang hal hal yang tidak benar benar saya kuasai, saya takut nanti di akhirat digugat dengan satu pertanyaan, "lima takuluna ma ta'lamun" (mengapa kamu mengatakan tentang apa yang tidak kamu ketahui) , dan pastinya saya akan kesulitan untuk menjawabnya.

Hanya satu hal sederhana dari puasa yang saya fahami, inti dari puasa itu adalah pengendalian diri, mengendalikan diri dari lapar dan haus, dan hal lainya yang bisa membatalkan puasa. Tapi yang tidak kalah pentingnya dari puasa adalah  mengendalikan diri dari hawa nafsu, yang bisa merusak keutamaan puasa. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari penjelasan para guru ketika belajar ngaji dulu.

Dari cara puasa saya yang masih amburadul dan jauh dari sempurna, menahan lapar dan haus sepertinya relatif lebih mudah, menahan nafsu, ini yang susah, karena setan sangat lihai memainkanya, lulus dari yang kasar seperti sombong, masih bisa terjerat jebakan berikutnya lagi, riya', pamer, belum lagi nanti perasaan bangga diri karena merasa berhasil dengan tidak sombong dan riya', jatuhlah pada ujub yang juga bisa merusak keutamaan dari puasa.

Siang tadi kedatangan tamu, beberapa orang, bukan tamu pribadi, tapi tamu kerja, untuk urusan pekerjaan, agendanya untuk mengeksekusi hal yang sudah disepakati sebelumnya.

Awalnya berjalan dengan lancar, selayaknya tamu dan tuan rumah, tapi diujungnya ternyata ada perbedaan persepsi tentang hasil kesepakatan, setelah melakukan klarifikasi dan sedikit diskusi akhirnya didapatkan titik temunya, setelah deal, sang kepala rombongan duluan meninggalkan lokasi dengan cara yang kurang semestinya, yang membuat anggotanya merasa perlu untuk menyampaikan satu dua kalimat agar mendapatkan pemakluman karena merasa tidak enak hati, "mungkin bawaan lapar, beliau sedang puasa", katanya.

Entah mengapa nafsu yang bersarang di hati dengan spontan memerintahkan lidah saya untuk menjawab, "saya juga sedang puasa".

Seketika saya sadar, ternyata kualitas puasa saya belum ada apa apanya, masih terjerat oleh jebakan yang sama, jebakan nafsu untuk bersikap riya' sekaligus ujub, yang bisa merusak keutamaan puasa.

Sesudahnya saya hanya bisa pasrah dan berharap, mudah mudahan puasanya tetap sah karena tidak ada laranganya yang dilanggar, tapi untuk mendapatkan keutamaanya, saya hanya bisa memohon kemurahan dari Allah Yang Maha Pemurah lagi  Maha Menilai.

Wallahu a'lam.

Komentar