"Upgrade" Pikiran


Membagi konsentrasi memang 
membutuhkan latihan, ketika kita dihadapkan pada situasi yang membuat kita tidak bisa memilih mana yang harus lebih diprioritaskan.

Beberapa hari ini dihadapkan pada situasi pekerjaan yang membutuhkan perhatian yang serius, apa lagi melibatkan pihak luar yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol.

Sebagai orang yang belum terbiasa memikirkan banyak hal sekaligus, yang mikirnya masih cenderung fokus satu persatu, menghadapi banyak masalah secara bersamaan kadang membuat pikiran menjadi agak panik dan sedikit stress, tapi ternyata solusi dari semua itu hanya satu, "dihadapi".

Menghindar atau lari dari masalah masalah tersebut karena takut mengambil resiko untuk stress, justru akan memperburuk keadaan, karena masalah masalah tersebut akan terus menghantui yang membuat pikiran kita akan dipenuhi kecemasan dan kegelisahan sehingga hanya menyisakan sedikit saja ruang kosong untuk berfikir jernih dan mendapatkan solusi.

Kemarin siang, disela sela tugas rutin, dan tunggakan tugas tugas sebelumnya yang mulai menekan menuntut untuk segera diselesaikan, tiba tiba datang satu masalah yang cukup mengejutkan. Pikiran mulai panik, tapi otak harus tetap tenang, mencoba menelusuri benang kusut dan akar permasalahanya, dan mulai menyusun langkah langkah untuk mendapatkan solusinya.

Di saat sedang kencang kencangnya berpikir untuk menyelesaikan masalah yang ada, tiba tiba datang berita dari keluarga tentang masalah yang juga tidak kalah pentingnya, mulai muncul dilema antara kerja versus keluarga, di sinilah pentingnya pendelegasian dan sharing beban secara proporsional, karena toh semuanya tidak bisa diselesaikan sendirian.

Sore ini sudah mulai ada titik titik terang solusinya, langkah langkah penyelesaianya sudah mulai dijalankan, keadaan sudah mulai terkendali, sudah bisa untuk memberanikan diri minta izin untuk menyelesaikan masalah keluarga, dengan terlebih dahulu memberikan sedikit presentasi tentang kondisi pekerjaan.

Izin sudah diberikan, walaupun dengan catatan catatan, tugas tugas yang akan ditinggalkan sudah didelegadikan, tinggal berangkat pulang saja.

Tiba tiba muncul masalah baru lagi, ringan saja memang, tapi karena waktunya tinggal sisa sisa, cukup membuat pikiran gelagapan, sekali lagi, solusinya adalah "dihadapi", ternyata tidak serumit yang dibayangkan.

Mungkin itulah cara Tuhan meng"upgrade" pikiran kita, dengan memberikan beban yang sedikit lebih berat dari biasanya, anggap saja sebagai ujian, agar pikiran kita menjadi terbiasa  dan kemudian naik kelas dan siap untuk menjawab tantangan tantangan berikutnya

Komentar

  1. Hadapi hadapi dan hadapi
    Asal jgn terlalu PD utk menghadapinya pak akhirnya yg keluar sombong
    Mugi segerwaras sedoyo pak

    BalasHapus
  2. Matur suwun pak, hanya khusnudhon dengan pertolongan gusti Allah.

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Insyaalloh, siap laksanakan Gus, mohon pangestunya

      Hapus
  4. Isun ora melihat isi tulisan riko, tapi teknik penyampaian. Riko Moco maneh bukune emha, atau kumpulan esai yg riko senengi. Urusan nulis riko Wis lihai, hnya teknik perlu sedikit dipelajari lg ben lebih greget. Nuhun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suwun mas, siap tak sinauni lagi, walaupun daya tangkapnya sudah mulai dedelπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™

      Hapus
  5. Meniru teknik penulisan, cara pemaparan dsb, sah sah saja, ntar Makin lama karakter tulisan Kita pasti terbentuk sendiri. Jd jngn takut meniru

    BalasHapus

Posting Komentar