Seminggu yang lalu ketika pulang, istri pura pura perhatian dan terkejut ketika melihat ukuran perut saya.
"Lho perut ayah kenapa, ayah kembung ya?".
Wah ini nyemoni ini, dan yang membuat hati saya tambah anyel adalah si Mbak sepertinya berkonspirasi dengan ibunya ikut ikutan mentertawakan.
Ini pasti gara gara roti gabing dan 1 muk teh manis yang belakangan ini frekwensinya menjadi lebih sering saya konsumsi.
Semenjak mulai belajar menulis, roti gabing dan 1 muk teh manis lumayan membantu untuk menemani menggali lagi celengan pengalaman sebagai inspirasi untuk saya jadikan bahan tulisan.
Belakangan ini saya mulai kesulitan menulis, bisa jadi karena mulai kehabisan bahan, celengan pengalaman mulai menipis sementara saya malas untuk "kulakan" dengan memperbanyak referensi dengan rajin membaca. Dan sebagai gantinya justru malah frekwensi ngemil roti gabing dan teh manisnya yang saya tingkatkan.
Dan hasilnya sudah bisa ditebak, bukan kualitas tulisan yang semakin meningkat, tapi malah ukuran perut saya yang makin membesar.
Tapi saya tidak menyerah, kehabisan bahan untuk cerita, saya beralih untuk belajar membuat puisi, dalam bayangan saya sepertinya roti gabing dan teh manis bisa berjodoh dengan puisi, nggayemi roti sambil berimajinasi sepertinya lumayan asik.
Tapi karena niatnya untuk pelarian saja, usaha saya untuk membuat puisi jadi agak sia sia, puisinya terasa hambar gak ada rasa.
Gagal total rencana saya untuk berpose agak nyentrik untuk saya jadikan foto profil gaya gayaan sebagai identitas seorang sastrawan.
Tertantang oleh ejekan istri tentang ukuran perut tadi, saya tekadkan diri untuk mulai puasa lagi, kebetulan sudah masuk bulan dzulhijah, waktunya untuk puasa sunah, kan lumayan, pahala bisa bertambah sekaligus ukuran perut bisa berkurang.
Puasa hari pertama berjalan dengan lancar, cuaca mendung jadi tidak terlalu terasa lapar dan hausnya.
Hari berikutnya setelah terbangun dari tidur istirahat siang, dengan mata yang masih sedikit ngantuk, saya sambar muk yang ada di samping tempat tidur, tidak butuh waktu lama, teh manis yang tinggal setengah itu segera berpindah ke perut saya.
"Alhamdulillah lupa".
Bersukur saya karena segera diingatkan kalau hari itu puasa.
Cuaca hari ini lumayan terik, sepertinya bulan juli sudah mulai menunjukkan jati dirinya sebagai bulan musim kemarau, juga mungkin Gusti Allah sedang menegur saya karena berani beraninya "ngrasani" dengan menulis "Hujan Pagi di Ujung Juli".
Setelah bangun dari istirahat, siang tadi badan terasa lemas, sholat dhuhur jadi agak malas, selesai sholat melihat roti gabing yang menggoda di atas meja, dalam hati saya berdzikir dan berdoa,
"Ya Allah lupa, ya Allah lupa, ya Allah lupa".
Alhamdulillah Gusti Allah tidak mengabulkan doa saya.
Yang ada malah saya lupa dengan tekad untuk menambah pahala dan mengurangi ukuran perut.
Semoga Gusti Allah mengampuni dosa saya.

Komentar
Posting Komentar