Suasana dingin musim kemarau malam itu tak mampu menjaganya untuk tidak terjaga dari lelap tidurnya, dibetulkannya posisi tidur yang meringkuk dengan kaki ditekuk dalam gulungan kemul sarung yang masih menyisakan aroma minyak gosok. Rasa pahit di tenggorokan memaksanya untuk menyibakkan kemulnya dan meraih cup air mineral yang ada di samping tempat tidurnya.
Dari jendela kaca yang tersibak hordengnya, terlihat bulan sabit yang belum lama terbit, pertanda bulan dzulhijjah sudah memasuki tanggal tua. Ya, sebentar lagi masuk bulan muharrom atau bulan suro, saatnya pergantian tahun untuk umat islam yang menggunakan penanggalan lunar. Pergantian tahun yang tidak dirayakan dengan penuh uforia sebagaimana pergantian tahun masehi, bahkan oleh pemeluknya sendiri, yang ada malah sering lupa kapan hari itu akan tiba.
Pergantian tahun juga berarti bertambahnya usia, atau bisa juga dimaknai dengan semakin berkurangnya jatah waktu untuk hidup di dunia. "Haruskah membuat resolusi baru?" pikirnya, sambil membetulkan selimut dia membayangkan cita citanya yang belum terwujud, malah seperti bayang bayang sinar matahari, yang semakin senja bayang bayang itu semakin memanjang, semakin jauh untuk dikejar dan diikuti.
"Puncak masa produktif itu sudah lewat", gumamnya lagi, usianya sudah tidak bisa lagi dibilang muda, ibarat matahari sudah mulai condong ke barat, terbayang satu per satu peluang yang sudah terlewat, yang mungkin tidak akan pernah lagi datang untuk didapat, ibarat mesin yang sudah mulai berkarat, gerak semangatnya pun juga sudah mulai melambat.
Dipandanginya bulan sabit yang mulai meninggi dari balik kaca jendela, satu satu suara kokok ayam memberi tanda bahwa subuh akan segera tiba, entah mengapa bulan sabit tanggal tua lebih menarik perhatianya, walaupun hadirnya selalu dalam sunyi, tidak seperti bulan sabit awal bulan yang kehadiranya dinanti dengan penuh selebrasi, yang muncul malu malu di ujung teropong untuk kemudian bersembunyi lagi di balik malam.
Tapi bulan sabit tanggal tua berbeda, berani hadir dan meninggi menantang matahari, untuk kemudian merelakan diri "hilang" terkubur cahaya yang lebih terang. "Seperti itukah diriku, seperti bulan sabit itu ?", tanyanya dalam hati, "tidak, ini bukan tentang putus asa, tapi tentang membuka dada membaca realita".
Mungkin bulan sabit itu sedang mengingatkan, sudah waktunya untuk berganti peran, peran yang sudah dijanjikan, karena peran yang ini sudah tidak lagi dimandatkan, seperti bulan sabit yang akan meninggalkan tahun ini, dan akan hadir mengambil peran lagi tahun depan.
Suara tarkhim dari speaker masjid membuatnya tersadar dari lamunan, dilihatnya sekali lagi bulan sabit itu, "sebentar lagi akan memudar", gumamnya lagi, memudar tersamar cahaya fajar, tapi bulan sabit itu akan tetap meninggi, menapaki jalanya yang tersembunyi di dalam terang.
Sudah masuk waktu subuh, hari akan segera berganti, ah sudahlah, untuk apa lagi meratapi bulan sabit yang sudah "tinggi", sudah saatnya untuk mensucikan diri, bersiap untuk menghadan Sang Maha Pemberi.

Asek opone nyawange di dampingi ibuk e .
BalasHapusMungkin beda yg di bayangne๐๐
Nek didampingi ibue gak kober nyawag mbulan pak๐๐
HapusPenak iki dirasakne. Meninggalkan jejak perenungan.
BalasHapusMugo mugo enek manfaate pek
Hapus