Hari Raya Qurban


Sudah dua hari tidak nulis, hari kamis dan hari jumat, kali ini tidak bisa menjaga konsistensi one day one artcle yang sebelumnya dijaga mati matian dengan semboyan "menulis harga mati". Sebenarnya juga salah sendiri, di jaman yang serba tawar menawar ini kok berani beraninya pakai harga mati  segala, la wong yang sudah di nash kan dalam kitab suci saja masih ada pengecualianya kok. Tapi ya sudahlah,  setidaknya sesuai dengan semboyan yang lainya, "bercita citalah setinggi langit", kalaupun tidak tercapai setinggi langit, setinggi atap rumah pun sudah lumayan.

Hari kamis tidak menulis, karena jam menulis yang paling produktif, jam 16.00-22.00 dimanfaatkan untuk persiapan dan perjalanan pulang ke palembang, karena besoknya sudah lebaran Idul Adha.

Hari jumat bertepatan dengan 10 dzulhijjah, hari raya Idul Adha, selepas sholat id dan sarapan, menyempatkan diri untuk sanjo, bertamu ke rumah beberapa tetangga yang dituakan, sebagai orang yang jarang pulang, momen seperti ini sayang untuk dilewatkan, untuk mempererat hubungan dengan tetangga kiri kanan.

Tema obrolan masih berkisar tentang rencana penyembelihan kurban yang baru akan dilakukan keesokan harinya, karena hari jumat dianggap hari pendek, takut waktunya tidak cukup, karena tahun ini, walaupun masih dalam masa pandemi, tapi jumlah binatang kurbanya jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya, tahun ini ada 4 ekor sapi dan 10 ekor kambing, mungkin salah satunya karena tahun ini ada sistem semacam arisan, setor tiap bulan dan setelah sepuluh bulan sudah cukup untuk satu qurban.

Dari obrolan obrolan itu juga tertangkap adanya keluhan keluhan, salah satu keluhanya adalah, dari tetangga yang saya datangi, beliau tidak mendapatkan kupon kurban, karena tinggal dalam satu rumah dengan anak dan menantunya, padahal rumah itu sudah dibelah jadi dua, sebelah ditempati oleh anak dan menantunya, sebelah lagi beliau tempati berdua dengan istrinya, tapi mungkin karena awalnya adalah satu bangunan dan satu keluarga maka setiap kali pendataan selalu saja dihitung satu KK.

Di rumah berikutnya, mendapatkan cerita yang agak berbeda, si empunya rumah yang juga adalah salah aatu shohibul qurban, merasa kurang diperhatikan oleh panitia, mengkritik habis habisan dan membandingkan dengan ketika beliau masih tinggal di tempat sebelumnya yang ketika itu beliau adalah ketua panitianya. Sempat muncul dugaan di benak saya bahwa beliau sedang mengalami Post Power Syndrome, karena mungkin merasa kurang dituakan lagi.

Pagi ini datang ke masjid, golok yang sudah dipersiapkan sebelumnya tidak jadi saya bawa, karena sempat terjadi perubahan susunan kepanitiaan, sebelumnya masuk ke daftar panitia untuk sapi nomer tiga, tapi muncul revisi, bahwa shohibul qurban tidak lagi dimasukkan dalam panitia, jadi datang hanya untuk menyaksisan prosesi penyembelihanya saja, tapi melihat panitia lumayan kewalahan dalam menjatuhkan sapi sapi yang mulai stress karena dirubung banyak, saya jadi tidak tega dan sebisanya ikut cawe cawe.

Menjatuhkan sapi pertama memang agak lebih susah, disamping karena sapinya lebih besar, juga karena tekniknya yang belum padu, karena masing masing anggota panitia masih belum mendapatkan satu kesepahaman tentang teknik mana yang digunakan. Sapi sapi berikutnya alhamdulillah berjalan lebih lancar tanpa ada insiden yang berarti.

Setelah selesai prosesi penyembelihan saya pulang, tidak lagi melibatkan diri untuk proses selanjutnya, untuk menghindari jangan sampai ada anggapan kalau kita tidak percaya dengan panitia.

Pulang dari masjid dapat kabar kalau Mbah Uti yang tinggal di Sumber sakit, diputuskan Ibu dan Adek Bita berangkat ke Sumber siang ini juga, mudah mudahan Mbah Uti segera pulih begitu didatangi oleh anak dan cucunya.

Di rumah tinggal saya dengan Mbak Syifa, artinya daftar pengguna HP jadi berkurang dua orang, dan saya bisa mulai menulis lagi.

Kalau ada Adek Bita, HP lebih banyak dia yang kuasai, rengekanya dengan ekspresi lucu  dan dengan kalimat yang sama "Ayah, pinjam HP boleh?", lebih intimidatif daripada instruksi dari boss yang mendadak dengan time line yang mendesak. Dan selalu diakhiri dengan kalimat "Maaf ya Ayah, adek bita salah, batre nya habis", sambil menyerahkan HP yang layarnya sudah menjadi gelap.

Selepas dzuhur ada yang mengetup pintu rumah, ternyata salah satu panitia qurban, datang dengan menyerahkan lima kantung daging qurban, ternyata yang ikut qurban mendapat bagian lima kantung, dan rencana sebagianya kami distribusikan untuk tetangga yang belum kebagian kupon.

Terimakasih segenap panitia, good job, menyatukan pendapat banyak orang dengan berbagi latar belakang memang tidak mudah.


Komentar