Anggota sudah sepakat untuk memesan baju seragam khusus untuk departemen kami, bukan seragam resmi dari perusahaan, karena bukan seragam resmi, maka pesanya pakai urunan.
Rencana seragam itu akan kami pakai setiap hari sabtu, hari dimana dibebaskan untuk tidak memakai seragam resmi perusahaan ketika bekerja.
Ide ini sepertinya keluar karena dipanasi oleh departemen lain, beberapa minggu yang lalu tiba tiba kawan kawan dari departemen teknik tampil nggaya, dengan seragam mereka yang membuat pemakainya terlihat lebih berwibawa.
Karena kita pesan sendiri, ukuranya harus pas, jangan seperti seragam resmi yang menggunakan ukuran yang universal, sehingga untuk karyawan yang ukuran badanya tidak biasa jadi terlihat wagu, ada yang ngapret, ada juga yang nglombroh kebesaran baju.
Sebelum betul berul dipesan ada sedikit perdebatan terkait desain dan warnanya, ini wajar, karena baju/pakaian adalah bagian dari identitas diri, bisa mempengaruhi citra pemakainya, karena itu harus dirancang dengan sebaik baiknya. Sama seperti kata pepatah "ajining rogo songko busono, ajining diri ono ing lathi", berharganya badan dari pakaian, berharganya diri adanya di lidah/perkataan.
Beberapa hari yang lalu dikenalkan dengan karyawan baru, dari bagian semacam inspectorat kalau di pemerintahan, yang biasanya diisi oleh orang orang kiriman dari "istana", memang khusus untuk bagian ini, orangnya dipilih lebih karena kepercayaan, makanya diambil dari "orang dalam", untuk kompetensi bisa diasah sambil berjalan.
Perjumpaan kedua dalam rangka orientasi, masih didampingi oleh rekanya yang lebih senior. Diawali dengan ngawe saya dari jarak jauh, seketika sungut saya langsung memanjang, entah mengapa saya selalu sensitif dengen orang yang mlete padahal hanya bermodal katebelece, saya cuekin saja dia, untungnya seniornya yang sudah hafal dengan tabiat saya, segera mengajaknya untuk mendatangi tempat saya.
Perjumpaan berikutnya sudah berani datang sendiri ke ruangan saya, untuk menanyakan beberapa hal, sebagai orang yang peramah baik hati dan penyabar, saya jelaskan dengan panjang lebar dalam suasana yang penuh keakraban, dari manthuk manthuk nya saya berkesimpulan bahwa dia biaa faham.
Lha kok malamnya dia kirim pesan di wa minta kirimkan data dan penjelasan ini itu, lha penjelasan saya sebelumnya sampek berbuih buih itu apa manfaatnya, kalau tidak faham mbok ya ditanyakan saat itu juga. Kali ini bukan sungut saya saja yang jadi panjang, tapi kuping saya juga ikut ikutan jadi memanjang.
Besoknya dia kirim pesan lagi,
" Gimana pak lukman, yang saya minta kemarin, apa ada kendala ?".
Seketika langsung njabrik rambut saya, walaupun hanya tulisan, saya membayangkan dia menuliskannya dengan intonasi yang kemaki dan mbossy, sepertinya anak ini tidak tau unggah ungguh.
" Ada di meja saya ".
Dengan kalimat pendek itu saya berharap bisa memberikan pesan yang kuat bahwa kalau butuh harus datang ke tempat saya.
Sore ini dia datang, ditemani oleh seniornya, sengaja saya terima di meja lab yang lebih luas, sebelum sempat membuka pembicaraan, data yang dia minta langsung saya berikan, basa basi saya arahkan membahas tentang usia, untuk memberi "pesan" kalau mau belajar sama orang tua harus tau tata krama.
Masuk ke topik utama dibuka oleh seniornya, meja di depan saya jadi penuh coretan, saya korbankan sebagai pengganti papan tulis. Eh muncul juga celetukan sengaknya tanda tidak faham, seketika suara saya naik satu oktaf, anggota lab yang ikut mendengar, satu per satu mulai mengundurkan diri, kalimat saya berubah seperti ibu ibu yang kesal mengajari anaknya yang bebal belajar di rumah karena pandemi.
Sesi diskusi jadi berakhir lebih cepat, karena suasananya sudah tidak lagi nikmat, penjelasan saya akhiri dengan pertanyaan dengan nada yang intimidatif,
" Jadi clear kan ?"
Entah faham entah tidak dia terpaksa menjawab,
" Ya pak, clear ".
Pada saat pamitan, seniornya menyempatkan diri membisiki saya,
" Dimaklumi ya pak, orang baru ", dan saya hanya senyum senyum saja.
Saya menduga satu atau dua hari ke depan ada pesan cinta untu saya, " Pak lukman jangan begitu lah, jangan terlalu keras pada mereka, jangan ada anggapan kita tidak bisa bekerja sama", seperti pesan cinta dulu ketika saya pernah beradu senggrang dengan anggota team mereka yang paling garang.
Padahal maksud saya adalah agar mereka cepat beradaptasi dengan "baju" yang mereka pakai, karena saya ikut malu melihat mereka diguyu karena terlihat wagu "kebesaran baju".

Komentar
Posting Komentar