Kehilangan Signal


Tiba tiba hujan agak lebat, masuk kerja lagi selepas istirahat jadi agak terlambat, periksa sana sini untuk memastikan anggota sudah ada di tempat, mulai agak emosi karena sebagian anggota belum bisa dihubungi, tapi masih mencoba untuk mengerti, mungkin karena hujan yang turun tidak pada musimnya, membuat mereka tidak ada antisipasi.


Telpon sana sini, untuk memastikan dimana posisi, karena program kerja harus tetap berjalan, inilah resikonya kalau punya anggota yang lokasinya tersebar, sehingga tidak bisa diawasi secara melekat, hanya bisa mengandalkan alat komunikasi. 


Nomer pertama yang dihubungi langsung putus sebelum sempat bicara, mulai bertanya tanya, apa maksudnya ini, bentuk pembangkangan kah, atau sengaja melarikan diri. 


Mencoba menghubungi nomor lainya, ternyata responya sama, sama sama terputus sebelum sempat berbicara, tidak mungkin mereka bersepakat untuk membuat konspirasi, toh tidak ada alasan yang cukup kuat untuk berniat melakukanya, lagian saya merasa cukup terbuka, terbuka untuk koreksi atau jika ada keluhan, diberikan kebebasan untuk menyampaikan, walaupun kendali disiplin tetap harus ditegakkan.


Mencoba menghubungi nomor lainya ternyata hasilnya sama saja, hati jadi lega sekaligus tidak lega, lega karena kemungkinan bermasalah dengan anggota jadi tidak ada, tidak lega karena mulai terbayang kemungkinan masalah yang lainya, HP nya rusak atau salah setting, lupa belum bayar tagihan kartu halo, atau jaringan telkomsel yang bermasalah.


Kutak katik settingan HP, ternyata masih settingan seperti biasanya, akhirnya disimpulkan ternyata signalnya yang tidak ada, karena ingat betul kalau kartu halonya sudah tidak ada tagihan.


Ternyata bukan hanya saya, hampir semua orang jadi kelimpungan karena hilangnya signal, ternyata ketergantungan orang terhadap signal sangat tinggi, seperti separuh dari kemampuan berkomunikasi jadi lumpuh.


Menjadi tidak jelas sekarang, sebenarnya kemajuan teknologi ini membuat manusia menjadi semakin berkualitas, atau malah sebaliknya, terbukti dari hanya kehilangan signal saja, sudah sangat terasa kehilanganya dan seolah membuat manusia menjadi sedemikian rapuh.


Dulu waktu belum ada HP, Ibu sering "mengetahui" kondisi saya di perantauan dari signal yang beliau tangkap lewat mimpi, terbukti ketika bertemu beliau sering bertanya, "dulu waktu bulan sekian kamu ada apa, kok aku mimpi seperti ini ?".


Signal yang sering ditangkap ibu itu, sukses membuat siasat saya menjadi sia sia, siasat yang tidak ingin membuat ibu menjadi sedih, dengan selalu berpesan sebelum berangkat merantau, "Bu, kalau saya tidak memberi kabar, berarti saya baik baik saka", tujuanya agar Ibu tidak menjadi kepikiran.


Beberapa hari ini, kekuatan signal betul betul saya manfaatkan untuk mengontrol salah seorang anggota yang masih dalam masa pembinaan dan pengawasan. Ini sebenarnya anggota titipan, sudah pernah ditempatkan di beberapa bagian tapi semua asisten dan supervisor nya angkat tangan, bukan orang yang frontal, tapi orang yang bebal, ibaratnya dibakar tidak hangus dan direndam tidak basah, sudah beberapa surat teguran dan surat peringatan tidak membuatnya jadi berubah, dan akhirnya ditempatkan di bagian saya.


Hampir tiap jam dia saya hubungi, untuk memastikan posisi dan kegiatanya, cakupan pekerjaan yang terpisah di beberapa tempat membuat pengawasanya tidak bisa melekat, akhirnya ya itu tadi, menggunakan kekuatan signal.


Seharian kemarin selepas absen dia sudah menghilang tidak kelihatan lagi,  berapa kali dihubungi tidak diangkat, dikirim pesan juga tidak dibalas, dan setelah istirahat siang dia baru muncul, setelah diinterogasi, dengan mimik yang sangat meyakinkan dia beralasan mendadak sakit, dari sorot matanya saya tidak mendapatkan "signal" adanya kebohongan, tapi mempertimbangkan reputasinya, akhirnya diputuskan bahwa dia hari ini tidak dianggap kerja, kecuali bisa menunjukkan surat keterangan sakit dari klinik.


Hari ini dia bekerja dengan semangat, sengaja saya sempatkan waktu untuk mengawasinya dengan melekat, dan setelah digali lebih dalam, ternyata dia punya latar belakang sebagai seorang santri,


" waduh, signal apa lagi ini ?".


Komentar

  1. Santri seng kentir yo ono pak😀👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih pak, butuh pendekatan yang berbeda untuk mengendalikan kekenthiranya.

      Hapus
  2. Dulu sinyal dilatih, sekarang dibeli

    BalasHapus

Posting Komentar