Lengser Keprabon



Kemarin dipamiti senior dan juga guru untuk mengundurkan diri dari dunia kerja, pamitan via WA, karena kami sudah tidak berada di lokasi dan payung perusahaan yang sama lagi.


Sebenarnya sudah menjadi hal yang lazim ketika seseorang yang sudah berada di usia yang senja kemudian memutuskan untuk "lengser keprabon" dan menyerahkan tongkat estafet kepada yang lebih muda.


Tapi yang menjadi sedikit sesalan adalah, proses pamitnya beliau diinisiasi oleh situasi yang kurang sedap, yang membuat reputasi beliau sebagai seorang "suhu" menjadi sedikit terganggu.


"Ass. Ahir bln ini. Sy terahir kerja. Smg ini yg terbaik"


"Waalaikum salam, semoga ada hikmahnya pak, berharap Bapak selalu sehat, untuk tempat kami yang muda2 ini berkonsultasi".


"Aamiin. Silahkan".


Awal perjumpaan dengan beliau tejadi sudah sangat lama sekali, ketika itu saya baru melamar kerja dan beliau adalah ketua tim seleksi yang dikirim dari kantor pusat. Latar belakang beliau sebagai putra daerah, juga posisi beliau sebagi "maha guru" di training center, membuat beliau dianggap sebagai sosok yang tepat untuk mengemban tugas tersebut. Dan setelah proses seleksi dan wawancara yang singkat itu, kami tidak pernah ketemu lagi, karena beliau harus kembali ke tempat tugasnya di training center.


Hingga hampir dua tahun berikutnya beliau mendapat tugas baru, tugas untuk menahkodai pabrik tempat kami bekerja, memimpin kami "anak anak" yang dulu pernah dipilihnya. Waktu itu saya adalah analis yunior di bagian laboratorium, yang ruanganya persis bersebelahan dengan ruang kerja beliau.


Pembawaan beliau keras, tegas dan penuntut, betul betul tipikal orang yang sangat cerdas, membuat sebagian bawahanya menjadi keponthal  ponthal untuk menterjemahkan apa yang beliau pikirkan dan kehendaki.


Salah satunya adalah supervisor kami, yang memimpin tim laboratorium, yang tugasnya adalah menjadi sumber amunisi untuk beliau dalam mengambil keputusan. Irama kerja yang sangat menuntut membuat supervisor kami memilih menyerah dan mengundurkan diri.


Mundurnya supervisor kami menyisakan rasa gentar di hati para senior lainya, hingga tidak ada satupun yang berani ketika dipasrahi mengambil alih posisinya, hingga akhirnya daripada tidak ada, akhirnya saya yang ditunjuk untuk menggantikanya.


Posisi saya sebagai yunior yang harus memimpin para senior, juga tuntutan kerja yang tidak bisa ditunda, membuat beliau menggembleng saya dengan sangat keras, hingga membuat setiap jam sembilan pagi, saya harus permisi ke kamar mandi untuk membuang mual, efek psikosomatik karena sedikit depresi.


Seiring berjalanya waktu, kerena tradisi rotasi dan mutasi, akhirnya kami berpisah. Juga karena saya memutuskan untuk pindah, mencari tantangan baru di lain perusahaan.


Sudah lama tidak berkomunikasi, setelah hampir sepuluh tahun, akhirnya kami dipertemukan kembali, ternyata setelah pensiun dari perusahaan lama, beliau memutuskan untuk kembali menerima tawaran kerja, biar tetap sehat katanya, dan akhirnya bergabung di tempat kami.


Reputasi yang megah, juga taburan puja puji, membuat beliau sedikit terlena karena dikelilingi oleh "jubah kepalsuan" asal bapak senang. Sebagai seorang  "anak" yang pernah beliau besarkan, hati nurani saya terpanggil untuk sedikit mengingatkan, tapi sikap itu, lebih banyak ditanggapi sebagai sebuah perlawanan. Hingga hubungan dengan beliau menjadi merapat merenggang seperti karet gelang. Sampai akhirnya, entah ada hubunganya atau tidak, saya dimutasikan ke lain wilayah.


Sampai akhirnya apa yang saya takutkan terjadi, beliau harus terkena imbas dari "tangan tangan manis" yang seharusnya bisa beliu kendalikan.


Tapi bagaimanapun juga penghormatan saya pada beliau tidak akan pernah habis, karena beliaulah yang mengenalkan dan mengajarkan tentang dunia yang sampai saat ini saya geluti.



Selamat jalan Guruku, terimakasih atas semua ilmu yang pernah engkau ajarkan.

Komentar