Masjid Darussalam: Merawat Mimpi Yang Hampir Padam


Beberapa hari yang lalu dikirimi foto yang berisi gambar masjid dan rumah sebelum direnovasi, dari kualitas gambarnya, sepertinya foto itu diambil sudah agak lama, setidaknya sebelum adanya HP android.


Seketika perasaan saya jadi sentimentil, karena rumah dan masjid itu menyimpan banyak sekali kenangan, juga menjadi saksi ketika masih dalam masa masa mencari dan membangun eksistensi diri.


Masjid itu dibangun sekitar tahun 88 dan diberi nama masjid Darussalam, tapi lebih dikenal dengan sebutan masjid jalur 23, banyak juga yang menyebutnya sebagai masjid Pak Komed, dinisbatkan ke nama panggilan Bapak yang rumahnya bersebelahan dengan masjid.


Menurut penuturan Bapak, bahwa masjid itu dulu pernah jaya, dan pada masa jayanya, ada tokoh sentral yang menjadi magnet yang membuat orang mau datang ke masjid, beliau bukan hanya alim dalam memberikan "tutur", tapi juga masyhur dan "diugemi" ketika memberikan "sembur". Tokoh sentral itu adalah Ustadz Ahmad Zuhri. 


Dan menurut Bapak juga, rasa simpati terhadap beliau itulah yang membuat Bapak memutuskan untuk pindah ke jalur 23, yang terletak di ujung dusun tiga desa sumber agung, membeli tanah yang sebagianya diwakafkan untuk dibangun masjid dan sebagianya lagi untuk dibangun sebagai tempat tinggal. Kebetulan di dusun tiga itu memang jauh dari fasilitas masjid yang dibangun oleh pemerintah ketika pertama kali dibuka sebagai daerah transmigrasi.


Menurut penuturan dulur dulur yang "menangi" masa kejayaanya, masyarakat di dusun tiga adalah masyarakat yang religius dan kompak, sehingga masjidnya lumayan ramai dan makmur, sempat ada madrasah diniyah sore yang diasuh oleh ustadz Ahmad Zuhri, Pak wakijo dan beberapa ustadz lainya.


Lazimnya masjid masjid lainya di pulau rimau yang jamaahnya adalah komunitas transmigran dari jawa, sehingga pernik pernik ritualnya masih mengadopsi tradisi dari masjid masjid di jawa, termasuk bahasa pengantar dalam khutbah jumat, juga bahasa dalam setiap pengajianya.


Berbeda dengan masjid Darussalam, jamaahnya lebih heterogen dan multi etnis, karena dusun tiga dihuni oleh campuran transmigran dari jawa, sunda dan transmigran lokal asli sumatra.


Eksistensi masjid Darussalam gaungnya juga sampai ke desa tetangga, karena letaknya yang berdekatan dengan perbatasan dua desa sekaligus, yaitu desa Rukun Makmur dan desa Rawa Banda, setiap kali terdengar suara adzan atau suara pengajian, mereka pasti sudah menduga bahwa suara itu berasal dari masjid jalur 23 atau masjid Pak Komed.


Sayang sekali masa kejayanya tidak berlangsung lama, jamaahnya terus saja semakin habis, bukan karena orang tidak mau lagi datang ke masjid, tapi karena betul betul pindah dan tinggal ke lain daerah, masyaraktnya yang tidak semunya berlatar belakang agraris, tidak cukup tangguh untuk bertahan ketika hasil pertanian tidak lagi menjanjikan, hanya beberapa KK saja yang tersisa, itupun sebagian lebih memilih mencari penghasilan di kota, seminggu, sebulan, atau bahkan setahun sekali baru bisa pulang.


Sebenarnya Bapak juga mempunyai semangat "hijrah" yang tinggi, semenjak meninggalkan pulau jawa Bapak sudah tiga kali pindah, dan setiap kali pindah selalu mencari lokasi yang dekat dengan masjid, kalaupun dapat lokasi yang jauh dari masjid, beliau akan berusaha menginisiasi untuk berdirinya masjid.


Sama seperti ketika pertama kali datang trans tahun 81 dulu, ditempatkan di jalur 26 primer satu yang juga jauh dari masjid yang disediakan pemerintah, akhirnya, dari hasil gotong dengan warga sekitar, terbangunlah masjid sederhana di depan rumah.


Tapi dengan adanya masjid Darussalam ini, walaupun peluang usaha sudah habis, semangat Bapak untuk pindah seperti "digandoli",  walaupun sangat berat, dipaksakan untuk terus "ngrumat", menjaga pelita yang tinggal sayup sayup kehabisan sumbu itu agar tidak menjadi "padam".


Ketika baru pulang dari jawa dulu tahun 93, masjid sudah sepi, jamaahnya setiap kali sholat jumat tinggal 6 atau 7 orang, penduduknya sudah habis, ada beberapa yang tersisa, kebanyakan ibu ibu dan anak anak, karena suaminya merantau ke luar daerah.


Semenjak kepulangan saya, Bapak menjadi sedikit lega dengan sedikit memindahkan beban, beban "ngrumat" dan "nunggoni" masjid, bahkan sempat merantau beberapa bulan, giliran saya yang jaga, menjadi khotib tiap jumat dan menemani anak anak belajar ngaji setiap hari.


Walaupun bapak bapaknya sudah habis merantau semua,  tapi anak anaknya masih ada, tiap hari masih ada tiga puluhan anak yang datang untuk belajar mengaji. 


Sampai akhirnya, ternyata semangat jiwa muda saya tidak cukup tangguh untuk tetap bertahan, ikut ikutan merantau dan "mengkhiatai" amanat yang harusnya tetap saya genggam. Dan itu menjadi "dosa" dan penyesalan yang sampai saat ini belum bisa terobati.


Sekarang kondisi sudah berubah, mencari penghasilan di pulau rimau sudah tidak lagi susah, bangunan masjid sudah direnovasi, tapi jamaahnya tetap belum berubah, tetap sepi.


Tanah tanah yang dulu ditinggalkan sekarang dikuasai oleh orang orang kaya, yang membeli hanya untuk investasi, bukan untuk ditinggali.


Dalam beberapa kali kesempatan pulang ke pulau rimau, ketika "leyeh leyeh" selepas sholat berjamaah, sempat tercetus dalam diskusi bersama Bapak, jika mengharapkan masjid menjadi ramai kembali seiring bertambahnya penduduk, sepertinya bakal memakan waktu yang sangat lama, cara lainya adalah dengan membuat lembaga pendidikan, yang menarik jamaah untuk datang.


Itulah mengapa Bapak menjadi antusias ketika sebagian anaknya mau tinggal di lingkungan masjid, ada anak ke empat yang sudah lama nyantri, ada anak ke lima yang ahli dalam bangunan, juga anak ke enam yang punya pengalaman di lembaga pendidikan. Ditambah lagi Lek Jainul, tetangga baru yang datang dari lampung, seorang pegiat dakwah dengan bekal yang mumpuni.


Lahan sudah tersedia, sumber daya sudah mulai ada, tinggal lagi untuk menantang nyali, untuk kembali berani bermimpi.


Entah sampai kapan "hutang" kepada yang sudah "berjariyah" di masjid ini bakal terlunasi, dengan memastikan apa yang sudah dijariyahkan betul betul termanfaatkan.


Semoga Gusti Allah Sang Pemilik Rumah masih "kerso" paring pengampunan, atas kelalaian kami menjaga dan "ngrumati" amanat ini.

Komentar

  1. Masjid memang harus berevolusi terus pak Luk. Mudah mudahan cita citanya menjadi episentrum baru pendidikan Islam dapat terwujud,

    BalasHapus

Posting Komentar