Semua orang bisa merasa menjadi orang baik, menurut ukuran dan versinya masing masing, dan juga bisa menjadi tidak baik jika diukur dengan ukuran dan versi orang lain.
Seorang polisi, bisa dianggap sebagai orang baik jika diukur dan berdasarkan kaca mata masyarakat yang dilindunginya, tapi seketika berubah menjadi tokoh antagonis yang sangat dibenci, ketika dilihat dari kacamata seorang pencuri.
Seorang konglomerat yang hartanya trilyunan rupiah, mungkin belum dianggap sebagai seorang dermawan ketika menyedekahkan puluhan atau ratusan juta dari hartanya, tapi seorang nenek pemulung, akan dipuja kedermawananya ketika berkurban seekor kambing dari penghasilan yang disisihkan sedikit demi sedikit, sisa dari yang dimakan. Padahal nilai dari seekor kambing, hanya sepersekian ratus dari nilai yang disedekahkan oleh sang konglomerat.
Untuk itulah dibutuhkan norma atau nilai nilai yang ditetapkan agar prestasi atau pencapaian akan sebuah kebaikan itu bukan hanya sekedar klaim pribadi semata.
Begitu juga dalam dunia kerja, sebuah prestasi atau kontribusi, bukan hanya diukur dari nilainya saja, tapi juga dari posisi dan tanggung jawab yang ia miliki.
Dua hari ini disibukkan dengan terlibat dalam penyusunan KPI (Key Performance Indicator), sebagai panduan dalam melakukan penilaian, agar penilaian tidak lagi subyektif yang rawan dipengaruhi oleh perasaan suka atau tidak suka. Tapi lebih berdasarkan kepada pencapaian pencapaian yang terukur dengan target target yang sudah ditetapkan.
Tujuan disusunya KPI adalah agar menjadi jelas, siapa, tugasnya apa, dan targetnya apa, dengan target yang terukur dengan angka angka, juga memberikan jenjang skor, jika target itu tidak tercapai sepenuhnya, untuk menentukan seberapa besar apresiasi akan diberikan, atau punishment yang akan dijatuhkan.
Sederhananya, KPI ibarat takaran yang harus dipenuhi, setiap posisi mempunyai takaranya sendiri sendiri, juga dengan ukuranya sendiri sendiri.
Seorang manager misalnya, tentu takaranya lebih besar jika dibandingkan dengan asisten manager, begitu juga jika dibandingkan dengan supervisor, operator atau helper. Ukuran takaranya semua disesuaikan dengan tanggung jawab dan kewenanganya. Tapi semua targetnya sama, harus bisa memenuhi takaranya baru dianggap sukses dan berprestasi.
Jadi akan menjadi lebih mudah dan obyektif dalam menilai, tinggal mengukur seberapa penuh takaranya berisi.
Yang susah untuk menjadi benar benar obyektif adalah justru ketika menyusun KPI, ketika menetapkan target targetnya, ketika menentukan ukuran takaran, apalagi takaran untuk diri sendiri, atau untuk anggota tim yang ditanggungjawabi. Ternyata untuk menjadi benar benar adil tidak semudah yang dibayangkan, karena banyak sekali variabel yang harus dipertimbangkan.
Begitu juga dalam menilai kesuksesan kehidupan dunia, sebagai bekal dalam menjalani kehidupan yang setelahnya (akhirat), Tuhan juga membekali kita dengan takaran, sesuai dengan nikmat dan sumber daya yang sudah diberikan.
Seringkali kita menyangka bahwa bekal kita sudah melimpah, tanpa menyadari seberapa besar ukuran takaran kita, tanpa menyadari bahwa sebenarnya kita adalah "konglomerat nikmat", nikmat dari beraneka ragam sumber daya yang kita miliki, nikmat dari sehat, nikmat dari waktu, nikmat tenaga, nikmat dari kesempatan, nikmat dari harta, nikmat dari ilmu, dan nikmat dari berbagai sumber lainya.
Atas bekal yang sudah kita kumpulkan, atas nikmat yang sudak kita rasakan, atas waktu yang sudah kita habiskan, atas kesempatan yang sudah kita dapatkan, atas ilmu yang kita fahami, beranikah kita merasa berprestasi, di hadapan "KPI" nya Tuhan Yang Maha Teliti?
Mari kita coba evaluasi, seberapa banyak nikmat yang kita syukuri, seberapa banyak waktu yang berjalan dengan tidak sia sia, seberapa banyak kesempatan yang tidak kita lalaikan, seberapa banyak ilmu yang membawa maslahat?
Selagi masih ada kesempatan, mari untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan diri, karena tidak ada yang tau pasti, kapan kesempatan itu akan ditutup, dan bekal itu akan dikalkulasi.

Mesti menyusun KPI nya penulis berprestasi ni😀👍👌
BalasHapus