Menjadi Pekebun, Tersesat di Jalan Yang Terang.


Awal mula memasuki dunia kerja di perkebunan kelapa sawit adalah tahun 1996, ketika itu kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, juga kondisi lingkungan yang kurang mendukung untuk bisa tumbuh dan berkembang. Di saat yang sedang seperti itu, ada agen tenaga kerja yang datang, mencari tenaga kerja untuk dipekerjakan di perkebunan kelapa sawit di daerah lubuk linggau. Dengan berbagai pertimbangan, walaupun agak berat akhirnya diputuskan untuk ikut berangkat.


Kami berangkat dari pulau rimau sekitar 60 orang, waktu itu memang pulau rimau adalah sumber tenaga kerja yang mudah dan murah, karena memang kondisi di pulau rimau sedang susah mencari penghasilan. Hampir di semua perusahaan perkebunan di wilayah sumatra selatan, jambi, riau ada tenaga kerja dari pulau rimau.


Kami diberangkatkan dengan menggunakan 3 unit bus, melewati jalur lintas timur sumatra menuju jambi, baru kemudian berbelok ke arah lubuk linggau.


Tujuan kami adalah kebun Sei Hitam yang berlokasi di sekitar wilayah trans subur kecamatan karang dapo.


Setiba di lokasi kami ditempatkan di barak barak panjang dari kayu, masing masing barak terbagi menjadi beberapa pintu, masing masing pintu terdiri dari satu ruangan tanpa kamar, plus satu ruangan yang lebih kecil untuk dijadikan dapur. Masing masing pintu diisi oleh sekitar lima belas orang, jadi suasananya betul betul semrawut, lebih semrawut dari kondisi di gothaan waktu masih di pondok dulu.


Ketika menjelang jam 04.00 dini hari, suasana sudah riuh, riuh oleh persiapan untuk kerja, memasak untuk bekal keja seharian, karena jam 05.00 setelah subuh sudah harus absen dan mendapatkan pembagian kerja.


Karena perusahaanya adalah warisan dari perusahaan asing, jenis jenis pekerjaan atau activity nya jadi terdengar keren, ada weeding, spraying, manuring, planting, opening cyrcle, manuring, pulling out woody growth, lining dan lain sebagainya, tapi pada kenyataanya itu semua adalah pekerjaan kasar yang menggunakan alat parang dan cangkul, yang memeras keringan dan tenaga, juga menggetarkan dengkul.


Untuk apa yang sudah kami kerjakan, kami mendapatkan upah Rp 3,800 plus beras setengah kilogram setiap hari, yang dibayarkan setiap dua minggu sekali.


Dapat dua kali gajian, sebagian orang sudah mulai tidak tlaten dengan dibayar harian, salah satunya adalah Kang Kosim, dulu waktu masih tinggal di jalur 15 beliau adalah tetangga depan rumah, Kang Kosim jugalah yang pertama kali menawariku untuk ikut kerja di kebun, dan dipasrahi ibu untuk jadi mentorku.


Akhirnya Kang Kosim menghadap Asisten divisi untuk meminta pekerjaan borongan, dan mendapat borongan tanam, saya diajak serta, kalau tidak salah waktu itu upahnya Rp 250 per batang, mulai dari ngecer bibit yang diletakkan di pinggir jalan blok sampai menggali lobang dan menanam bibit sawit tersebut.


Kang Kosim posturnya tidak terlalu tinggi, tapi badanya gempal berisi, tipikal pekerja keras dari madura yang tenaganya tidak ada matinya, saya sering keponthal ponthal mengikuti irama kerjanya.


Lama lama saya jadi tidak enak hati terus terusan ngrepoti Kang Kosim, kasihan beliau sering nomboki hasil kerja saya yang tidak seimbang dengan hasil kerja beliau, akhirnya saya minta izin memisahkan diri, mencoba mempelajari pekerjaan lain yang lebih sesuai, kebetulan ada yang menawari, pekerjaan itu adalah mancang, atau lining, atau ngajir, mengatur jarak tanam.


Mancang itu pekerjaan yang lebih ringan, alat kerjanya hanya meteran, lebih mengandalkan ketrampilan dan sedikit pengetahuan, tapi di tuntut untuk presisi, jadi walaupun luas kebunya ribuan hektar, bentangnya sekian kilometer, tapi barisan tanaman sawitnya tetap lurus thirik thirik rapi.


Biasanya jarak tanam antar sawit itu membentuk pola segitiga sama sisi dengan panjang sisinya 9 meter, atau pola segi enam yang panjang masing masing sisinya 9 meter, juga panjang jari jari dari sudut sisi ke sumbunya sama 9 meter, persis sama seperti pola garis dan titik di permainan halma. Pola itulah pola yang paling adil bagi akar tanaman, dalam berbagi wilayah untuk mencari makan.


Karena mancang adalah skill yang unik dan agak langka, maka kami tim tukang mancang sering jadi rebutan beberapa divisi, sering dalam waktu satu minggu harus melayani tiga divisi yang berbeda, karena itulah jatah beras kami jadi lebih banyak, karena setiap divisi memberikan beras jatah. Karena tidak pernah habis, sisa beras itu kami bagikan ke pekerja lain yang kekurangan beras karena membawa serta anggota keluarganya ke kebun.


Setelah berjalan sekitar satu tahun, lokasi yang mau dipancang sudah hampir habis, akhirnya mencoba melamar untuk jadi mandor di divisi dan alhamdulillah diterima.


Karena hanya berbekal ijazah aliyah dan tidak punya latar belakang sekolah pertanian, jadi agak banyak yang harus dipelajari untuk mengejar ketertinggalan.


Mulailah belajar jenis jenis pupuk dan jadwal pemupukanya, belajar jenis jenis gulma dan cara pengendalianya, belajar jenis jenis herbisida dan dosis pemakaianya, belajar norma alokasi tenaga kerja, belajar jenis hama dan cara pengendalianya.


Sampai akhirnya krisis itu datang, krisis ekonomi di akhir 1998, semua terimbas, termasuk perusahaan perkebunan, semua pekerjaan perawatan dihentikan, status saya yang belum diangkat sebagai karyawan bulanan juga ikut terancam.


Di saat kondisi yang penuh ketidakpastian, muncul satu harapan, pabrik pengolahan kelapa sawitnya sudah hampir jadi dan siap untuk beroperasi.


Mencoba untuk melamar jadi karyawan pabrik, dari dua ratusan yang ikut tes tulis, tersaring tiga puluh orang yang lolos untuk wawancara, dan saya kebagian urutan yang terahir di hari ke tiga.


Hari sudah sore, waktu sudah hampir habis ketika dipanggil masuk ke ruangan wawancara, dibuka dengan pertanyaan tentang identitas diri, dan karena mengetahui sebagai alumni aliyah, saya disuruh ngaji, saya bacakan saja surat alfatihah, setelah itu tidak ada pertanyaan lagi, wawancara selesai.


Dalam hati saya jadi sedikit kecewa, sepertinya si pewawancara sengaja meragukan pengetahuan saya selain pengetahuan agama.


Tapi ternyata saya hanya suudzon saja, karena nama saya termasuk dalam daftar delapan belas orang yang diterima sebagai karyawan. Ditempatkan di posisi yang "istimewa", posisi sebagai "office boy" merangkap "sample boy". Dan posisi itu adalah tahap awal dan juga pondasi, untuk menapaki tahapan tahapan berikutnya.


Itulah awal perjalanan karir bekerja di pabrik kelapa sawit, hingga akhirnya sampai pada tahap yang sekarang ini. Apapun capaianya, sungguh sudah menjadi manusia yang tidak tahu diri kalau tidak disyukuri.


Bekerja di kebun sawit dengan bekal sekolah agama, mungkin adalah sebuah "ketersesatan", tapi saya meyakini bahwa saya sedang tersesat di jalan yang terang. Karena ternyata "nilai" yang diajarkan di sekolah agama bisa bersifat lebih universal, bisa diamalkan dimana saja, di hampir semua lini kehidupan. Dan juga karena ternyata medan dakwah terbentang sedemikian luasnya.


Karena itulah, tidak ada alasan untuk ragu untuk menyekolahkan anak anak kita di sekolah sekolah agama, sebagai bekal pengetahuan untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat. Untuk kehidupan di dunia, cukuplah Allah Sang Maha Perencana yang akan mengaturnya, tentu harus disertai dengan ikhtiar sekuat tenaga.

Komentar

  1. Cobak nek sampean moco Yasin, ceritane dadi dowo๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo sido kemaghriban pak, mesakne seng wawancara๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

      Hapus

Posting Komentar