Belakangan ini saya sangat asyik terlarut dalam kenangan kenanga masa lalu, bukan dalam rangka melarikan diri dari realita masa sekarang, tapi memang sengaja dieksplorasi, diperas dan diambil sisi menariknya untuk dijadikan bahan tulisan. Bukan hanya menarik, tapi juga harus membidiknya dari sudut pandang yang bisa memberikan nilai yang positif.
Menulis kenangan masa lalu itu lebih mudah dan lebih nikmat, karena semua kenangan adalah indah, sepahit apapun pengalaman masa lalu, tetap akan menjadi kenangan yang indah, jika kita melihatnya dari sudut pandang yang benar, seperti sudut pandang sukur, bersukur karena masa pahit itu telah terlewati, atau melihatnya dari sudut pandang untuk dijadikan pelajaran, agar menjadi lebih baik dan lebih berhati hati lagi.
Banyak kisah sukses orang yang "menuliskan" masa depannya dengan menggunakan kepahitan pengalaman sebagai "tintanya". Berbekal dengan kekecewaan atas kenyataan, atau "ketersinggungan" atas keadaan yang sangat "mengejek", kemudian menyimpanya sebagai "dendam" untuk dijadikan bahan bakar untuk terus berusaha dengan keras agar bisa membuktikan eksistensi dirinya dan kemudian menjadi sukses.
Mungkin inilah bentuk dari rasionalisasi mengapa orang yang terdzolimi atau berada dalam kepahitan, lebih mudah doanya untuk dikabulkan. Karena orang yang berada dalam kepahitan mempunyai energi rohani yang kuat sehingga doanya mudah untuk didengarkan, juga mempunyai spirit yang tinggi untuk berusaha dengan keras untuk membuktikan diri.
Dulu waktu masih di bangka, saya punya anggota yang susah sekali untuk diarahkan, mungkin karena dasar orangnya sangat cerdas sehingga egonya menjadi tinggi, beberapa kali dinasehati malah terkesan "ngece", ini tidak bisa dibiarkan, karena akan berdampak pada kekompakan tim, akhirnya saya hukum dengan menempatkanya di posisi yang sangat sangat tidak bergengsi.
Reaksinya sudah bisa diduga, protes keras dia, dan menuduh keputusan saya karena ketidaksukaan secara pribadi, bukan karena masalah kerja, walaupun sudah dijelaskan tetapi tetap tidak bisa terima, tapi saya tetap kekeuh.
Akhirnya dengan gaya sok bijak saya tantang dia, "anggap saja saya memang tidak suka secara pribadi kepadamu, dan ingat baik baik, catat sebagai dendam dihatimu, dan buktikan bahwa suatu saat nanti kamu bisa lebih sukses dari saya, dan jika saat itu sudah datang, kamu bisa kembali lagi untuk meludahi muka saya".
Setelah beberapa waktu menjalani "hukumannya" secara ogah ogahan, karena alasan yang tidak bisa saya ceritakan, akhirnya dia berhenti dan meninggalkan pulau bangka.
Beberapa bulan yang lalu, setelah kurang lebih sepuluh tahun, ada yang mengirim pesan di WA saya dari nomor yang belum tersimpan.
" Assalamualaikum pak, saya Dino ".
" Wa alaikum salam, Dino yang pernah kerja di bangka dulu ya ?".
" Ya pak, Saya sekarang tinggal di kota A ".
" Sudah sukses sekarang Dino ?"
" Alhamdulillah pak, kalau main ke kota A mampir ya pak, hubungi nomor saya ".
" Ya Insyaallah ".
Rupanya tantangan saya benar benar dimanfaatkanya sebagai bahan bakar untuk "menuliskan" masa depanya yang sukses.
Dalam hati saya berfikir, seandainya suatu saat saya dikabulkan untuk berkunjung ke kota A, sepertinya saya harus memakai face shield untuk pelindung muka.
Note:
Nama dan tempat sengaja disamarkan (bukan nama sebenarnya).

Komentar
Posting Komentar