Merawat itu berat, karena dibutuhkan semangat yang kuat, sering kali kita berfikir terlalu sederhana, ibarat bercocok tanam, kita hanya berfikir tentang "menanam" dan kemudian mendapatkan hasilnya atau "panen".
Padahal butuh proses yang sangat panjang dari mulai "menanam" sampai untuk mendapatkan "hasil", proses panjang yang membutuhkan lebih banyak sumber daya daripada sekedar "menanam", tapi sering kali kita menjadi abai dan tidak memasukkanya dalam kalkulasi ketika mengharapkan "hasil". Proses panjang itulah yang disebut "merawat".
Dalam konteks ibadah atau amal kebaikan, ketika kita membayangkan akan fadhilah dan keutamaanya, sering kita menjadi semangat untuk memulainya ("menanam"), tapi sering kali juga membiarkan "tanaman" ibadah itu menjadi layu karena lalai untuk istiqomah dalam "merawatnya".
Berkaca pada diri sendiri, dalam banyak kesempatan, saya sering mendapatkan momentum untuk dengan semangat berniat untuk merutinkan membaca Al Quran, tapi bacaan itu tidak pernah sampai khatam karena semangatnya seringkali menjadi layu di tengah jalan. Untungnya momentum itu masih mau datang lagi seiring dengan naik turunya gelombang iman yang kadang naik dan lebih sering turun.
Karena untuk "merawat" dibutuhkan semangat yang terus menerus, maka semangat pun harus selalu dirawat agar tetap tumbuh, dirawat dengan diberikan "nutrisi" yang salah satunya berupa apresiasi, dan apresiasi yang paling mudah didapatkan adalah apresiasi dari diri sendiri.
Semangat juga harus dijaga dari hama yang menggerogoti, hama tersebut bisa berupa ekspektasi yang terlalu tinggi yang sulit untuk dicapai, atau bisa juga berupa ganjalan ganjalan kecil, karena disepelekan dan tidak lekas dilawan, akhirnya menjadi terakumulasi dan sulit untuk dilawan.
Perlu untuk terus merefresh niat agar semangat tetap terjaga, perlu sedini mungkin mengatasi hambatan sebelum akhirnya membelenggu dan menjadi beban.
Salah satu penyebab kegagalan saya dalam menggapai cita cita adalah karena gagal merawat semangat untuk menjaga konsistensi, juga menunda nunda mengatasi hambatan hambatan hingga akhirnya terkubur dalam rimbunya kemalasan.
Karena pada dasarnya setiap kita dibekali dengan energi dan potensi, tinggal bagaimana terus menggali potensi, agar energi kita selalu terbarukan.
Hari ini libur tidak kerja, memanfaatkan waktu dengan memberi perhatian lebih pada tanaman di sekeliling rumah yang jumlahnya sudah lumayan, ada enam batang nanas yang sudah menunjukkan calon buahnya, juga satu batang pisang yang sudah mulai mekar jantungnya, menemani satu batang lagi yang buahnya mulai berisi.
Menyempatkan diri untuk menambah koleksi dengan menanam beberapa butir bibit rosela, sambil menunggu masuknya waktu maghrib, waktunya untuk "merawat tanaman akhirat".

Pengalaman saya pak, api semangat terpelihara jika visi/impian kita buat jelas dan nyata. Kelas saya masih kelas dhohir😀👌
BalasHapusMatur nuwun tips nya pak, belajar banyak dari orang orang sukses dalam istiqomah seperti njenengan.
Hapus